Gema

Ayat bacaan: Filipi 4:8
==================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

gema

Saya pertama mengenal gema ketika pada suatu kali ayah saya mengajak saya ke atas gunung saat saya masih kecil. Di sana ia menyuruh saya mencoba meneriakkan sesuatu. Betapa kagetnya saya mendengar suara saya kembali terdengar berulang-ulang. Ayah saya hanya tertawa dan kemudian menjelaskan bahwa itu adalah gema atau echo, sebuah refleksi atau pantulan suara kita yang terjadi ketika gelombang suara kita menumbuk suatu permukaan. Fenomena echo atau gema ini memang menakjubkan. Saat itu pun saya kemudian berulang-ulang meneriakkan sesuatu dan kemudian merasa senang ketika saya kembali mendengarkan pantulannya kembali kepada saya. Apapun yang saya teriakkan akan kembali persis sama. Jika saya meneriakkan “Halo”, makan yang kembali pun pasti “Halo”, dan tidak akan pernah “apa kabar” atau kata lainnya. Itulah fenomena gema, yang sebenarnya bisa kita aplikasikan pula dalam kehidupan kita.  

Apa yang bisa anda katakan mengenai diri anda sendiri hari ini? Syukurlah jika itu adalah kata-kata yang positif. Pada kenyataannya ada banyak orang yang menilai citra dirinya terlalu rendah, buruk dan merasa tidak sanggup untuk melakukan apa-apa. Aku memang bodoh, aku tidak mampu, aku tidak kuat, dan sebagainya. Malah ada banyak orang yang belum memulai sudah langsung merasa gagal. Tidak jarang pula ada orang yang terbentuk dengan percaya diri yang rendah karena sejak kecil sudah terlalu sering dikatai bodoh, baik oleh orang tuanya sendiri, saudara, kerabat atau sahabat. Seperti echo atau gema tadi, apa yang kita teriakkan kepada diri kita sendiri akan kembali kepada kita. Jika kita meneriakkan kata-kata negatif kepada diri kita, maka itulah yang akan terbentuk dalam diri kita. Apa yang kita katakan kepada orang lain pun bisa sedikit banyak mempengaruhi mereka. Apakah kita mengeluarkan kata-kata membangun, menyemangati dan memotivasi, atau merendahkan, mematahkan semangat atau menyepelekan, itu akan memberi pengaruh kepada mereka. Oleh karena itulah sangat penting untuk selalu berpikir atau mengatakan hal-hal yang positif, baik itu untuk orang lain, terutama untuk diri kita sendiri, agar kita terbentuk menjadi orang-orang yang bermental baja dan mampu memandang hidup dari perspektif yang positif pula. Dan itu sejalan dengan apa yang dikatakan firman Tuhan dalam Alkitab.

Kepada jemaat Filipi, Paulus berpesan “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan lebih jelas: “think on and weigh and take account of this things [fix your minds on them]”. Pikirkanlah itu, tekankanlah pada diri anda, dan jangan lupa ubahlah paradigma yang mungkin sudah terlanjur negatif pada pikiran anda. Paulus adalah tipe motivator ulung yang selalu berusaha untuk menyuarakan dan memberi keteladanan positif kepada jemaat-jemaat yang dilayaninya. Ia pun mengatakan “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” (ay 9). Keteladanannya sungguh luar biasa. Tidaklah gampang untuk menjadi seorang Paulus pada saat itu. Ia mengalami banyak penderitaan, namun ia tidak pernah surut untuk memotivasi para jemaat. Think positive, and keep saying all the positive things to yourself and others.

Tekanan permasalahan memang bisa membuat kita melemah lalu kehilangan motivasi atau keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Elia pernah mengalaminya. Ia berkata “Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku. (1 Raja Raja 19:4) Bayangkan jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, apa jadinya Elia? Kepada diri kita sendiri pun demikian. Apabila kita terus mengucapkan hal-hal negatif terhadap diri kita sendiri, mau jadi apa kita nanti? Dan kepada Elia, Tuhan segera bertindak cepat. Dia mengutus malaikat untuk menyuruh Elia segera “bangun”, “makan”, dan “meneruskan perjalanannya”. “Stand up, fill yourself up and keep walking! Don’t give up!” Itu kira-kira pesan Tuhan secara singkat, dan itu sudah kita bahas panjang lebar beberapa waktu yang lalu. Lihatlah bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan itu ada dan peduli. Jika menyadari bahwa Tuhan menyertai kita, mengapa kita harus merasa pesimis dalam memandang hidup? Mengapa kita harus membiarkan citra diri kita terus semakin rusak, baik akibat perkataan orang lain atau perkataan diri kita sendiri yang negatif?

Lihatlah apa yang dijanjikan Tuhan kepada kita. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (Ulangan 28:13-14). Ini adalah sebuah janji penting yang disertai dengan langkah-langkah yang harus kita ikuti jika kita mau mendapatkan apa yang menjadi rencana Tuhan bagi kita. Sikap negatif jika kita biarkan hanyalah akan membuat kita semakin menjauh dari janji-janji dan rencana-rencana yang telah Tuhan rancangkan bagi kita. Melakukan perintah Allah dengan setia, tidak menyimpang, tidak menyembah allah-allah lain, semua itu akan membawa kita mendapatkan apa yang menjadi kehendak Allah bagi kita. Mungkin tidak mudah bagi orang yang sudah terlalu lama hidup dengan pola pikir negatif untuk bisa merubahnya secara instan. Tapi renungkanlah selalu firman Tuhan, siang dan malam, seperti yang juga dianjurkan Daud dalam Mazmur 1:2, dan tanamlah janji Tuhan itu secara kuat dalam hidup kita. Tetaplah fokus kepada janji-janji Tuhan, dengan demikian kita bisa terus hidup dalam pengharapan dan mampu memandang hidup secara positif meski saat ini masih dalam keadaan sulit. Seperti gema yang memantulkan kembali suara kita di atas gunung, siapkah kita menggemakan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan, patut dipuji, dan sebagainya, alias hal-hal yang positif ke dalam hidup kita? Let’s think, weight and take account of these things!

Berpikir positif akan membentuk citra diri positif pula

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: