Gesekan (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 1:10
========================
“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.”

Dalam pelajaran Fisika ada yang disebut dengan gaya gesek. Gaya gesek adalah gaya yang melawan interaksi/gerakan antar dua permukaan yang saling bersentuhan. Gesekan yang terjadi antara dua benda bisa menimbulkan panas hingga percik api. Contoh sederhana saja, kalau kita menggosokkan tangan secara kontinu maka tangan akan terasa panas. Korek api merupakan metoda yang didasari gesekan, sebagaimana halnya orang dahulu kala menghasilkan api dengan menggesekkan kayu. Menariknya, daya gesek ini bukan saja terjadi antara dua benda dan permukaannya saja, tetapi juga bisa terjadi antar manusia. Tidak jarang kita melihat terjadinya pertikaian karena friksi atau gesekan yang dibiarkan terjadi dan tidak diatasi sesegera mungkin. Mulanya biasa, tetapi gesekan yang terus menerus terjadi bisa menimbulkan panas sehingga perselisihan, perkelahian atau berbagai hal yang mengarah kepada tindak kejahatan pun bisa menjadi akibat dari gesekan antar manusia.

Seorang teman bercerita tentang pengalamannya saat ia baru saja bergabung di tim musik sebuah gereja di kotanya. Sebagai anak baru, ia bertemu dengan orang-orang baru disana. Ada yang menyambut baik, ada yang diam saja, bahkan belakangan ia merasa bahwa ada yang sentimen kepadanya. Beda manusia beda gaya. Itu biasa. Semakin sering anda bertemu seseorang, semakin besar kemungkinan terjadinya gesekan. Itu pun wajar. Kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk sama bereaksinya sesuai keinginan kita. Ada yang mungkin memang sifatnya pendiam, bisa saja ada yang langsung menebarkan aroma persaingan. Ada yang cepat akrab, ada yang butuh waktu. Semua itu akan muncul saat bertemu orang-orang baru, saat anda masuk ke dalam sebuah kumpulan baru. Yang membuat teman saya heran adalah bahwa di kumpulan tim musik yang melayani Tuhan ternyata ia masih saja bertemu dengan orang-orang yang tidak bersahabat, bahkan konfrontatif alias nyolot. Itu memang tidak bisa dihindari, karena selain sifat orang berbeda-beda, motivasi orang dalam melayani pun bisa saja berbeda. Ada yang murni untuk Tuhan, tapi ada pula yang karena ingin menonjol, paksaan keluarga dan berbagai alasan lain. Kenyataannya memang tidak semua pelayan Tuhan memiliki motivasi benar dalam menjalankan tugasnya.

Lantas apa yang harus menjadi perhatian kita? Yang penting adalah memastikan bahwa motivasi kita sudah benar, lalu menjaga agar jangan sampai gesekan-gesekan yang terjadi berbuah sesuatu yang negatif. Kalau kita menjadi malas saat merasa terintimidasi oleh sekelompok orang, itu artinya kita sendiri masih belum benar motivasinya. Bukankah kalau fokus kita memang untuk menyenangkan Tuhan seharusnya kita tidak mudah terganggu oleh perilaku teman sepelayanan? Kalau belum apa-apa kita sudah bereaksi dengan emosional, seperti mengundurkan diri dari pelayanan, menghujat atau yang lebih ekstrim langsung pindah Gereja, itu artinya kita belum sampai pada visi yang benar dalam melayani Tuhan.

Pertama, mari kita lihat kisah ketika Simon Petrus ditanya Yesus dengan pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15-17).  Yesus menganggap perlu untuk mengulangi pertanyaanNYa sampai tiga kali, artinya hal ini merupakan sesuatu yang penting. Dasar utama melayani itu penting dan harus kita pastikan benar-benar. Apa yang harusnya menjadi dasar utama untuk melayani atau menggembalakan adalah mengasihi Yesus lebih dari segala sesuatu. Bukan atas mengasihi diri sendiri, demi popularitas dan berbagai motivasi-motivasi yang salah, tapi semata-mata karena kita mengasihi Kristus.

Lantas bagaimana jika ada seseorang yang menjengkelkan dalam pelayanan atau mungkin dalam Gereja? Saya mengerti bahwa mungkin sulit untuk fokus melakukan sesuatu ketika ada hal yang mengganggu di dekat kita. Tetapi hendaklah kita bisa mengalahkan itu, karena fokus mengasihi Yesus seharusnya berada di atas segala motivasi lainnya.

Yesus juga berkata: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” (Yohanes 12:26). Adalah wajib bagi kita yang berada dalam pelayanan untuk mengikuti Yesus dimanapun Dia berada. Dan hal itu bisa jadi tidak mudah, karena seringkali kita harus menghadapi situasi-situasi bagaikan memikul salib. Dan hal itu pun sudah diingatkan Yesus sejak awal. “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: