Habakuk dan Imannya

Ayat bacaan: Habakuk 3:19
=====================
“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”

habakuk

Saya baru saja bertemu dengan seorang teman yang sudah mencapai posisi cukup tinggi di sebuah perusahaan. Sebuah posisi yang mungkin diimpikan banyak orang dan mungkin dianggap sebagai sebuah posisi yang sudah mampu menempatkan orang pada tingkat hidup yang makmur. Menarik mendengar apa yang ia ceritakan. Untuk mencapai posisi itu, seringkali ia harus bersinggungan dengan banyak orang yang juga mengincar posisi yang sama. Character assasination alias pembunuhan karakter, isu, fitnah dan lain-lain datang silih berganti dan sungguh memusingkan. Stres, depresi, emosi dan sebagainya bisa timbul dengan mudah akibat tekanan-tekanan yang berkepanjangan. Saya berpikir, hidup ini memang tidak mudah. Ketika kita masih berada dibawah, kita akan berpikir bahwa ketika posisi kita meningkat maka kita akan bisa hidup tanpa masalah. Tapi ternyata ketika di atas pun masalah tetap ada, walaupun mungkin kasusnya berbeda. Ketika kita masih di level bawah, mungkin kita hanya mendapatkan sedikit penghasilan, tapi tanggungjawab pun kecil. Semakin tinggi, penghasilan semakin besar, tapi tanggungjawab pun akan semakin besar pula. Bahkan dari pengalaman saya, angin akan bertiup lebih kencang ketika kita berada pada posisi yang semakin tinggi. Yang pasti, tekanan-tekanan tetap ada, walau dalam bentuk yang berbeda.

Haruskah kita menyerah kalah diterpa masalah? Jika mengandalkan tenaga sendiri mungkin ya, pada satu titik kita tidak akan memiliki cukup tenaga lagi untuk berjuang. Tapi ingatlah bahwa ada Tuhan yang selalu setia menyertai kita, Tuhan yang kekuatannya tidak terbatas. Hari ini saya ingin mengangkat sekelumit kisah mengenai Habakuk. Habakuk adalah seorang nabi yang hidup di jaman yang sangat berat, penuh dengan krisis moral yang sungguh luar biasa. Pada saat itu Habakuk meratap melihat bangsa Yehuda tengah berada dalam bahaya. Habakuk menyadari bahwa penyebabnya adalah akibat ketidaksetiaan. (Habakuk 1:2-4). Lebih lanjut, dikatakan bahwa bangsa Yehuda tengah menghadapi ancaman serius dari orang Kasdim (bangsa Babel) yang terkenal kejam dan ganas yang siap untuk membantai mereka. (ay 6-11). Habakuk bahkan mengaku tidak mengerti mengapa Allah yang Mahakudus bisa berdiam diri melihat orang-orang fasik menghancurkan umatNya. (ay 12-13). Tidak mengerti, itu satu hal, dan memang kemampuan kita terbatas untuk bisa menyelami rencana Tuhan secara utuh. Namun janganlah hal itu berlanjut kepada ketidakyakinan kita akan penyertaan Tuhan. Habakuk menyadari hal ini, dan berkata: “Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” (2:4). Meskipun ia tidak mengerti mengapa Tuhan terkesan membiarkan bencana siap menghancurkan bangsa Yehuda, tapi Habakuk tahu pasti bahwa Tuhan akan tetap turun tangan terhadap orang benar, yaitu orang yang hidup oleh iman.

Di akhir kitab Habakuk, kita melihat bagaimana tingginya iman nabi ini. Iman Habakuk adalah iman yang tidak tergoncang oleh situasi apapun, bahkan dalam ketidak-mengertiannya akan keputusan Tuhan sekalipun. Habakuk mengakhiri doanya dengan keyakinan teguh. “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” (ay 17-19). Dalam keadaan krisis, tekanan, ketakutan, ancaman yang kelihatannya mengerikan sekalipun, Habakuk tetap bersukacita dan bersorak-sorak pada Tuhan. Sikap Habakuk didasarkan pada imannya yang secara penuh berserah pada keputusan Tuhan. Meski situasi yang ia hadapi mungkin akan terus menjadi lebih parah, namun imannya pada Tuhan tidaklah goyah. Dia tetap bersorak-sorak dalam Allah yang menyelamatkan, dan itu semua terjadi karena Allah ia jadikan sebagai sumber kekuatannya.

Adakah hari ini anda tengah tergoncang akibat berbagai persoalan yang sedang menekan diri anda? Adakah iman anda hari ini mulai goyah akibat tekanan demi tekanan yang terus menghujam diri anda, kesulitan hidup yang makin meningkat, persoalan yang belum memiliki jalan keluar? Apakah hari ini anda sulit mengerti mengapa Tuhan seolah diam terhadap persoalan anda? Miliki iman seteguh iman Habakuk yang tidak goncang sama sekali dalam kondisi apapun. Percayalah bahwa Tuhan mampu membuat “kaki kita selincah kaki rusa” untuk melompati masalah-masalah itu. Dasari hidup dengan iman yang teguh, jangan pernah putus harapan. Percayalah sepenuhnya pada Tuhan dengan segenap hati. Tuhan mampu memperlengkapi kita untuk mampu menghadapi segala masalah, segala ketidakpastian dalam hidup, karena Tuhan adalah sumber kekuatan kita. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).

Jadikan Tuhan sebagai sumber kekuatan agar mampu menghadapi badai

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply