Hanya Tanah Liat

Ayat bacaan: Yesaya 64:8
======================
“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”

hanya dari tanah liat

Sebuah berita yang saya baca mengabarkan tentang perilaku seorang pengendara motor besar ketika motornya terserempet oleh sebuah mobil yang dikemudikan seorang remaja. Dengan arogan ia turun dan memukuli mobil serta memukuli anak remaja tersebut. Ketika polisi datang, ia masih tetap emosi di luar batas, bahkan mengancam polisi yang ingin merelai itu. Dia mengancam si polisi sambil membentak-bentak bahwa ia akan mengadu ke sepupunya seorang jenderal. Kelakuan arogan, angkuh, sombong, main hakim sendiri dan main backing-backingan seperti ini benar-benar memalukan, baik memalukan keluarga dan pastinya mempermalukan diri sendiri. Selain itu ini menjadi sebuah bukti nyata bahwa orang yang bersikap demikian belum menyadari hakekat siapa diri kita (baca: manusia) ini sebenarnya.

Ayat bacaan hari ini menggambarkan dari mana kita dibentuk. “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” (Yesaya 64:8). Jika kita melihat ayat ini,maka jelaslah bahwa kita tidak seharusnya bisa bersikap arogan atau sombong. Mengapa? Karena kita ini ternyata tidak lebih dari seonggok tanah liat. Dalam ayat lain Yesaya mengatakan bahwa manusia tidaklah lebih dari embusan nafas semata, sehingga kita jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi pada sebuah figur atau sosok manusia. “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22). Selain itu masa hidup kita di dunia pun singkat. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). Maka alangkah memalukannya jika kita masih merasa jauh lebih hebat dari orang lain, menyombongkan diri kita, bersikap angkuh, arogan dan seenaknya berbuat apapun. Si pengendara motor besar itu tidak akan bisa membawa motornya ke Surga untuk menghadap Bapa, dan sepupu jenderalnya pun tidak akan sanggup melepaskan dirinya mengelak dari Tuhan. Pada suatu ketika semua manusia harus siap untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia ini di hadapan Tuhan. Dan ingatlah bahwa Tuhan tidak bisa disogok dan tidak akan takut pada siapapun, karena Dia tidak lebih rendah di banding apapun, apalagi manusia.

Jika kita adalah tanah liat, maka Tuhan adalah Penjunan kita. Sebagai tanah liat tentu kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Tanah liat tidak pernah bisa mengatur pembuatnya untuk membentuk dirinya sesuai dengan keinginannya. Tapi si pembuatlah yang pasti mengenal jenis tanah liat dan seperti apa ia bisa dibentuk, seindah mungkin. Demikianlah sebuah pelajaran yang dipetik oleh Yeremia lewat seorang tukang periuk. Dalam pembuka Yeremia 18 kita membaca bahwa Tuhan menyuruh Yeremia ke tukang periuk untuk mendapat pelajaran penting mengenai hakekat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (Yeremia 18:4). Ini hasil pengamatan Yeremia. Lalu Tuhan berkata: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (ay 6). Ya, Tuhanlah sang Pembuat, sedang kita adalah tanah liat yang berada di tangan sang Pembuat. Karenanya bukan kehebatan kita yang bisa membuat kita menjadi baik, berkelimpahan dan selamat, namun semata-mata karena kehebatan Tuhan membentuk kita-lah maka kita bisa menjadi bejana-bejana yang indah. Menyombongkan diri atau berlindung di belakang orang lain adalah sebuah sikap yang memalukan, karena itu artinya si orang tersebut tidak menyadari betul siapa dia sebenarnya. Malah Alkitab mencatat demikian “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5).

Jika Tuhan sebagai sang Penjunan atau sang Pembuat periuk/bejana yang mengenal karakter kita masing-masing, si “tanah liat”, dengan sangat baik, apa yang menjadi rencanaNya? Demikian firman Tuhan. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (29:11). Untuk mencapai tujuan itu, terkadang proses pembentukan karakter diperlukan, dan hal itu seringkali tidak nyaman bahkan menyakitkan. Tapi lihatlah nanti, sebuah bejana yang sangat indah akan terbentuk. Kita hanyalah tanah liat yang tidak lebih dari embusan nafas. Tidak seharusnya kita bersikap paling hebat di atas segala-galanya dan hidup seenaknya dengan kekuatan diri kita sendiri maupun orang lain. Ingatlah bahwa di atas sana ada Tuhan, Sang Penjunan yang begitu mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita binasa. Jauhkanlah kesombongan dan keangkuhan dari diri kita. Hiduplah rendah hati, rajin menolong sesama dan berserahlah secara penuh kepada Tuhan dalam segala hal. Tidak ada satupun rencana Tuhan yang gagal, dimana apa yang Dia rencanakan adalah damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan.

Janganlah bersikap sombong, tapi hiduplah rendah diri dengan memuliakan Tuhan, karena kita hanyalah tanah liat hasil buatan tangan Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply