Gereja Kristus Raja Pejompongan Jakarta, Sentuhan Multi Kultural Religius

< ![endif]-->

ADA banyak hal yang tidak biasa di Gereja Paroki Kristus Raja Pejompongan, Jakarta Pusat. Yang tidak biasa menjadi luar biasa, justru karena Gereja Paroki Pejompongan di kawasan Bendungan Hilir (Benhil) di Jakarta Pusat ini menyimpan sejarah multikulturalis dan multireligius.

Seperti dijelaskan Pastur Kepala Paroki Pejompongan Romo Rochadi Widadgo Pr kepada para Uskup Indonesia pada Misa Penutupan Sidang Tahunan KWI 2013 Kamis 14 November lalu, Gereja Pejompongan adalah sebuah ikon menarik dalam Sejarah Keuskupan Agung Jakarta kontemporer. Di Gereja Pejomponan inilah keberadaan gedung bangunan gereja ini merupakan hasil kerja bareng ramai-ramai oleh berbagai pihak dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda-beda.

Mari kita rinci satu per satu sebagaimana dijelaskan Romo Rochadi Pr saat memberi introduksi kepada para Bapa Uskup Indonesia sesaat usai Misa Penutupan Sidang Tahunan KWI 2013 di Gereja Pejompongan.

1.      Gereja Katolik Paroki Kristus Raja di Pejompongan, Benhil, Jakarta Pusat adalah gereja paroki terkecil di Keuskupan Agung Jakarta. Saat ini, jumlah umat katolik di paroki ini “hanya” sebanyak 920 orang terdiri dari 300 KK;

2.      Gereja Pejompongan terbilang masuk dalam kawasan paling strategis di Jakarta. Tidak jauh dari kawasan Segitiga Emas Jakarta di jalur Sudirman-Kuningan-Gatot Subroto; juga berdekatan dengan Senayan dan Semanggi serta hanya selemparan batu dari Gedung DPR. “Dekat dengan lokasi yang sering menjadi pusatnya orang berdemo di depan parlemen,” tutur Romo Rochadi Pr;

3.      Gereja Pejompongan termasuk pecahan dari Gereja Katolik Paroki Kristus Salvator Slipi dan dirintis oleh para imam Konggregasi CICM pada tahun 2002 dan beberapa tahun kemudian dialihtugaskan kepada para romo praja diosesan KAJ.

Romo Rochadi Widagdo Pr

Gereja multikultural dan multireligius

Beberapa hal luar biasa lainnya –seperti kata Romo Rochadi—muncul pada sejarah bagaimana Gereja Pejompongan ini dibangun dari bekas bangunan lama yang dibongkar habis untuk kemudian didirikan bangunan gereja yang baru.

Inilah beberapa faktanya:

1.      Arsitektur bangunan gereja dikerjakan oleh Ir. Sindhu Hadiprana.

2.      Arsitek Ir. Josef W. Arga Setya merancang atap gereja dengan bentuknya yang khas yakni berbentuk daun. Menurut pengakuannya, ini adalah karya arsitekturnya yang paling sulit dikerjakan selama berprofesi sebagai arsitek. Untuk menguji ketahanan rancangan bangunan ini, dia nekat menggantungkan beban berupa mobil seberat 1,5 ton pada titik konstruksi paling lemah. Dan itu berhasil: artinya, hasil rancangannya kuat.

3.      Gunawan, seorang seniman Buddhist, yang mengerjakan bangku umat, meja dan kaki altar;

4.      Tabernakel yang berbentuk lidah api yang menyala-nyala dikerjakan oleh Yani Mariani Sastranegara yang beragama Islam. Ia juga mengerjakan bejana baptis, tiang kapel adorasi yang berbentuk piala, dan kaki altar dengan hiasan kembang wijayakusuma;

5.      Patung Bunda Maria terbuat dari bahan perunggu dikerjakan oleh seniman Teguh Ostenrik. Seniman yang biasa menangani tata panggung ini juga mengerjakan patung Yesus berbahan perunggu, corpus Christi perunggu, dan Malaikat Gabriel yang menyampaikan Kabar Gembira kepada Maria.

Begitu selesai mengerakan patung Bunda Maria, kata Romo Rochadi menirukan pengakuan Teguh, “Ia selalu menangis tanpa henti, entah karena apa dan beberapa lama kemudian lalu minta dibabtis menjadi katolik”.

6.      FX Widayanto –seniman keramik—mengerjakan lantai menuju altar berhiaskan daun-daun palma. Ia juga menggarapa 14 Pemberhentian Jalan Salib, tempat air suci dan semua ornamen di dalam gereja dengan bahan baku keramik;

7.      Pohon Salib Yesus, patung Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus serta Hati Kudus Yesus dikerjakan oleh seniman ukir I Wayan Winten dari Bali yang beragama Hindu.

Para Uskup Indonesia dan pohon salib yesus di gereja pejompongan

8.      Loceng gereja adalah warisan peninggalan kuno pada abad ke-18 yang merupakan donasi dari salah satu umat Paroki. Dibuat di Albany di AS tahun 1837 dengan bahan baku tembaga berbobot 272,155 kg, lonceng kuno ini ditemukan di Brooklyn dan dibeli umat katolik Paroki di sana untuk kemudian disumbangkan ke Gereja Kristus Raja Pejompongan.

Pukul 15.05

Ketika diminta membantu mengerjakan desain ukiran untuk patung Yesus Tersalib, seniman ukir I Wayan Winten dari Bali mengaku kesulitan menemukan ‘gambar’ Yesus dalam benaknya.

“Sungguh, beliau mengaku tidak punya ide sama sekali tentang apa dan bagaimana ‘wajah’ Yesus, namun kemudian dia mengukir dan mengukir hingga hasilnya terlihat seperti sekarang: Wajah Yesus yang tersembunyi di balik balok kayu sekarang muncul ke permukaan karena ulah kreatif Bapak I Wayan Winten,” jelas Romo Rochadi Pr.

Menurut dia, ketersediaan kayu jati gelondongan utuh ini juga “jatuh dari langit”. Gelondongan kayu jati ukuran raksasa ini tidak memiliki kambium –sesuatu yang sangat aneh. Konon, usianya sudah ratusan tahun dengan ketinggian mencapai 8 meter.

Yang menarik lagi, tambah Romo Rochadi, saat pohon  Salib Yesus dalam gelondongan kayu jati raksasa yang utuh ini ditarik ke atas untuk “diberdirikan”, ada beberapa peristiwa ‘ganjil’ yang terjadi.

“Kami mendirikan pohon Yesus Tersalib ini selama tiga hari. Pada hari ketiga, persis pukul 15.05, tiba-tiba sling (kawat baja) itu putus. Padahal sling ini jelas punya kekuatan tarik atau angkat dengan tonase yang sudah diperhitungkan matang-matang, namun toh putus juga,” kata Romo.

Pohon Yesus Tersalib Gereja PejomponganKisah Injil mencatat, Yesus meninggal tepat pada pukul 15.00 dan sejenak kemudian gejala alam pun berupa guntur dan petir menyambar-nyambar di Bukit Kalvari.

Menurut pengakuan I Wayan Winten sebagaimana dituturkan oleh Romo Rochadi, berkali-kali saat mengerjakan ukiran timbul dari pohon utuh ini, dia mengalami taksu yang dalam bahasa Bali berarti energi spiritual lantaran tekun berkanjang dalam matiraga dan olah batin.

Pada saat Misa Penutupan Sidang KWI 2013 di Gereja Katolik Paroki Kristus Raja di Pejompongan itu semua pihak –selain Yanni—yang pernah terlibat memberikan sentuhan artistiknya pada bangunan gereja ini hadir.

Duet seniman

Yani Mariani Sastranegara dan Teguh Osterik berduet mengerjakan kapel adorasi. Ruangan ini terletak di lantai dasar dengan hiasan ornamen-ornamen mozaik dari khasanah Gereja Kuno. Terhampar juga di situ sebuah batuan onik dan fosil alam.

Yani dan Gunawan juga berduet mengerjakan ornament bunga wijayakusuma di kaki altar depan.

Photo credit: Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Pejompongan, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat (Mathias Hariyadi)

Sumber tambahan: Media Internal Paroki Pejompongan (budi baik Mas Simon Widodo, umat paroki)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: