Gerakan Advokasi tentang HIV/AIDS (2)

< ![endif]-->

CERITA pilu itu begini.

Anak perempuan berumur 14 tahun itu telah  dijual oleh orang tuanya, kalangan petani miskin yang untuk makan pun belum tentu bisa sekali dalam sehari. Jangan kata mendapatkan penghasilan sebesar UMR DKI Jakarta. Boro-boro.

Apakah anak ini berdosa? Tidak bermoral?

Oh ya pada saat itu, pandangan masyarakat kita belum berubah. Mereka masih menganggap HIV dan AIDS adalah penyakit kutukan untuk orang tidak bermoral. Lalu bagaimana dengan bayi-bayi yang terlahir dari istri-istri yang tertular dari suaminya? Apakah mereka juga berdosa?

Baiklah jika kita beranggapan bayi-bayi tersebut menanggung kutukan akibat dosa orang tuanya. Lalu apa tindakan kita sebagai orang beragama?

Nurani saya tertohok oleh ucapan seorang pemuka agama yang waktu itu bekerjasama dengan saya untuk melakukan penyebaran informasi yang benar tentang sebab-sebab penularan HIV. Tugasnya sebagai pemuka agama adalah mencegah di bagian “hulu”.

Namun jika kita gagal, apakah kita akan menutup mata terhadap “kekotoran” yang terhadi di “hilir”? Apakah kita harus berdiam diri saja (bahkan mengutuk) bayi-bayi itu dan membiarkan mereka mati?

Mitos salah

Sampai dengan hari ini, masih banyak mitos yang salah di masyarakat tentang HIV dan AIDS. Bahkan seorang anggota DPR dari Komisi Kesehatan –juga seorang dokter– masih berani mengatakan di depan media dan publik dengan pernyataan ngawurnya:

Ada penyakit seperti HIV/AIDS, kok malah dapat obat gratis? Terhadap mereka harusnya ada semacam punishment (sanksi). Itu harus dilakukan, karena mereka melakukan kesalahan sendiri tidak menerapkan pola hidup sehat”.

Spontan nurani perempuan saya berontak.

Mungkin kasarnya saya berkata: “Hai Ibu anggota parlemen yang terhormat, jika begitu orang gendut yang kena diabetes atau terkena penyakit jantung juga tidak layak diobati ya? Itu karena mereka tidak menerapkan pola hidup sehat?,” begitu kata hati saya.

“Lalu bagaimana dengan orang yang dalam pekerjaannya terkena paparan  zat kimia dan kemudian terjangkit penyakit kanker? Bagaimana dengan para insinyur yang mengalami kecelakaan kerja? Salah sendirikah mereka itu, hanya karena bekerja di rig?,” gugat batin saya.

“Pekerja konstruksi yang terjatuh dari scaffolding, itu salah siapa? Salah sendiri karena tidak bisa menjaga keamanan? Juga satpam atau polisi yang kena bacok  perampok ketika ingin memberi pertolongan saat berdinas: salahkah mereka karena lalai?,” demikian isi hati menggugat “kebodohan” anggota DPR dari Komisi Kesehatan itu.

pasien AIDS IB times

Pelayanan kesehatan

Dalam Medical Ethics ada empat prinsip utama dalam memberikan pelayanan.

Prinsip keadilan (principle of justice) adalah kewajiban  moral untuk berbuat sesuatu di tengah-tengah berbagai competing claims. Semua orang berhak mendapatkan pelayanan yang sama tanpa melihat umur, jender, maupun latar belakang status sosial.

Pasien perempuan muda berumur 14 tahun dengan HID/AIDS positif itu tidak mendapatkan haknya. Hak untuk mendapatkan informasi yang benar tentang pencegahan HIV dan AIDS. Hak untuk mendapatkan pendidikan. Ia berhak memperoleh hak-hak sipilnya agar bisa tumbuh sehat seperti anak sebayanya.

Tapi apa lacur, masyarakat sudah keburu menghakiminya secara tidak adil –seperti katakanlah ibu anggota DPR itu—yang mungkin bicaranya begini: “Salahmu sendiri kenapa mau  jadi seorang PSK (pekerja seks komersial). Cari kerjaan lain kan bisa? 

Hati saya memberontak. Dalam hati ini, saya ingin berkata kepada Ibu anggota DPR itu begini:

Sebelum akhirnya Anda dengan gagahnya bisa omong seperti itu di media, coba duduklah tenang dan sekarang bertanyalah pada diri sendiri: Apa yang bisa saya harapkan dari orang lain (para dokter) ketika saya menjadi perempuan PSK hidup dengan  HIV/AIDS  itu?

Sungguh, pada hemat saya, gadis PSK  berumur 14 tahun yang menderita AIDS itu tidak pernah mau minta duit dari anggota DPR terhormat. Yang mereka inginkan adalah penerimaan tulus dari masyarakat dan mengakui dia bahwa dia tengah menderita sakit serius dan butuh layanan kesehatan yang memadai.

Jadi ibu anggota parlemen yang terhormat, apakah Anda masih akan mengatakan hal yang sama jika anak umur 14 tahun itu adalah saudara dan bahkan dia itu anak perempuan Anda sendiri?,” begitu isi hati saya memberontak mendengar pernyataan konyol dari seorang anggota DPR Komisi Kesehatan yang nota bene juga seorang dokter.

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

Tautan:  Berjumpa dengan Perempuan Muda Positif HIV/AIDS (1)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: