Going the Extra Mile

Ayat bacaan: Matius 5:41
========================
“Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.”

mil kedua

Dalam bekerja kita sering berhadapan dengan deadline, yaitu masa dimana apa yang kita kerjakan harus sudah rampung. Ini adalah realita yang akan dihadapi ketika seseorang masuk ke dalam dunia pekerjaan profesional, dan hal ini selalu saya tekankan kepada para siswa-siswi saya. Dan saya pun melatih mereka agar serius memandang deadline lewat syarat pengumpulan tugas yang tepat waktu, tidak molor sedikitpun. Tidak semua siswa patuh terhadap hal ini, karena seperti kebiasaan banyak manusia, mereka selalu bersantai-santai dahulu, kemudian kalang kabut mengerjakan ketika waktu sudah mepet. Akibatnya seringkali tugas itu belum rampung pada saatnya. Ketika seharusnya tugas itu sudah dikumpulkan, mereka kedapatan masih sibuk mengerjakan.

Sudah menjadi sifat kebanyakan manusia untuk tidak serius mengerjakan sesuatu sejak awal. Kesibukan dan keseriusan baru akan muncul ketika deadline sudah mepet, dan akhirnya apa yang dikerjakan pun seringkali tidak sempurna alias hanya seadanya, ala kadarnya. Padahal firman Tuhan menegaskan bahwa kita haruslah melakukan segala sesuatu dengan serius. Tidak hanya serius, bahkan dikatakan bahwa kita harus melakukan lebih dari yang seharusnya. Dan inilah yang dikenal dengan sebutan “going the extra mile”.

Yesus berkata “Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” (Matius 7:41). Bagi kita mungkin berjalan satu mil saja sudah berat, kalau bisa setengahnya saja atau tidak usah sama sekali. Tetapi Tuhan menginginkan kita untuk melakukan lebih dari itu, menambah satu mil lagi.

Bagaimana caranya? Ada banyak contoh yang mungkin bisa kita pakai sebagai bentuk aplikasi dari going extra mile ini. Misalnya jika dahulu mencuri, setelah menerima Yesus bukan saja berhenti mencuri, tetapi tingkatkan hingga memberi. Jika dahulu mudah marah dan membenci, sekarang bukan saja berhenti membenci dan mengurangi emosi, tetapi tingkatkan hingga bisa mengasihi. Ini baru dua contoh dari sekian banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai aplikasi nyata dari going extra mile dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mengapa kita harus berjalan lebih dari yang diharuskan? Ayat 48 memberikan alasannya. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”. Untuk menjadi sempurna kita tidak bisa setengah-setengah, tidak cukup melakukan ala kadarnya, tetapi keseriusan yang sungguh-sungguh haruslah menjadi gaya hidup kita. Tanpa itu niscaya kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Salah satu gambaran yang jelas mengenai going extra mile ini bisa kita lihat dalam hal menghadapi musuh, seperti yang tertulis dalam Lukas 6:27-36. Perhatikan firman Tuhan berikut: “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.” (ay 32-34). Kalau kita puas dan berhenti sampai disitu saja, lantas apa bedanya kita dengan orang lain? Ada seruan penting yang harus kita ingat bahwa dalam perjalanan hidup kita ini, kita harus berjalan menuju kesempurnaan seperti halnya Bapa. We are going towards it, and for that we are told to walk extra mile.

Dalam Efesus kita bisa melihat aplikasi dalam dunia pekerjaan. “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” (Efesus 6:5-7). Jangan cuma rajin ketika diperhatikan, atau ketika diiming-imingi bonus saja, tetapi lakukanlah apapun yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan. Ini contoh lain dari menjalani mil kedua. Bagaimana dalam hal rohani? Kita sudah diselamatkan, oleh karena itu kita harus menjaga diri kita agar tetap berjalan dalam koridor firman Tuhan, sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Tetapi kita tidak berhenti disana, karena seharusnya kita pun terpanggil untuk peduli kepada keselamatan orang lain. Membawa orang yang tersesat kembali kepada Tuhan, membawa jiwa-jiwa untuk bertobat, memberi kepada yang membutuhkan dengan sifat murah hati berdasarkan kasih dan sebagainya. 

Terlalu cepat puas dengan usaha ala kadarnya tidak akan pernah membawa kita untuk menapak ke arah kesempurnaan seperti yang dikehendaki Tuhan. Melakukan sesuatu setengah-setengah tidak akan membuat kita mampu menjadi terang di dunia. Yesus mengajarkan murid-muridNya termasuk kita untuk mau berjalan lebih, to go the extra mile. Dan inilah yang seharusnya membedakan kita dari kehidupan orang dunia. Ketika mil pertama mengacu kepada kewajiban, mil kedua itu mengacu kepada kasih. Orang-orang yang berjalan hingga mil kedua adalah orang yang mau melakukan lebih dari sekedar kewajiban dan meneruskannya dengan melakukan atas dasar kasih. Siapkah anda? Let’s move on to the next mile!

1 mile is not enough, we have to take the next step towards the next one

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: