Gianyar Religious Fair di Paroki Santa Maria Ratu Rosari Gianyar, Bali

Gianyar 8GEREJA  Katolik Santa Maria Ratu Rosari Gianyar Paroki Giantar ini terletak disebelah timur kota Denpasar (sekitar 20 km). Kota Gianyar adalah nama sejarah dua seperempat abad lebih, tempatnya 236 tahun yang lalu, 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton: Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti. Maka […]

Gianyar 8

GEREJA  Katolik Santa Maria Ratu Rosari Gianyar

Paroki Giantar ini terletak disebelah timur kota Denpasar (sekitar 20 km). Kota Gianyar adalah nama sejarah dua seperempat abad lebih, tempatnya 236 tahun yang lalu, 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton: Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti. Maka sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali.

Dinamika pergumulan antara elit tradisional dari generasi ke generasi telah berproses pada momentum tertentu, salah seorang di antaranya sebagai pembangunan kota keraton atau kota kerajaan pusat pemerintahan kerajaan yang disebut Gianyar.

Pembangunan Kota kerajaan yang berdaulat dan memiliki otonomi penuh adalah Ida dewa Manggis Sakti, generasi ke-4 dari Ida Dewa Manggis Kuning.

Sejak berdirinya Puri Agung Gianyar 19 April 1771 sekaligus ibu kota Pusat Pemerintah Kerajaan Gianyar adalah tonggak sejarah. Sejak itu dan selama periode sesudahnya, Kerajaan Gianyar yang berdaulat, ikut mengisi lembaran sejarah kerajaan-kerajaan di Bali yang terdiri atas sembilan kerajaan di Klungkung, Karangasem, Buleleng, Mengwi, Bangli, Payangan, Badung, Tabanan dan Gianyar.

Namun sampai akhir abat ke-19, setelah runtuhnya Payangan dan Mengwi di satu pihak dan munculnya Jembrana di lain pihak maka Negara): Klungkung, Karangasem, Bangli dan Gianyar (ENI, 1917). Selama masa revolusi, ketika daerah Bali termasuk dalam wilayah Negara Indonesia Timur (NIT) otonomi daerah kerajaan (Swapraja) ke dalam sebuah lembaga yang disebut Oka, Raja Gianyar diangkat sebagai Ketua Dewan Raja-raja menggantikan tahun 1947.

Selain itu pada periode NTT dua tokoh lainnya yaitu Tjokorde Gde Raka Sukawati (Puri Kantor Ubud) menjadi Presiden NIT dan Ida AA Gde Agung (Puri Agung Gianyar) menjadi Perdana Menteri NIT.

Ketika Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali ke Negara Kesatuan (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1950, maka daerah-daerah diseluruh Indonesia dengan dikeluarkan Undang-undang N0. I tahun 1957, yang pelaksanaannya diatur dengan Undang-Undang No. 69 tahun 1958 yang mengubah daerah Swatantra Tingkat II (Daswati II).

Gianyar 1

Gereja Paroki Gianyar, Bali: Inilah tampilan wajah altar bernuansa arsitektur seni Bali di Gereja Paroki Gianyar. (Dok. Romo Bagus Kusumawanta Pr)

Nama Daswati II berlaku secara seragam untuk seluruh Indonesia sampai tahun 1960. Setelah itu diganti dengan nama Derah Tingkat II (Dati II). Namun Bupati Kepala Derah Tingkat II untuk pertama kalinya dimilai pada tahun 1960.

Bupati pertama di DATI II Gianyar adalah Tjokorda Ngurah (1960-1963). Bupati berikutnya adalah Drh. Tjokorda Anom Pudak (1963-1964) dan Bupati I Made Sayoga, BA (1964-1965).

Sejak tahun 1950 sampai sekarang yang hampir lima dasawarsa lebih telah tercatat sembilan orang Kepala Pemerintahan/Bupati Gianyar, yaitu: 1. AA Gde Raka (1950-1960), 2. Tjokorde Ngurah (1960-1963), 3. Drh. Tjokorde Dalem Pudak (1963-1964), 4. I Made Sayoga,BA (1964-1965) asal Br Kesian Desa Lebih,Gianyar, 5. I Made Kembar Kerepun (1965-1969), 6. AA Gde Putra, SH (1969-1983), 7. Tjokorda Raka Dherana, SH (1983-1993), 8. Tjokorda Gde Budi Suryawan, SH (1993-2003), 9. AAG Agung Bharata, SH (2003-2008), 10. Ir.Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Msi, 11. A.A.G. Agung Bharata, SH (2012-2017).

Paroki Santa Maria Ratu Rosari Gianyar
Paroki ini berdiri sejak ada umat katolik dan umat yang menerima pembaptisan tahun 1980 (bdk. Buku Sakramen Pembaptisan Paroki Gianyar). Dengan demikian sejak saat itu, Gereja mulai lahir dan bertumbuh.

Dari kesaksian beberapa orang perintis mulainya kehidupan Gereja sejak tahun 1976. Mereka itu adalah keluarga-keluarga katolik anggota TNI AD yang tinggal di Jl. Kesatrian Denzipur Gianyar.

Dengan hadirnya umat dimulailah pelayanan sakramen-sakramen oleh seorang pastor sebagai Gembala Umat.

Karya Misi di Gianyar diawali oleh seorang Pastor bernama Maurice Le Coutur MEP (Perancis) datang melayani umat dari tahun 1978-1995. Berkat pelayanan yang terus menerus dari 7 kepala keluarga tersebut berkembang hingga kini (2014) sudah 150 kepala keluarga dengan jumlah total sekitar 610 jiwa.

Mereka berdomisili di dua kabupaten yakni Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Bangli.

Pada umumnya, umat Paroki Gianyar berdomisili menyebar dan sering berpindah-pindah karena faktor ekonomi (sekitar 40% umat tinggal di rumah kontrak). Maka Paroki Gianyar dapat dikatakan representasi dari Gereja Diaspora. Model Gereja yang demikian ini memerlukan perhatian khusus masing masing agar umat mendapat pelayanan rohani dengan baik.

Gaya pelayanan pastoral yang cocok adalah pelayanan pastoral gembala yang baik: berkeliling berbuat baik dengan melayani tanpa kenal lelah, tanpa membedakan status ekonomi.

Setelah kehadiran Pastor Maurice Le Coutur MEP mulai berkarya tahun 1978-1995, pelayanan umat dilanjutkan oleh RD. T Natawijaya (Solo), tahun 1995-2001, kemudian RD. Y. Handriyanto Wijaya (Jakarta) tahun 2001-2010, selanjutnya RD. Agus Sugiyarto (Boyolali), tahun 2010-2013, sekarang umat digembalakan oleh RD. Gst. Bgs. Kusumawanta (Singaraja) tahun 2013-hingga sekarang.

Paroki Gianyar memiliki 4 Lingkungan dengan 7 KBG serta beberapa kelompok kategorial: Legio Mariae Presidium Pintu Surga, ME (Marriage Encounter), Choice, Kelompok Sekami, Kelompok OMK, Kelompok Lansia, Rukun Ibu-Ibu Paroki.

Jumlah umat terus berkembang sekitar 5,8 % per tahun karena pembaptisan, perkawinan, dan karena migrasi dari daerah NTT maupun Jawa. Banyak umat dari NTT dan Jawa yang tinggal berdomisili di Paroki Gianyar namun belum terdata dengan baik karena tidak menetap hanya saat liburan mereka tinggal di wilayah paroki Gianyar.

Gianyar 2

Indahnya seni ukir Bali: Inilah salah satu ciri unggul kesenian ukir Bali yang ada di Gereja Gianyar, Bali. (Dok. Romo Bagus Kusumawanta Pr)

Gianyar memiliki daya tarik bagi wisatawan dan tujuan untuk tinggal karena orang dapat menikmati kenyamanan, nuansa bersahabat, penginapan, restoran dan kebudayaan tinggi dengan seni lukis, seni tari dan makanan kuliner khas Gianyar (terutama kota Ubud). Menurut majalah Conde Nast Traveler, Ubud kota terbaik ketiga di Asia karena kedamaian dan kenyamanan. Di samping itu, di Banjar Tegal Bingin Gianyar ada Moseum topeng, tersedia pelbagai jenis topeng dari budaya Nusantara.

Di bawah ini suatu karya seni ukir yang tinggi dari umat Gianyar yang melukiskan peristiwa Kelahiran Yesus Tuhan Sang Juru Selamat Dunia. Ukiran itu di buat di atas kayu yang utuh (anda dapat melihatnya di galery pastoran Gianyar).

Gianyar Religious Fair
Kehidupan sosial-ekonomi umat beragam: PNS, swasta, buruh, pekerja lepas, satpam, PRT, karyawan bank, pengangguran yang masih mencari kerja.

Lingkungan Budaya Gianyar dengan seni dan tarinya memengaruhi banyak orang datang ke Gianyar. Gianyar kota seni ukir dan seni tari.

Pastor Maurice Le Coutur MEP yang menggagas didirikan TK Santa Maria, Yayasan Sasana Seni Ukir Kayu milik Paroki Gianyar, peternakan sapi dan babi.

Pastor Maurice telah telah meninggalkan Gianyar sejak 1995, karya itu kini telah beralih ke Yayasan Insan Mandiri untuk Pastoral Pendidikan (Sekolah TK dan SD). Pada tahun 2001 para Suster Canosian (FDCC) hadir di Paroki Gianyar dan melayani bidang pendidikan dan pastoral umat hingga kini.

Panggilan hidup beriman terus berkembang hingga kini dari Paroki Gianyar telah memberikan putera-puteri terbaik untuk Gereja: 1 Suster SND, 1 Postulan Suster CB, 1 Postulan Suster PBHK, 2 Frater Diosesan, 2 Seminaris (Seminari Menengah).

Gianyar 3

Keluarga Bethlekem: Salah satu sudut gereja menyajikan pemandangan suasana Keluarga Bethlekem. (Dok. Romo Bagus Kusumawanta Pr)

Karya pelayanan pastoral yang digagas dan dikembangkan di Paroki Gianyar adalah pastoral gembala yang baik. Gembala yang mengenal, mencari dan memelihara domba-dombanya. Gembala yang mendengarkan umat-Nya, Gembala yang ikut hadir dalam suka dan duka kehidupan beriman.

Gaya Pastoral yang dikembangkan adalah pastoral Kerajaan Allah suatu perjumpaan gembala dengan umatnya yang menyelamatkan (Fil. 2: 5-11). Spiritualitas pelayanan yang menjadi pedoman adalah “Dia yang mengosongkan diri dan menjadi seorang hamba dan menjadi sesama bagi kita”.

Kehadiran Allah harus dirasakan secara nyata dalam bentuk kehadiran pelayan pastoral. Maka salah satu pokok unggulan karya pastoral Paroki Gianyar adalah Pastoral Sosial Ekonomi melalui pelatihan dan ketrampilan umat bidang Industri Ekonomi Kreatif. Koperasi dihadirkan agar ekonomi kerakyatan dan umat diberdayakan. Hasil industri kreatif umat seperti: lukisan, ukir-ukiran ditingkatkan melalui pasar global.

Pameran benda-benda seni religius
Bentuk dari usaha itu adalah Gianyar Religious Fair.

Gianyar Religious Fair adalah Pameran dan Pasar Religious karya umat Gianyar. Usaha ini paroki merupakan jalan mengembangkan kehidupan sosial ekonomi umat secara kreatif dan inovatif. Foto di bawah ini adalah bukti kemampuan dan ketrampilan umat dalam mengekspresikan iman dan religiusitas pada lukisan.

Foto ini menggambarkan Santo Yohanes dari Salib memeluk Yesus tersalib. Jalan panjang hidup rohani manusia akan selalu berhadapan dengan saat-saat gelap seperti dilukiskan hidup dari Santo Yohanes dari Salib. Bersama umat dalam sukda dan duka, seorang gembala harus hadir membawa sukacita dan kekuatan iman untuk melampaui kesulitan dalam hidup.

Ukiran kayu karya umat di atas mewujudkan iman dan religiositas umat terhadap Bunda Maria sebagai pelindung dan pendamping hidup umat Katolik Gianyar. Bunda Maria penjaga Yesus yang selalu digendong dan dikasihi. Umat Gianyar menginginkan agar dipeluk dan dilindungi Bunda Maria.

Dengan berdoa di depan Bunda Maria umat Gianyar memohon rahmat agar dapat meneladani Bunda Maria yang selalu memeluk Yesus dengan dekapan kasihnya.

Gianyar 10

Maria dan Kanak-kanak Yesus: Patung Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus dengan tampilan warna yang tidak biasa di Gereja Paroki Gianyar, Bali. (Dok. Romo Bagus Kusumawanta Pr)

Dalam sukacita pemberdayaan umat Gianyar, paroki ini telah memiliki koor inti (dewasa), koor anak-anak Sekami, koor OMK, yang pada akhirnya bisa menjadi andalan dalam berliturgi Meski banyak kekurangan namun kami tetap mampu memberikan yang terbaik untuk Gereja.

Demikian Gereja akan sungguh terasakan jika berliturgi dengan baik dan bernyanyi dengan baik pula. Sancta Maria Mater Dei, Ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae. Amin (Dok. Gianyar Agustus 2014)

Inilah alamat Paroki St. Maria Ratu Rosari Gianyar: Jl. Mulawarman 92A, Gianyar 80515, Bali Indonesia.
Telepon: (0361) 943457

Email: sekretparokigianyar@gmail.com, dwanta61@gmail.com

Kredit foto: Benda-benda seni bernafaskan religius karya seniman-senimawati Gianyar, Bali yang dipamerkan dalam Gianyar Religious Fair (Dok. Paroki Gianyar)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply