Sunday, 21 December 2014

Harapan di Tengah Kesesakan Masa Kini: Mewujudkan Injil Pembebasan

image001-1INJIL yang kita beritakan bukanlah Injil Yesus Kristus jika tidak berpihak pada mereka yang menjadi korban perbuatan dosa—kaum miskin dan tertindas.

Belajar dari situasi dan pengalaman Afrika Selatan, Albert Nolan— populer dengan bukunya Jesus Before Christianity dan Jesus Today—tahu di mana letak kelemahan orang yang mengalami situasi tidak adil, tertindas, penuh kekerasan dan eksploitasi: sikap acuh tak acuh dan pesimisme yang merebak.

Buku ini banyak berbicara tentang situasi pasca-Apartheid yang, berkebalikan dengan harapan sebelumnya, justru menimbulkan situasi yang buruk, misalnya korupsi, nepotisme, kekerasan, kejahatan, dll. Albert Nolan berusaha menunjukkan kemungkinan untuk tetap berharap di balik semua kemunduran itu. Harapan selalu ada di setiap hati orang beriman, namun Nolan ingin agar hal itu tidak terbungkus diam, tetapi menjadi suatu struktur kokoh dalam hidup bermasyarakat.

Untuk mengguratkan hal ini, ia dengan telaten dan lancar memandu kita tahap demi tahap menelusuri perjalanan teologi kontekstual di Afrika Selatan. Ia membangun argumennya dari pengalamannya melayani dan berteologi di situ. Teologi kontekstual yang diceritakan Nolan ialah teologi yang juga melampaui konteksnya, sehingga bermakna bagi kita di Indonesia.

Dengan menguraikan pembacaan atas Alkitab secara mendalam, serta dengan kata-kata yang bernas dan tajam, Nolan memberikan wawasan yang mencerahkan: makna “pengharapan Kristen” yang sejati dan juga jati diri Allah yang sebenarnya dalam situasi tidak adil masa kini—Allah yang berpihak pada kaum miskin dan tertindas adalah dasar pengharapan kita.

Melalui buku ini, Nolan menantang semua pengikut Kristus untuk tidak hanya melandaskan harapan pada spiritualitas pembebasan ilahi yang diwartakan oleh Yesus, tetapi juga untuk berani bertindak di tengah zaman yang seolah-olah tidak ada harapan ini, sehingga pembebasan sejati—pribadi dan sosial—dapat terwujud.

Buku ini relevan dengan kondisi di Indonesia dan bermanfaat bagi siapa saja yang prihatin dan peduli atas situasi yang tidak adil dan tak berpengharapan.

Buku apik ini menyingkapkan—dalam bahasa yang dipahami semua orang—makna dan kekuatan Injil bagi situasi historis masa kini. Buku ini memperlihatkan bahwa bahkan dalam krisis budaya dan ekonomi, Yesus tidak akan membiarkan kita berputus asa.

(Gregory Baum, Guru Besar Emeritus bidang Teologi di McGill University dan Penulis Religion and Alienation).

Albert Nolan OP lahir di Cape Town, Afrika Selatan pada 1934 dan bergabung dengan Ordo Dominikan pada tahun 1954. Turut menandatangani Dokumen Kairos (1985) yang sangat berpengaruh dalam gerakan melawan rezim apartheid di Afrika Selatan, ia memperoleh penghargaan Order of Luthuli (2003) dari pemerintah Afrika Selatan berkat perjuangannya yang lama demi demokrasi, hak asasi, dan keadilan di Afrika Selatan. Ia menulis buku yang di antaranya menjadi klasik: Jesus Before Christianity, God in South Africa, dan Jesus Today.

—————–

  • Judul: Harapan di Tengah Kesesakan Masa Kini: Mewujudkan Injil   Pembebasan
  • Penulis: Albert Nolan OP
  • Tebal: xxii + 220
  • Penerbit: BPK Gunung Mulia
  • No. ISBN: 978-979-687-782-9
0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Harapan di Tengah Kesesakan Masa Kini: Mewujudkan Injil Pembebasan"

Response on "Harapan di Tengah Kesesakan Masa Kini: Mewujudkan Injil Pembebasan"