Gereja Katolik dan Single Mother (3)

< ![endif]-->

LALU, bagaimana sikap dan cara pandang Gereja Katolik mencermati hal ini? Juga,  apa upaya konkret Gereja dalam mengembangkan sikap berbela rasa terhadap para SM?

Dengan lantang, Romo  DR Ignatius L. Madya Utama SJ, yang juga menjadi narasumber dalam diskusi tersebut, menunjukkan keberpihakannya kepada para SM. Rohaniwan yang bersama para Suster Gembala Baik sudah belasan tahun secara intens mendampingi para SM ini menegaskan bahwa sikap berbela rasa harus dimulai dari keluarga, gereja dan masyarakat.

Menuru dia, keberadaan SM justru merupakan tantangan hidup beriman, bagi si SM sendiri, Gereja maupun masyarakat.

Dosen teologi pastoral  di berbagai perguruan tinggi ternama ini mengajak kita menyimak sejumlah perikop berikut sebagai landasan berpikir dan bertindak.

Yakni Mazmur 146:9 “…anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali; Mazmur 68:6 “Bapa bagi anak yatim dan pelindung para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Matius 9:13 “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan”;  serta Yakobus 1:27 “Ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah Bapa kita adalah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga seupaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia”.

Sejumlah perikop tersebut tidakkah “menyentil” kita? Allah sendiri sudah memberi contoh nyata betapa besar kasih-Nya kepada anak-anak yatim dan para janda. Tak lain karena para janda dan yatim-piatu ini tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk gantungan hidup sekaligus untuk melindungi diri. Melalui keteladanan cinta kasih-Nya, Allah menghendaki agar mereka yang berbeban berat, diringankan. KBKK retret dengan Romo Madyautama SJ

Namun seperti apa realitas yang ada? “Mereka yang sudah berbeban berat malah ditambahi beban lagi oleh sikap kita yang sok suci dan tak berbela rasa,” tukas Romo Madya yang kini ditugaskan di Pusat Pastoral Yogyakarta.

Situasi terkini

Dalam urusan berbela rasa ini sebetulnya Gereja Katolik sudah sejak lama jelas-jelas berpihak pada mereka yang lemah dan papa. Sikap tersebut tertuang sangat jelas dalam Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio (FC)  tentang Peranan Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern, 22 November 1981.

Yakni Gereja wajib berusaha memahami berbagai situasi penghayatan pernikahan dan hidup berkeluarga zaman sekarang, untuk menunaikan tugas pelayanannya (FC 4). Ironisnya, tukas Madya, banyak umat Katolik, bahkan para pastor yang tidak membaca FC hingga tidak menerapkan anjuran tersebut dalam kehidupan menggereja secara nyata.

Bukan hanya FC 4 yang bisa dijadikan pegangan. Simak pula FC 71 yang mengharuskan Gereja untuk mendampingi, bukan hanya sebatas doa, namun juga mengulurkan tangan secara konkret kepada mereka yang paling membutuhkan pertolongan dan dukungan. Yakni mereka yang miskin, sakit, lanjut usia, cacat, yatim-piatu, janda, suami atau istri yang ditinggalkan, ibu-ibu yang tidak menikah, dan para calon ibu yang berada dalam situasi sulit dan yang tergoda untuk menggugurkan kandungan.

Perempuan renta Hanoi ok

Lalu siapa yang wajib mengulurkan tangan penuh kasih kepada para miskin papa, termasuk SM? FC 73 menyebutkan bahwa “Para uskup wajib mendukung keluarga dalam kesulitan-kesulitan serta penderitaannya, dengan sungguh memperhatikan para anggotanya, serta menolong mereka menyoroti hidup mereka dengan terang Injil. Begitu juga dengan para imam dan diakon hendaklah tiada hentinya menghadapi keluarga-keluarga sebagai bapa, saudara, gembala dan guru, mendampingi mereka dengan upaya-upaya rahmat serta menyertai mereka dengan cahaya kebenaran.”

Begitu juga FC 74 yang mengatakan bahwa “Kaum religius dapat membuka rumah-rumah mereka sendiri untuk menyediakan jamuan sederhana dan penuh kehangatan, sehingga di situ keluarga-keluarga dapat menemukan suasana kehadiran Allah, dan mulai menikmati doa dan rekoleksi, serta menyaksikan teladan praksis kehidupan yang dihayati dalam cinta kasih dan kegembiraan persaudaraan sebagai anggota keluarga Allah yang lebih luas.”

Berdasarkan sejumlah Anjuran Apostolik tersebut, Romo Madya menegaskan, “Sebagai SM, Anda berhak menerima sakramen yang menjadi satu-satunya sumber kekuatan dari Tuhan. Ingat, Tuhan tidak sedang menghukum Anda.

Sayangnya tidak sedikit pastur, bahkan prodiakon yang merasa lebih pintar dari Tuhan hingga merasa berhak menghakimi.” Sikap sok suci dan merasa berhak menghakimi ini dirasakan langsung oleh seorang SM yang terang-terangan dilarang menjadi lektor. Atau SM lain yang hanya bisa bertanya-tanya dalam hati mengapa pencalonannya sebagai Ketua Sie Liturgi di lingkup lingkungan tempatnya tinggal dibatalkan begitu saja tanpa penjelasan apa pun dari para “petinggi” setempat.  (Bersambung)

Photo credit:

  • Romo Ignatius L. Madyautama SJ tengah memberi retret kepada segenap anggota Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK)
  • Suasana misa di Katedral Hanoi, Vietnam (Mathias Hariyadi)
  • Pemandangan mengharukan tentang seorang ibu renta yang khusuk berdoa di depan patung Santo Yusuf di Kompleks Keuskupan Hanoi, Vietnam (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

1 Comment

  • romo bagaimana cara kita mendekati dan menolong para single mother
    matursuwun Berkah Dalem Gusti

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: