WAKTU menunjukkan pukul 5 pagi, ketika saya dan suami tiba di parkiran gereja yang jaraknya sekitar 10 km dari rumah. Tubuh masih penat dan mata masih mengantuk. tetapi kami harus bangun karena hari ini kami akan mengikuti retret bersama di kawasan Puncak. Saat kami tiba, sudah ada sekitar 34 orang yang menunggu keberangkatan ke Puncak.

Tunggu punya tunggu ternyata sampai pukul 7, rombongan retret yang terdiri dari para karyawan, ibu rumah tangga, dan pekerja sosial di paroki belum juga melihat tanda-tanda akan berangkat. Kami mulai gelisah. Apalagi bus yang akan membawa kami juga belum nampak.

Tak lama kemudian ketua rombongan mengajak peserta untuk berkumpul. Wah, sudah mau berangkat kali, ya, kata seorang Oma yang ada dalam rombongan.

Namun apa yang terjadi? Ternyata apa yang kami dengar kemudian sungguh mengagetkan bagai sambaran petir di pagi hari. Tidak ada jadwal retret hari ini, yang ada adalah jadwal retret minggu depan!

Semua peserta terlongong….padahal ada yang sudah izin ke perusahaan, ada yang sudah menitipkan rumah kepada tetangga, ada yang sudah membatalkan janji temu dengan sanak keluarga jauh, ada yang sudah membatalkan kondangan dan ada yang sudah rela bangun subuh-subuh seperti saya untuk persiapan retret.

Hadohh……Ini salah siapa?

Semua mata tertuju kepada ketua rombongan yang dianggap paling bertanggungjawab. Ekspresi wajah para peserta sungguh menyiratkan kekecewaan terhadap lemahnya koordinasi dan komunikasi antara sang ketua dan pihak gereja yang mengakibatkan kegagalan acara ini.

Sulit dilukiskan suasana pagi tadi yang semula cerah lalu tiba-tiba menjadi pagi yang kelabu. Virus kekecewaan itu lalu menular satu sama lain. Entahlah apa yang dipikirkan masing-masing peserta saat pulang dengan gontai. Saya sendiri lalu segera pulang dengan niat bermalas-malasan melanjutkan tidur yang tertunda. Tetapi meski sudah sampai di rumah dan ingin tidur lagi mata ini sulit terpejam.

Pikiran saya melayang ke berita televisi semalam tentang virus MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang sudah membunuh ratusan nyawa manusia di Arab Saudi (www.antara.com) sejak tahun 2012. Virus yang berasal dari kelelawar ini bersifat mematikan dan belum ada vaksin untuk menangkal keganasannya. Sementara virus SARS dan virus EBOLA yang muncul beberapa tahun lalu belum tuntas diteliti sekarang sudah ada virus baru lagi. Belum lagi virus flu burung dan virus flu Singapur dan virus-virus lain yang saya lupa namanya. Keberadaan virus-virus di jagat raya ini jadi terasa menakutkan, seolah tidak ada tempat aman lagi untuk manusia hidup.

Saya tercenung memandang langit-langit kamar saya.

Virus kehidupan
Banyak sekali virus di dunia ini, baik jasmani dan rohani. Kecewa berat pagi tadi termasuk virus buat saya. Apalagi saya termasuk orang yang rentan alias mudah terbakar suasana, mudah terintimidasi bahkan mudah mengintimidasi. Virus kecewa dan marah membuat hari saya berlalu lambat dan terasa kering. Padahal saya mau menghabiskan weekend saya dengan bersantai/menghirup nafas segar dari kepenatan kerja. Kapan saya bisa senang kalau begini? Selesai rapat, rasanya stress…..pulang kerja, masih stress……. di gereja, juga stress…..virus stress ini juga lama-lama bisa mematikan saya.

Dua hal yang saya baca tentang cara menangkal virus-virus yang berterbangan itu adalah menjaga perilaku hidup sehat dan meningkatkan daya tahan tubuh. Virus akan ada di mana-mana di sepanjang kehidupan manusia di bumi ini. Sama halnya dengan virus-virus rohani yang konon justru jauh lebih mematikan yang kerap menyerang kelemahan jiwa manusia.

Sepertinya saatnya saya harus lebih sadar lagi menjaga kesehatan jasmani dan rohani saya. Mungkin tanpa saya sadari saya sudah tertular/menulari orang lain dengan virus kejahatan saya: kesombongan, kebencian, dendam, kecemburuan/iri hati, ketakutan, kebosanan akut, ketidaktaatan, kemarahan, ketidakpercayaan, ketidaksabaran dan kemalasan.

Virus terakhir ini tiba-tiba membuat mata saya yang terkantuk-kantuk segera terjaga dari rasa malas saya.

Memang tidak mudah mengubah diri tetapi harus saya mulai dari hal-hal sederhana dari sekarang supaya saya tetap sehat baik jasmani dan rohani sehingga saya bisa mengatakan……..go away virus!

Photo credit: Ilustrasi MERS (Courtesy of Free Patriot)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.