Glory to Jaka Tarub

Jaka-tarub_(1)NAWANGWULAN, satu dari sejumlah bidadari itu turun ke bumi. Mereka bermandi ria di telaga yang sunyi. Keceriaan dan kebahagiaan mengiringi pembersihan diri para putri penghuni sorgawi ini. Sampai akhirnya kerumitan itu muncul. Seorang anak manusia mengambil dan menyembunyikan pakaian Nawangwulan. Pakaian yang sekaligus berfungsi sebagai sayap pulang ke kahyangan hilang. Sementara, batas waktu turun ke […]

Jaka-tarub_(1)

NAWANGWULAN, satu dari sejumlah bidadari itu turun ke bumi. Mereka bermandi ria di telaga yang sunyi. Keceriaan dan kebahagiaan mengiringi pembersihan diri para putri penghuni sorgawi ini. Sampai akhirnya kerumitan itu muncul. Seorang anak manusia mengambil dan menyembunyikan pakaian Nawangwulan.

Pakaian yang sekaligus berfungsi sebagai sayap pulang ke kahyangan hilang. Sementara, batas waktu turun ke bumi habis. Bidadari bugil ini, singkat kata, tidak bisa kembali ke surga. Ia menjadi manusia. Ia merendah di desa kecil. Tersentuh sejarah dan derita, mengenal hukum awal akhir, sebab akibat. Ia dirasuki unsur-unsur manusiawi bahkan diperistri Jaka Tarub.

Mau tak mau kebidadarian dan kemanusiaan dalam diri Nawangwulan menjadi satu perkara yang tak dapat dipisahkan. Ia peduli pada suaminya, mengangkat harkatnya. Percampuran aneh ini membawa berkah tersendiri. Setiap kali menanak nasi, Nawangwulan hanya memerlukan sekuntum padi. Sekendil nasi tiba-tiba muncul menghidupi Jaka Tarub, Nawangwulan serta putri mereka, Nawangsih.

Namun berkah ini pun tetap mengundang tanya. Jaka Tarub kurang bisa memahami kenapa beras di lumbungnya tak pernah berkurang meski dimakan setiap hari. Apa yang terjadi: ketok magic, mukzijat, suatu kesenangan tanpa keperihan proses?

Kisah ini kian memikat karena sifat tragis yang tak terelakkan dalam nasib hidup Jaka Tarub. Ketika Nawangwulan pergi ke telaga ia membuka tutup kendil. Suatu pemali yang ia sepakati dengan istri blasterannya itu dilanggarnya. Manusia rupanya memang makhluk yang penuh tanya, penuh kesengsaraan dan ketidakmurnian. Demi memenuhi rasa puas keingintahuannya, ia membuka selubung wilayah, kodratnya sebagai manusia yang mengintip ruang murni sang bidadari. Jaka Tarub takjub.

Hanya sekuntum padi dalam belanga air itu. Namun ketakjubannya tidaklah panjang. Ternyata ia berhadapan dengan mara bahaya dan kesedihan. Nawangwulan pulang. Sekuntum padi tetaplah sekuntum padi.

Tak ada jalan damai di antara mereka. Jaka Tarub mengetahui asal usul keajaiban itu dengan bayaran tak ada proses transformasi gaib sekuntum padi menjadi sekuali nasi. Kebidadarian dirusak oleh hukum rimba manusia. Hidup penuh berkah mereka berubah. Mereka mesti memasuki proses alami; bekerja keras dan bersengsara sebagaimana Adam dan Hawa sesudah keluar dari taman Firdaus. Dan tatkala padi di lumbung kian susut, diketemukanlah pakaian sayap bidadari itu di dasar lumbung. Bidadari ini tak betah lagi hidup bersama sang pencuri dan pelanggar janji. Ia tak tahan hidup dalam ambiguitas yang menerobos sekujur wujudnya. Ia kembali ke kahyangan.

Sisi rapuh manusia
Haruskah kita mengutuk Jaka Tarub? Haruskah kita menyalahkan sisi buruk dan rapuhnya sebagai manusia?

Ada tradisi agama yang kurang apresiatif atas tubuh dan kemanusiaan sebagai konsekuensinya. Orang lebih berbahagia dalam roh yang murni ketimbang roh dalam tubuh. Kehidupan manusia dipandang sebagai tidak nyata, penuh dosa dan kejahatan. Tubuh manusia adalah kantong dari tulang-tulang dan daging yang berakhir seperti tumpukan kotoran sapi atau menjadi makanan bagi sang cacing. Orang berbicara bahwa kehidupan ini sebagai maya dan dunia ini seperti penjara.

Allah menciptakan dunia dan melihat baik adanya. Dunia ini bukan saja baik namun juga indah. Orang mesti memandang warna-warni bunga, tumbuhan hijau, gunung, langit biru, awan gemawan, bintang yang berkelap-kelib, gemericik air, kicau burung bahkan badai yang dahsyat. Mereka menunjukkan betapa indah, besar dan baiknya Sang Pencipta.

Namun semua itu tidak bisa dibandingkan dengan betapa memikat mempesonanya wajah manusia yang bentuk, warna dan proporsinya memiliki kecerdasan dan mata ekspresif. Banyak artis sepanjang jaman telah mengeksplorasi kecantikan tubuh manusia dan ekspresi kreatifnya. Manusia sungguh mahkota ciptaan.

Meski tidak memiliki visi malaikat atau kesempurnaan dewi-dewa yang digambarkan dalam mitos namun tak ada sesuatu yang perlu dirasa malu. Banyak legenda dalam mitologi Yunani yang menunjukkan bahwa dewa yang abadi dan memiliki kesempurnaan tertentu iri pada manusia dan ingin menjadi manusia.

Manusia tidak saja cantik. Manusia bisa mencipta kecantikan. Beragam bentuk karya seni, keindahan musik, warna-warni lukisan, daya misterius kata dan bahasa, menjadi bukti nyata betapa daya imaginasi, kreasi manusia serta apresiasinya akan kecantikan. Kita boleh berbangga menjadi manusia. Allah menciptakan manusia cantik dan kreatif. Allah mencipta manusia sebagai kooperator dalam proyeknya membangun dunia baru dan manusia baru.

Dosa, penderitaan dan kematian memang memainkan perhatian besar dalam hidup, tubuh manusia, daya kreativitas serta komunitas. Namun penderitaan dan dosa bukanlah kata akhir. Orang akan bangkit lagi menjadi manusia baru dalam jiwa dan badan, dalam komunitas dengan yang lain dan dengan Allah.

Tentang berkotor tangan
Haruskah kita mengutuk kerja keras dalam hidup ini dan merasa kotor bila tangan harus bergumul dengan lumpur tanah?

Ada tradisi yang menganggap bahwa manusia spiritual adalah mereka yang menyepi dari dunia ini, mengembara atau bertapa di tempat sunyi. Atau jika tidak mampu, mereka hidup di dunia ini namun tetap memandang diri keluar dari dunia ini. Orang tidak ingin berkotor tangan. Oleh karenanya pekerjaan intelektual dan spiritual lebih menjadi preferensi.

Tubuh berkaitan dengan dunia sekular hingga dilihat kurang penting dan inferior. Tak heran orang yang terlibat dalam dunia sekular dipandang inferior daripada imam, religius, ulama, atau sanyasi. Ada tradisi tertentu yang melihat semakin hidup seseorang dan pekerjaannya membutuhkan otot tubuh dan tenaga, semakin terpolusi seseorang.

Dalam dirinya sendiri tubuh ini tidak baik atau buruk, tidak superior atau inferior. Hal itu sangat bergantung pada bagaimana digunakan. Manusia bisa menggunakannya demi kebaikan atau menyalahgunakan. Tanggungjawab, pujian atau kecaman ada pada yang bersangkutan. Ini mestinya tidak membawa kesan bahwa manusia sekedar mahkluk spiritual sementara tubuh adalah sesuatu di luar sana.

Keduanya adalah bagian utuh dari manusia.

Akar dari dosa bukan hanya ada dalam tubuh kita namun dalam keseluruhan diri kita, dalam egoisme kita, hasrat yang tak teratur, cinta demi kesenangan tanpa tanggungjawab, eksploitasi segala sesuatu atau orang lain demi kepentingan diri. Kita perlu mempertobatkan diri kita, mengubah diri kita ketimbang lari dari tubuh kita dan lari dari dunia ini. Perubahan yang sesungguhnya dalam diri kita akan menemukan bentuknya dalam tubuh dan dunia yang berubah.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply