Grobogan Revealed: Kisah Asal-usul Kabupaten Grobogan

GrobogDI kawasan jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) hingga kini masih kita sering temui pemandangan laki-laki atau perempuan mengendarai motor atau onthel dengan grobog di sadel belakangnya. Kontainer dari bambu atau plastik ini biasanya dipakai orang untuk beragam fungsi. Ibu-ibu membawa dirigen air dari sumber air dengan grobog mereka. Pedagang keliling menjajakan barang dagangannya dalam grobog. […]

Grobog

DI kawasan jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) hingga kini masih kita sering temui pemandangan laki-laki atau perempuan mengendarai motor atau onthel dengan grobog di sadel belakangnya. Kontainer dari bambu atau plastik ini biasanya dipakai orang untuk beragam fungsi.

Ibu-ibu membawa dirigen air dari sumber air dengan grobog mereka. Pedagang keliling menjajakan barang dagangannya dalam grobog. Petani membawa hasil panenan dalam grobog-nya. Piranti ini bahkan cukup luas sehingga seorang ibu pun bisa menampung sayur-sayuran, tebu, padi, kayu bahkan membawa putra kecilnya dengan grobog-nya.

Hingga kini grobog masih populer. Selain di Pantura, grobog sebetulnya bisa kita temukan di daerah Jawa Timur, Jawa Barat bahkan di Ibukota Jakarta. Malahan, di daerah Rantau Pulut, suatu daerah di pedalaman Kalimantan Tengah — sehari perjalanan dari kota Sampit– penulis pernah menemukan pedagang sayur membawa jualannya dalam grobog. Bisa jadi kontainer multi fungsi jenis ini bisa juga diketemukan di negeri seberang juga. Namun di Pantura, keberadaan grobog itu memiliki kisahnya tersendiri.

Grobog Sunan Kalijaga
Kisah grobog ternyata bisa ditelusuri saat Sunan Kalijaga membawa benda-benda warisan Prabu Brawijaya VII, Raja Majapahit yang diruntuhkan Raden Patah dari Demak. Mereka mengangkutnya dalam beberapa wadah grobog. Dalam perjalanan yang berat itu, rombongan Sunan Kalijaga dirampok oleh kelompok Bango Mampang, penguasa Pegunungan Kendeng bagian barat. Grobog yang berisi warisan berharga itu diminta secara rudapeksa.

Dengan kearifan tertentu, Sunan Kalijaga mempersilahkan mereka memilih satu dari beberapa grobog itu. Setelah memilih satu grobog terbesar dan terberat menurut ukuran mereka, Bango Mampang memperbolehkan Sunan dan para punggawanya melanjutkan perjalanan. Ternyata grobog terberat yang mereka pilih kosong belaka.

Bango Mampang marah besar. Dimintanya kembali grobog lain yang lebih berat. Kali ini, ia dan anak buahnya tak kuasa mengangkatnya. Merasa dipermainkan, Bango Mampang kalap dan tak terkendali lagi. Dibabatnya Sunan Kalijaga dengan pedang dan seluruh rasa marah bencinya.

Berkali-kali. Namun ia terpuruk.

Setelah terjadi kesepakatan perdamaian, Sunan Kalijaga dan kelompok Bango Mampang melanjutkan perjalanan. Tatkala sampai di Demak Bintoro teringatlah oleh anak buah Sunan Kalijaga akan grobog kosong yang tertinggal di daerah Kendeng itu. Sunan Kalijaga mengingatkan agar grobog kosong itu dibiarkan saja sebagai peringatan anak cucu. Dan lahirlah nama Grobogan.

Kabupaten Grobogan
Sementara itu, sejarah mencatat Kabupaten Grobogan berawal pada hari Senin Kliwon 21 Jumadilakir 1650 atau 4 Maret 1726. Sejarah itu diambil dari cerita saat Susuhunan Amangkurat IV mengangkat seorang abdi yang telah berjasa kepada Sunan.

Grobogan  Kabupaten logo

Lambang resmi Kabupaten Grobogan di Provinsi Jawa Tengah.

Ng. Wongsodipo, nama abdi itu, diangkat menjadi bupati Tanah Monconagari yang menjadi taklukan raja yakni Grobogan dengan gelar Rt. Martopuro.

Dalam babad Kartasura atau Babad Pacina 172-174 disebutkan bahwa saat pengangkatan itu ditetapkanlah pula wilayah kekuasaanya: Sela, Teras Karas, Wirosari, Santenan, Grobogan serta beberapa daerah di Sukowati bagian utara Bengawan Solo.

Karena kota Kartasura saat itu dalam keadaan kacau, Rt. Martopuro tetap berada di Kartasura. Sedangkan untuk pengawasan daerah Grobogan diserahkan kepada kemenakan sekaligus menantunya, Rt. Suryonagoro (Suwandi). Ia diharapkan membangun struktur pemerintahan kabupaten pangreh praja dengan ibukota di Grobogan.

Yang dimaksud adalah memilih bupati patih, kaliwon, pamewu, mantri hingga bekel di desa-desa. Saat Rt. Adipati Martanagoro memimpin 1864-1875, ibukota kabupaten berpindah ke Purwodadi. Sejak tahun 1864 itulah Purwodadi menjadi Ibukota Kabupaten Grobogan.

Kata Purwodadi sendiri seturut website Kabupaten Grobogan berasal dari dua suka kata purwa yang berarti permulaan (kawitan) dan dadi yang berarti jadi, terlaksana (dumadi). Kata ini sering dikaitkan dengan filsafat Jawa, sangkan paraning dumadi. Di sana dikatakan pula bahwa hal itu dikaitkan dengan cerita Aji Saka yang mengandung ajaran filsafat hidup manunggaling kawula gusti sejak awal mula kehidupan manusia.

Taat legenda?
Banyak daerah memiliki khasanah kekayaan yang mampu menjadi penghidup tradisi oral. Entah sejarah, legenda, mitos, cerita mistis atau dongeng, mereka itu bisa menjadi penghubung zaman, perekat eksklusif kedaerahan, asal-usul. Mereka bahkan mampu menjadi penanda yang khas dari kedaerahan.

Cukup menggembirakan bahwa masih banyak orang yang mencintai tradisi mereka sendiri. Banyak anak muda yang mulai kembali ke akar tradisi mereka. Banyak orang luar yang semakin mengagumi kekayaan budaya bangsa ini. Ini menjadi tantangan bagi setiap orang untuk membantu mereka yang ingin mendalami dan mencintai warisan budayanya sendiri. Ini tantangan untuk ndhudhug (menggali) dan ndhudhah (membeberkan) kebudayaan sendiri.

Sayang, bila penanda ini kurang tergarap di daerah kita sendiri. Sayang bila tidak ada –seperti istilah pemikir ternama – institutional memory yang menyimpan memori agar pengalaman dari generasi ke generasi bisa dihubungkan, agar orang bisa belajar dari sejarah masa lampau dan tidak jatuh dalam pengulangan kesalahan yang sama, agar tidak semua hal dilakukan dari nol.

Sayang bila juga tidak ada museum sejarah, pengabadian patung, serta konstruksi ketokohan. Makin dibutuhkan apa yang lebih dari sekedar tradisi oral agar tidak makin tertepis oleh penetrasi globalisasi informasi.

Kini zaman melaju, banyak orang menggunakan motor beroda tiga sebagai pengangkut barang. Lebih besar, lebih kuat. Namun masih banyak orang setia dengan grobog. Tanda kepraktisan atau tanda taat legenda.

Kredit foto: Sepeda onthel membawa grobog di jalanan Pantura, Jawa Tengah (Dok. Romo YB Haryono MSF/Balai Budaya Rejosari)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply