Happy Problem (1)

Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22=============================”Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi …

Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22
=============================
“Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?”

Pekerjaan bisa begitu menyita tenaga fisik, otak, maupun waktu. Apalagi kalau pekerjaan sedang memasuki fase-fase yang sulit. Deadline sudah dekat, tapi inspirasi belum keluar, urusan belum kelar dan sebagainya. Itu bisa membuat kita stres. Ada juga yang merasa bahwa usaha yang dikeluarkan tidak sesuai dengan pendapatan. Ada yang bermasalah dengan atasan yang kasar, otoriter atau memerintah seenaknya sehingga yang dikerjakan tidak lagi sesuai job description yang sudah disepakati sejak awal. Ada yang merasa kesulitan akibat berdomisili jauh dari tempat kerja. Dan banyak lagi masalah-masalah dalam pekerjaan yang bisa membuat kita kehilangan sukacita. Bagaimana mau bergembira kalau masalahnya sebanyak itu? Seperti itulah yang sering saya dengar dari banyak orang. Ada seorang teman yang memiliki pandangan berbeda. Ia menganggap masalah dalam pekerjaan sebagai sebuah ‘happy problem’. “Memang problem, tapi itu happy problem. Problem muncul karena ada peluang disana, setidaknya itu muncul dalam pekerjaan dan bukan karena tidak melakukan apa-apa. Itu waktunya untuk belajar, itu juga waktunya untuk mengalami campur tangan Tuhan.” katanya. Itu sebuah pandangan yang sangat menarik, yang bisa menginspirasi mereka yang saat ini sudah kehilangan sukacita dalam/akibat pekerjaan dan profesinya.

Ada banyak contoh di dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa dalam menjalankan panggilan sesuai rencana Tuhan, akan ada saat-saat sulit yang harus disikapi secara baik, benar dan dewasa, mulai dari Abraham, Daud, Yosafat, Gideon, Yosua sampai Paulus, Silas dan para rasul lainnya. Dari kisah-kisah mereka kita melihat bahwa kesulitan bisa saja muncul bukan dengan tujuan buruk tetapi untuk membentuk kita menjadi orang yang lebih baik dalam penggenapan rencana Tuhan yang indah yang sebenarnya sudah menanti di depan sana. Mengganggap pekerjaan sebagai beban akan segera merebut sukacita dari dalam diri kita, dan itu bukanlah sesuatu yang diinginkan Tuhan. Bukankah menyedihkan jika Tuhan sudah menyediakan berkat kepada kita lewat pekerjaan tetapi kita malah kehilangan sukacita didalamnya?

Apa yang terlihat dari tukang parkir ini merupakan cerminan dari bagaimana seharusnya kita menyikapi pekerjaan. Pengkotbah menulis:  Perhatikanlah bahwa ditengah banyaknya alasan untuk cinta atau tidak terhadap profesi atau pekerjaan, Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam bekerja. Coba pikir, jika kita tidak bahagia dengan pekerjaan, apakah ada gunanya? Adakah yang lebih baik yang bisa kita peroleh? Kalau kita terus mengeluh sepanjang hari, merasa kasihan terhadap diri sendiri karena menganggap bahwa pekerjaan yang sekarang kurang bergengsi atau kurang besar pendapatanya, lalu merasa kesal bahkan marah terhadap situasi itu, adakah semua ini membawa manfaat atau malah membuat performance kerja kita menurun, mengganggu/merugikan orang lain bahkan bisa pula mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri?

Ayat bacaan hari ini mengungkapkan dengan jelas bahwa Tuhan tidak ingin kita kehilangan sukacita dalam bekerja. “Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?” (Pengkotbah 3:22). Pengkotbah menyampaikan sebuah pesan yang sangat penting, bahwa kita harus tetap menjaga agar kegembiraan, happy feeling, joyful, sukacita, tetap ada dalam melakukan pekerjaan kita. Mengapa? Ada dua alasan yang disampaikan di dalam ayat ini, yaitu:
1. Itu merupakan bagian kita
2. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya

1. Itu merupakan bagian kita
Itu merupakan bagian kita, itu artinya merupakan bagian dari rencana Tuhan yang memang harus kita jalani. Itu merupakan bagian kita, itu artinya merupakan panggilan kita. Itu merupakan bagian kita, itu artinya merupakan tugas yang harus kita selesaikan dengan sebaik-baiknya. Bisa jadi saat mengerjakannya kita akan bertemu dengan kesulitan, kendala maupun hal-hal sulit lainnya, tetapi jangan lupa bahwa Tuhan sudah membekali setiap kita dengan segala yang diperlukan untuk menyelesaikan semuanya dengan baik. Dalam Keluaran 35-36 kita bisa melihat hal tersebut, yaitu dalam kisah pembangunan Kemah Suci yang dipimpin oleh Musa. “Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab, dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian, sehingga ia tahu melakukan segala macam pekerjaan untuk mendirikan tempat kudus, tepat menurut yang diperintahkan TUHAN.” (Keluaran 35:30-31). Bezaleel dan Aholiab adalah dua orang yang kepadanya diberikan tugas untuk membangun Kemah Suci. Tuhan tidak sekedar menyuruh, tapi Dia membekali dengan Roh Allah yang memberi keahlian, pengertian dan pengetahuan agar mampu mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan itu. Tidak hanya itu, tapi Tuhan pun memberikan kepandaian untuk mengajar agar orang lain pun bisa mendapat ilmu dari apa yang mereka miliki. “Dan TUHAN menanam dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar.” (ay 34). Dan kemudian dikatakan “Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab, dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian, sehingga ia tahu melakukan segala macam pekerjaan untuk mendirikan tempat kudus, tepat menurut yang diperintahkan TUHAN.” (36:1).

Tuhan telah melengkapi setiap orang untuk berhasil dalam menggenapi rencanaNya secara sangat detail, bahkan jauh sebelum kita sendiri mengetahui apa yang menjadi panggilan buat kita. Dia memberikan bekal, Dia memberikan modal, Dia membuka kesempatan, Dia memberkati dan terus ada bersama dengan kita. Bukankah dengan menyadari hal itu seharusnya kita bersyukur dan tidak kehilangan sukacita? Bahwa disana-sini akan ada kesulitan, itu mungkin saja atau bahkan pasti. Tetapi hendaknya janganlah apapun yang menjadi kendala membuat kita kehilangan sukacita lalu gagal menggenapi rencanaNya. Sebuah sukacita mampu menstimulus kita untuk mengeluarkan kemampuan terbaik kita, itu juga bisa membuat kita tetap berada dalam keadaan baik.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply