Hak Kesulungan dan Semangkuk Kacang Merah

Ayat bacaan: Kejadian 25:32
=====================
“Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”

hak kesulungan, esau, yakub

Hari-hari ini kita melihat banyak orang rela menggadaikan imannya demi kepentingan duniawi. Untuk kepentingan jabatan, pekerjaan atau demi pujaan hati, orang bisa dengan mudah berpaling meninggalkan Tuhan. Agar tidak sulit dalam kenaikan karir, ada orang yang malu mengakui bahwa ia beriman pada Kristus. Ada pula yang serta merta melepas status kekristenannya demi kekasih. Ironis sekali ketika kita melihat orang yang lebih memilih dunia dan segala kenyamanan sesaat yang ditawarkan daripada menjaga hidupnya untuk sebuah kehidupan yang kekal di atas sana. Kejadian seperti ini tidak hanya menimpa orang-orang biasa, tapi pelayan Tuhan pun bisa jatuh ke dalam godaan seperti ini. Ada seorang teman saya yang tadinya aktif melayani di gereja sejak muda, tetapi kemudian memilih untuk meninggalkan Kristus demi seorang wanita. Ironisnya hidupnya tidaklah menjadi lebih indah, justru sebaliknya. Yang lebih mengkhawatirkan saya adalah bagaimana nanti pertanggungjawaban yang harus ia hadapi di depan Tahta Allah. Menggadaikan atau menjual hak kesulungan akan mendatangkan resiko fatal di kemudian hari.

Hak kesulungan, apakah itu? Hak kesulungan adalah sebuah hak istimewa yang dimiliki oleh anak sulung untu memperoleh warisan. Tidak semua orang bisa dengan mudah memperoleh hak kesulungan. Sayang sekali apabila ada orang yang sudah memiliki hak ini namun rela menjualnya demi sesuatu yang tidak sebanding dengan apa yang ditawarkan lewat kepemilikan hak kesulungan ini. Ayat bacaan hari ini diambil dari bagian kisah antara Esau dan Yakub. Dikisahkan pada suatu kali Esau pulang berburu dan merasa sangat lelah dan lapar. Ia mencium bau makanan yang lezat yang tengah dimasak Yakub. Esau pun kemudian meminta sedikit kacang merah itu. Ternyata Yakub menolak memberikannya. Yakub hanya akan memberikan semangkuk kacang merah itu jika Esau menjual hak kesulungannya. “Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.”(Kejadian 24:31). Lalu Esau menjawab “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (ay 25). Esau ternyata tidak berpikir panjang untuk menjual hak kesulungannya, bahkan dengan sumpah. Esau memandang ringan hak kesulungan yang ia miliki dan rela menukarkannya hanya demi semangkuk kacang merah. Apa yang ditunjukkan oleh Esau adalah bagaimana ia memandang rendah berkat-berkat Tuhan. Padahal apa yang dijanjikan Tuhan kepada kakeknya Abraham tidaklah main-main. Tapi ia rela menggadaikan itu semua demi kesenangan sesaat. “Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu. (ay 34). Esau memilih untuk menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan.

Sebagai orang yang percaya kepada Kristus sang Juru Selamat dan telah lahir baru, kita menyandang status sebagai anak-anak Allah. Alkitab berkata “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” (Roma 8:14). Roh Allah ini akan bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita ini adalah anak-anak Allah. (ay 16). Selanjutnya, dengan menyandang anak-anak Allah kita menjadi ahli waris pula. “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (ay 17). Ini adalah kasih karunia yang begitu istimewa, yang alangkah keterlaluannya jika kita anggap remeh. Sebagai anak-anak Tuhan adalah penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar tidak bertindak seperti Esau, meremehkan kasih karunia Tuhan dan rela menukarkannya dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia atau harta kekayaan. Penulis Ibrani mengatakan “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. (Ibrani 12:16). Bagi orang yang rela menjual hak kesulungannya, inilah yang terjadi: “Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” (ay 17). Waspadalah terhadap segala godaan duniawi yang bisa membuat kita melakukan kesalahan fatal menggadaikan hak kesulungan kita. Sebab bagi orang yang menjual hak kesulungannya, tidak peduli sebanyak apapun mereka berseru-seru kepada Tuhan, beginilah akhirnya: “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23). Jangan sampai kita memutuskan untuk melakukan tindakan bodoh yang akan mengakibatkan kita ditolak dan dihapus dari daftar ahli waris Kerajaan Allah.

Penulis Ibrani mengingatkan janganlah kita sampai terlambat untuk memperbaiki kesalahan kita, dan akibatnya ditolak. Sesal kemudian tidaklah berguna lagi, meski kita nanti berurai air mata penyesalan sekalipun. Ketika kita saat ini masih punya kesempatan, jagalah iman kita dan hak kesulungan yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita dengan baik. Bersyukurlah ketika saat ini kita diberi hak yang sungguh istimewa, jangan gadaikan hak kesulungan dengan janji dan berkat berlimpah Tuhan di dalamnya termasuk keselamatan dan mewarisi Kerajaan Allah dengan kenikmatan dan kepentingan duniawi yang sesaat. Hak kesulungan sudah kita peroleh sebagai anak-anak Allah dan menjadikan kita berhak sebagai ahli waris yang akan menerima segala janji-janji Allah. Jangan sia-siakan apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Jika di antara teman-teman ada yang sedang menghadapi dilema seperti ini atau mungkin sudah terlanjur melakukannya, berbaliklah segera, sebelum semuanya terlambat. “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 2:5).

Jangan sia-siakan hak kesulungan yang telah dianugerahkan Tuhan dengan kenikmatan sesaat

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply