Guru Harus Aktif, Jangan ‘Textbook’

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Diah Harianti, mengatakan guru harus kreatif karena tidak semua kompetensi harus diberikan dalam buku teks.

“Jadi tidak selamanya ada dalam buku teks. Misalnya saja pendidikan seks, tidak harus ada dalam buku teks. Bisa saja memanggil narasumber dan didatangkan ke sekolah,” ujar Diah usai acara pengumuman pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2012, di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan pelajaran seks yang ada di dalam buku teks kerap dianggap pornografi. Padahal untuk anak yang masuk dalam usia remaja, pendidikan seks sangat diperlukan untuk memberi pengetahuan mengenai masa puber.

“Itu sebenarnya sangat penting. Namun terkadang caranya saja yang salah,” tukas dia.

Menurut dia, pendidikan seks sangat diperlukan bagi remaja pada saat ini, mengingat semakin derasnya arus informasi maka guru perlu memberikan penjelasan kepada anak didik mengenai alat reproduksi yang perlu dilindungi.

Berbeda dengan dulu, lanjut Diah, saat ini tak jarang anak kelas VI SD yang hamil karena minimnya pengetahuan seks.

“Tapi ya itu tadi. Dalam menjelaskannya guru harus kreatif. Bisa saja, siswa perempuan dan laki-laki dipisahkan dan kemudian diberikan pengetahuan mengenai pendidikan seks,” jelas dia.

Sejumlah studi terbaru menyatakan bahwa remaja yang mendapatkan informasi memadai tentang seks lebih cenderung untuk tidak melakukan hubungan seksual terlalu dini dan memutuskan untuk menggunakan kondom dan alat kontrasepsi saat dewasa.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: