Generasi yang Terlibat

Rm. Eko 2“BILA kita mengkaji lebih cermat, kita menemukan bahwa kini perubahan terjadi bukan dalam hitungan tahun ataupun bulan namun menit dan detik,” demikian Frank Mercadante mengatakan. Hal ini rasanya benar bukan saja dalam bidang tehnologi namun juga merambah bidang kehidupan lain. Ketika bayi berusia dua tahun sudah tahu memainkan remote control dan HP, itu artinya apa? […]

Rm. Eko 2

“BILA kita mengkaji lebih cermat, kita menemukan bahwa kini perubahan terjadi bukan dalam hitungan tahun ataupun bulan namun menit dan detik,” demikian Frank Mercadante mengatakan.

Hal ini rasanya benar bukan saja dalam bidang tehnologi namun juga merambah bidang kehidupan lain.

Ketika bayi berusia dua tahun sudah tahu memainkan remote control dan HP, itu artinya apa? Memang anak zaman kini kian lincah memainkan jari di atas keyboard. Mereka tidak hanya tahu dari apa yang diajarkan oleh orang tua, melainkan apa yang ditampilkan layar.

Inilah generasi yang lahir dengan tatanan budaya baru. Mercadante menyebut generasi demikian ini sebagai millennial generation.

Kita melihat adanya perubahan budaya karena perubahan pola padangan dalam sistem yang ada. Generasi era 1960-1980 masih terpengaruh dua Perang Dunia yang menyisakan pengalaman pahit dan melahirkan strukturalisme yang kokoh. Sedangkan generasi yang lahir di era tahun 1990 sampai 2010 adalah generasi yang lahir dengan tatanan budaya baru.

Lebih lanjut dikatakan bahwa generasi millennium tiga ini justru tidak lagi menganut padangan dari budaya modern yang terlalu strukturalis. Generasi ini lebih melihat realitas hidup konkrit dan tidak hanya tergantung dari tatanan idealisme yang ada. Mereka mau mengekspresikan dirinya dari apa yang ditangkap dan diinterpretasikan sendiri dalam tindakan konkrit. Dipengaruhi aliran pemikiran dekonstrusi, mereka mau menunjukkan pola perilaku sosial yang bebas.

Adakah sisi positif dari millennial generation ini? Mereka adalah generasi yang mau terlibat dan peduli dengan komunitasnya. Generasi ini mungkin individualistis namun juga komunalistis. Maksudnya mereka mau terlibat dalam komunitas. Unsur positifnya adalah kepedulian untuk terlibat. Namun karena warisan budaya dari generasi sebelumnya, pertumbuhannya tidaklah mudah.

Membangun budaya komunikatif

Banyak orang bicara mengenai pengaruh globalisasi mengikis nilai-nilai tradisi. Banyak orang mengecam pergeseran nilai dalam diri generasi muda. Banyak orang mempertanyakan perubahan apa yang bisa dibawa generasi muda. Bila generasi muda kini mau terlibat dalam komunitas, mungkin yang perlu dibangun adalah budaya komunikasi.

Rm. Eko 2

Kaum muda di Texas, Amerika Serikat yang juga butuh pendampingan pastoral. (Ist)

Generasi muda merupakan subyek yang luar biasa dalam jumlah dan energinya. Energi itu harus ditempatkan dalam upaya membangun kehidupan yang lebih baik. Zaman ini mengajari kita menempatkan mereka sebagai subyek yang bebas membangun komunitas bersama.

Untuk itu, perlu adanya tindakan sosial yang mengarah kesana dalam memberikan peluang pada the third millennial generation turut berperan aktif, sehingga mereka merasa lebih dimanusiawikan. Meminjam theory of communicative action dari Jurgen Habermas, kalau kita mau menghasilkan perubahan dalam masyarakat, yang utama dibangun adalah tindakan komunikatif bukan budaya konfrontatif. Orang muda perlu diberi stimulus dalam membangun tindakan komunikatif aktif itu dengan menempatkan mereka sebagai subjek yang bebas.

Rm Eko Y

Penulis bersama kolega imam di Amerika Serikat. (Ist)

Ini yang diharapkan oleh orang muda zaman sekarang. Mereka tidak ingin didikte dari sang guru termasuk ideologi, melainkan diasah kepekaan mereka dalam membangun budaya nilai yang komunikatif. Budaya nilai komunikatif itu merupakan tindakan sadar manusia dalam membangun kebersamaan dalam tindakan komunikatif. Komunikasi demikian membangun kedewasaan pribadi dalam komunitas. Ini juga turut memperkokoh sendi kehidupan masyarakat.

Bangun dialog
Good news dari the third millennial generation adalah semangat untuk turut berpartisipasi aktif dalam kehidupan bersama. Ini menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi kita dalam membangun kehidupan bersama yang lebih beradab dan bermartabat. Mereka adalah generasi yang tidak lagi mau terkurung dengan sistem yang ada, namun mereka terjebak sistem yang ada karena ketidakpedulian kita dalam mengembangkan mereka sebagai subjek dalam membangun budaya komunikatif yang produktif dan dewasa.

Kini diperlukan pendidikan nilai budaya komunikatif. Cara sederhana yang cukup efektif adalah mengajak dialog dan melibatkan mereka dalam derap pengembangan hidup. Kita perlu melibatkan mereka dan memberikan peluang bagi mereka untuk berpartisipasi aktif dalam dinamika pembangunan komunitas.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply