Gempa

Ayat bacaan: Lukas 10:33
=====================
“Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”

gempa, berbuat baik, peduli

Gempa yang cukup besar baru saja mengguncang bagian barat pulau Jawa. Saya dan istri sempat lari keluar dari rumah ketika gempa itu terjadi beberapa hari yang lalu. Goncangannya keras bahkan mobil yang sedang parkir di luar rumah pun bergoyang ke kiri dan kanan. Efeknya memang tidak terlalu besar di Bandung, tapi di beberapa wilayah yang sangat dekat dengan pusat gempa seperti Tasikmalaya dan Garut dampak yang ditimbulkan sangat serius. Gempa dengan kekuatan 7.3 skala reichter itu menghancurkan banyak rumah dan membuat banyak keluarga kehilangan anggotanya. Sampai hari ini pencarian korban tertimbun masih dilakukan, dan bau menyengat sudah tercium dimana-mana. Memilukan melihat korban gempa harus berhimpitan di tenda-tenda darurat. Korban cedera ada dimana-mana, orang yang terus mencari keluarganya yang hilang begitu banyak, yang menangisi kepergian anggota keluarganya pun tidak sedikit. Kita yang tidak mengalami kemalangan mungkin bersyukur bahwa kita tidak terkena dampaknya, tapi bagaimana mereka yang terkena musibah? Sudahkah kita peduli kepada mereka, meski mungkin kita tidak mengenal satupun dari mereka? Sementara kita aman saat ini, apakah kita memikirkan mereka yang tengah menderita menunggu bantuan dan tengah bersedih kehilangan keluarga dan harta bendanya? Sudahkah kita menjadi anak-anak Tuhan yang peduli, yang selalu rindu untuk berbuat baik tanpa pandang bulu? Sudahkah kita tergerak untuk mengasihi sesama tanpa terkecuali?

Mari kita lihat kisah orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10:25-37. Pada suatu ketika ada orang yang dirampok dan dipukuli sampai setengah mati dalam perjalanannya dari Yerusalem menuju Yerikho. Ia sekarat dan butuh bantuan. Seluruh hartanya sudah ludes dirampok. Ketika ia tengah tergeletak hampir mati lewatlah seorang imam. Apakah ia membantu? Tidak. Mungkin sang imam tengah terburu-buru hendak berkotbah atau melayani, mungkin ia takut terlibat atau mungkin hendak buru-buru pulang setelah melayani. Apapun alasannya, ia ternyata tidak melakukan apapun. Ia hanya melihat dan kemudian bergegas melewati tanpa menolong. (ay 31). Setelah itu lewatlah orang Lewi. Orang Lewi menggambarkan pelayan-pelayan dan hamba Tuhan, atau di masa sekarang bisa menggambarkan orang-orang Kristen yang melayani. Tapi sama seperti si imam, ia pun memilih untuk melewati tanpa berbuat apa-apa. Mungkin ia tengah tergesa-gesa takut terlambat dalam tugas pelayanan, mungkin ia takut ditegur gembala jika terlambat, atau alasan lainnya. Tapi apapun alasannya, sama seperti si imam, ia pun hanya melintas saja didepannya. (ay 32). Siapa yang lewat berikutnya? Ternyata orang Samaria. Orang Samaria adalah orang-orang yang tidak dipandang oleh orang Yahudi. Mereka terlibat dalam sejarah perseteruan yang panjang bahkan sangat dibenci oleh orang Yahudi. Mungkin orang yang tengah sekarat itu pun adalah orang Yahudi yang termasuk salah satu dari orang yang tidak pernah bersikap baik kepada si orang Samaria ini. Kesempatan balas dendam kepada orang Yahudi, itukah yang ada di benak seorang Samaria tersebut? Ternyata tidak. Justru “ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” (ay 33). Ia membersihkan dan membalut luka-lukanya, lalu membawa orang itu ke penginapan untuk dirawat sementara semua biaya perawatan ditanggungnya. (ay 33-34). Orang Samaria itu tidak mengenal sosok orang yang sekarat. Ia bahkan tidak bertanya siapa orang itu dan dari suku mana ia berasal, apakah ia termasuk yang membenci orang Samaria atau tidak, dan sebagainya. Ia tidak mempersoalkan itu semua. Yang ia tahu bahwa orang itu butuh bantuan, dan ia ada disana dalam kapasitas yang bisa memberi bantuan. Hatinya diliputi belas kasih, belas kasih yang tidak pernah memandang latar belakang, dan itulah yang membuatnya bergerak untuk membantu. Dan Yesus pun mengingatkan kita untuk meneladani orang Samaria ini. “Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (ay 37b).

Saudara-saudara kita tengah menderita dan butuh uluran tangan di sana. Sebagian sekarat, sebagian tengah berdukacita luar biasa, sebagian tengah berjuang untuk tetap hidup. Sebagian dari mereka tidak tahu bagaimana masa depan mereka setelah bencana. Sebagian masih mati-matian mencari anggota keluarganya yang hilang. Pedulikah kita terhadap mereka? Mungkin kita tidak mengenal mereka. Mungkin mereka bukanlah orang yang mengenal Kristus. Tapi apakah itu bisa kita jadikan alasan untuk berpangku tangan? Tidak. Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi siapapun tanpa terkecuali. Mungkin kita menerima cibiran ketika membantu, mungkin kita dicurigai punya agenda lain di balik itu, tapi haruskah itu menghentikan kita untuk berbuat baik? Tidak. Sebab apa yang kita lakukan adalah dengan memandang Tuhan dan bukan manusia. Artinya karena kita mengasihi Tuhanlah maka kita rindu untuk melakukan perintahNya, dan perintahNya berbunyi bahwa kita harus siap menolong siapapun tanpa terkecuali, tanpa pilih kasih atau memandang latar belakang mereka. Yesus mengajarkan “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” (Lukas 3:11). Yesus tidak mengajarkan kita untuk hanya mempedulikan saudara seiman atau orang-orang yang kita kenal saja. Tapi kita diminta untuk peduli dan tergerak untuk menolong dari rasa belas kasih, sejauh kemampuan kita tentunya, untuk siapapun yang membutuhkan. Kita diminta untuk bisa menjadi terang dan garam bagi dunia, bukan hanya bagi kalangan terbatas atau tertentu saja.

Firman Tuhan mengingatkan “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10). Kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik, sesuai dengan yang telah digariskan Allah sebelumnya. Ketika kita sudah diselamatkan, sudah seharusnya kita bisa menghasilkan buah-buah sesuai pertobatan kita. (Matius 3:8). Sekedar bertobat dan menjadi pengikut Kristus saja belumlah cukup. Sebagai hamba Tuhan atau pelayan-pelayanNya saja belumlah cukup. Kita melihat imam dan orang Lewi itu adalah pelayan-pelayan Tuhan, tapi mereka tidaklah menunjukkan buah yang baik. Salah satu dari dua perintah utama berkata “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Mengasihi sesamamu manusia, secara luas, tanpa membeda-bedakan siapa dan dari mana mereka berasal. Mengasihi belumlah lengkap jika kita berhenti hanya kepada memberikan simpati saja tanpa perbuatan nyata. Kita merasa sedih melihat para korban, tapi tidak berbuat apa-apa, itu belumlah menunjukkan buah yang baik. Kita harus pula melakukan tindakan nyata, turun tangan membantu mereka dengan apa yang sanggup kita beri atau lakukan. Mungkin kita tidak kenal, mungkin kita tidak pernah bertemu dengan mereka, namun mereka pun berharga di mata Tuhan sama seperti kita. Untuk itulah kita seharusnya terpanggil, tergerak oleh belas kasih untuk berbuat sesuatu bagi mereka.

Paulus mengingatkan: “Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.” (2 Tesalonika 3:13), dan Penulis Ibrani berkata “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 13:16). Sudah seharusnya kita bisa menjadi perantara untuk menyatakan kasih Tuhan kepada sesama kita. Sudah seharusnya Allah bisa dipermuliakan lewat segala perbuatan baik kita. Yakobus berkata: “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik. Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.” (Yakobus 2:8-9). Jika kita mengimani benar untuk mengasihi sesama kita, maka kita pun seharusnya bisa segera bergegas untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Apakah itu memberikan sumbangan, bantuan sembako, atau terjun langsung kesana untuk meringankan beban mereka, segala sesuatu yang kita lakukan itu tentu sangat berarti bagi mereka, dan disisi lain itu pun bernilai di mata Tuhan. Mari kita lakukan sesuatu bagi mereka. Mari kita dukung mereka dalam doa, kiranya Tuhan menguatkan dan memulihkan mereka. Sudah saatnya kita tidak membatasi diri kita hanya dibalik dinding-dinding gereja saja, tapi mulailah menjadi terang dan garam secara nyata bagi dunia. Jangan menjadi sosok eksklusif dan tertutup, tapi jadilah anak-anak Tuhan yang selalu rindu untuk menolong dan berbuat baik kepada siapapun. Ada banyak orang yang saat ini tengah menanti uluran tangan penuh kasih, terlebih di saat bencana seperti gempa kemarin melanda sebagian dari saudara-saudara kita. Let’s do something for them!

Jadilah jemaat yang selalu rindu untuk berbuat baik

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply