Happy Problem (2)

(sambungan)2. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannyaTidak satupun dari kita tahu apa yang terjadi didepan. Satu-satunya cara kita untuk tahu adalah melalui iman, sebab Ibrani 11:1 mengatakan “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kit…

(sambungan)

2. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya

Tidak satupun dari kita tahu apa yang terjadi didepan. Satu-satunya cara kita untuk tahu adalah melalui iman, sebab Ibrani 11:1 mengatakan “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Dengan iman kita bisa melihat keberhasilan kita, tapi tanpa melakukan apa-apa atau tidak maksimal dalam mengerjakan maka tidak ada satupun yang pantas kita harapkan. Meski sulit, penuh kendala dan tantangan yang tidak ringan, tapi kalau itu memang merupakan panggilan atau bagian kita, maka kerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Libatkan Tuhan disana, pergunakan semua yang sudah dilengkapi Tuhan untuk memberi hasil terbaik. Mungkin saat ini pekerjaan itu hanya terlihat bagai onggokan masalah yang menyusahkan hidup kita, bisa jadi kita sepertinya rugi, tetapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti? Kalau kita sudah melakukan yang terbaik sesuai dengan rencana Tuhan, maka percayalah satu persatu jalan akan dibukakan Tuhan bagi anda untuk terus menapak naik.

Tuhan sangat memperhatikan proses, Tuhan ingin setiap proses kita selesaikan dengan baik, dari satu fase/episode ke yang berikutnya, sampai semua rencanaNya bagi anda menjadi kenyataan. Ada sekuens dari satu kejadian kepada kejadian berikutnya yang akan saling berhubungan, karenanya kalau kita tidak melewati satu sekuens maka sekuens berikutnya akan luput dari kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi satu hal yang pasti: dengan mata iman kita tahu bahwa selama kita berjalan sesuai dengan ketetapanNya, melakukan yang terbaik dan terus mengucap syukur diatasnya, sesuatu yang positif bahkan luar biasa sudah menanti di depan sana. Dengan menyadari itu, tidak ada alasan bagi kita untuk bersusah hati, bersungut-sungut atau merasakan hal-hal lainnya yang menekan sukacita kita.

Di dalam Amsal ada sebuah ayat yang berkata: “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” (Amsal 15:13). Ayat lainnya berbunyi: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang gembira, itu adalah obat yang manjur dan menjaga kita agar tetap memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Baik dalam artian kita bisa berprestasi, juga baik dalam artian kita tetap sehat dan bugar karena terhindar dari berbagai penyakit seperti stres, depresi hingga serangan jantung atau stroke yang banyak diakibatkan oleh suasana hati yang tidak gembira dalam bekerja.

Bisa saja ada di antara kita yang sekarang mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya. Mungkin ada yang merasa kecewa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, itu tergantung bagaimana anda melihatnya. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Pekerjaan yang paling kecil sekalipun selama tidak bertentangan dengan Firman Tuhan bisa dijadikannya sebidang lahan yang subur untuk ditaburi berkat. Apa yang diminta dari kita sesungguhnya adalah melakukan pekerjaan sungguh-sungguh dengan segenap hati, serius, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23).

Pengkotbah mengatakan: “Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?” (Pengkotbah 3:22). Tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada bergembira dalam pekerjaannya. Mengapa? Sebab (1) itu adalah bahagiannya, (2) kita tidak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya. Bukankah kalau kita tidak bersukacita/bergembira atas pekerjaan yang notabene merupakan berkat dari Tuhan, itu artinya kita tidak mensyukuri berkatNya? Oleh karena itu marilah kita ingat baik-baik bahwa meski pekerjaan bisa jadi bertambah tingkat kesulitannya dan memusingkan kita, tetapi jangan sampai sukacita dan kegembiraan itu hilang lenyap dari dalam hati kita. Take it as a happy problem and do your best in it. 

Bergembiralah dalam bekerja, nikmatilah itu sebagai bentuk kasih Tuhan atas diri anda

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply