Go Global: Jadilah Pemain, Bukan Penonton

SUN seminar dengan Handi Kurniawan 1

AULA  IALF (Indonesia Australia Language Foundation) di Plaza Kuningan,  Jakarta Selatan,  pagi itu (11/11) terasa agak beda. Ruangan yang tidak terlalu lebar ini biasanya menjadi riuh karena memuat para calon mahasiswa yang akan berangkat kuliah ke Australia. Saya pun mengalami suasana keriuhan ini tahun 2005 menjelang berangkat ke University of Melbourne untuk program studi master.

Namun, Selasa pekan lalu ruangan ini malah dipenuhi oleh sekitar 50 guru dan konselor pendidikan dari berbagai sekolah swasta ternama di Jakarta. Mereka hadir untuk mengikuti program tahunan berupa seminar pendidikan yang diadakan SUN Education, perusahaan konsultan pendidikan luar negeri terbesar di Indonesia.

Seperti tahun-tahun sebelumya, kali ini SUN Education merangkul kerjasama dengan beberapa mitranya, terutama universitas di Australia  seperti Monash dan Deakin University serta IALF.

Anak Tegal yang ‘go global’
Topik pertama seminar sehari SUN Education mengambil tajuk “How to prepare Indonesian Talents in ASEAN Economic Community 2015”. Topik menarik ini disajikan oleh Handi Kurniawan.

Handi, profesional muda yang sangat bergairah, dikenal telah malang melintang meniti karier lebih dari 12 tahun di berbagai perusahaan global asing seperti General Electric, Citibank, Standard Chartered Bank, dan sekarang di perusahaan multinasional Indonesia: Sinar Mas.

SUN Education dengan Handi Kurniawan 2

Anak dari kota kecil Pemalang dengan visi global: Berangkat dari pengalamannya sendiri, Handi Kurniawan yang asli anak Pemalang di Tegal, Jateng, mengajak para pendidik untuk punya global mindset dalam mendidik para muridnya. Persaingan global semakin ketat, maka anak didik pun harus diajari berpikir global. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Boleh dibilang, Handi sudah merengkuh banyak pengalaman mumpuni, karena telah mencicipi boleh meniti karier di beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Taiwan, Hawaii, Tiongkok-Beijing, dan Hong Kong.

Pengalaman bekerja dan berproses bersama kaum profesional skala global di berbagai tempat ini lalu dituangkan Handi ke dalam buku anyarnya berjudul Go Global: Guide to a Successful International Career.

Buku terbitan Gramedia di bulan Juni 2014 ini mengisahkan kisah hidup Handi sebagai anak Pemalang –tak kecil tak jauh dari Tegal di Jawa Tengah. Ia dengan gagah dan terus terang berani mengaku diri datang dari keluarga biasa dan tak ada saudaranya yang pernah keluar negeri.

Bagi keluarganya dan juga Handi sendiri, merambah kerja di belahan dunia lain tentu menjadi sebuah pengalaman sangat mewah saat itu. Motivasi bepergian keluar negeri inilah yang menjadi menjadi alasan Handi lalu bersemangat mendaftar di suatu SMA swasta di Salatiga, Jawa Tengah,  yang memiliki program pertukaran pelajar ke Australia.

Persyaratan tinggi dan persaingan ketat makin melecutnya untuk belajar keras guna bisa lolos seleksi tersebut. Inilah turning point pertama Handi yang akhirnya membuatnya menjadi sosok yang persisten mengusahakan hasil terbaik yang bisa dicapainya.

Bagi Handi, pendidikan berperan penting dalam mengarahkan jalan hidupnya sampai menjadi tenaga profesional sekarang ini.

Pendiri East West Talent yang memiliki spesifikasi di bidang talent management, career management, leadership development, dan cross cultural management ini, sering ditanggap sebagai pakar HRD di berbagai forum.

Tak harus pindah ke luar negeri
Handi lebih lanjut bicara tentang kesiapan orang Indonesia menghadapi era ASEAN Economic Community (AEC) dan globalisasi.

SUN Education dengan Handi Kurniawan 6

Think BIG, Make it happen!: Ini adalah salah satu jurus Handi Kurniawan memompa semangat anak-anak muda –terutama murid-murid SMA– agar berani berpikir besar dan kemudian punya nyali dan semangat untuk mewujudkannya. Ajakan Handi ini bergema dalam seminar sehari tentang pendidikan yang diprakarsai SUN Education bekerjasama dengan IALF, Monash University dan Deakin University, di Jakarta, 11 November 2014 lalu. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

“Sebagai negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia, kita menjadi target pasar besar bagi produk-produk dari luar,” demikian paparnya di awal seminar tahunan SUN Education 2014 ini.

“Di tahun 2015, jumlah penduduk di ASEAN sekitar 400-an juta orang. Sebanyak 42% itu ada di Indonesia. Tetapi hanya 22% dari populasi tersebut yang disebut skilled workers. Sisa terbesarnya sebanyak 70% masih bersekolah di tingkat SMA ke bawah,” lanjutnya sembari menunjukkan statistik pendidikan kita.

Menurut Handi, untuk bersaing di era globalisasi, selain skill, pertama-tama harus memiliki global mindset, bukan hanya berpikir domestik, tapi juga berperan aktif di pergaulan internasional. Kemudian dibutuhkan technical skill, cross culture management dan international communication management.

Handi mengingatkan, karier global tidak berarti seseorang harus pindah atau bekerja di luar negeri. Membina karier internasional pun dapat di lakukan di dalam negeri seiring potensi dan reputasi Indonesia yang semakin meningkat di dunia internasional dan juga berbagai peluang yang ada.

Handi lalu memberikan sharing pribadinya tentang bagaimana bisa membangun kualifikasi internasional, mengembangkan pola pikir global, dan sukses tanpa meninggalkan akar budayanya sebagai orang Indonesia.

Handi mengungkapkan beberapa elemen yang perlu dimiliki yakni kepercayaan diri dan mental yang kuat, kemampuan bertindak cepat, mengikuti pelatihan dan pengembangan diri, dan patuhi aturan yang ada.

“Think BIG, Make it happen!,” demikian pesan penutup Handi di akhir sesi pertama seminar.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: