Gambaran Yesus Lewat Sikap Kita

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 4:13
============================
“Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.”

gambaran Yesus lewat sikap kita“Anak siapa sih ini, kok bandel banget!” ujar seorang teman yang sedang kesal ketika ia terganggu saat ditontoni saat sedang bekerja. Bukan si anak yang disalahkan, tapi kata-katanya langsung menuju kepada orang tua si anak. Kita pun mungkin sering mengeluarkan kata demikian, karena kita merasa bahwa anak kecil tidaklah tahu apa-apa. Memang tugas orang tua untuk mendidik anaknya agar tahu tata krama dan sopan santun. Tapi satu hal yang bisa saya lihat dari kejadian ini adalah seperti apa tingkah laku si anak akan memberi gambaran orang tuanya di mata orang lain. Jika anaknya baik, maka orang tuanya pun dipuji. Sebaliknya jika anaknya bermasalah, serta merta orang tua akan menjadi sasaran tembak orang lain.

Seperti apa orang mengenal kita? Apakah kita dikenal sebagai orang yang baik, ramah, damai, penuh kasih, rajin menolong sesama atau justru sebaliknya, kasar, sombong dan penuh kebencian? Apakah ketika kita hadir orang merasa senang atau sebaliknya ketakutan atau malah kehilangan keceriaan? Sebagai pengikut Yesus, seperti apa citra kita di mata orang lain mau tidak mau akan mengarahkan orang untuk mengenal seperti apa Yesus itu. Orang akan mengenal Yesus lewat pribadi kita.

Pada suatu kali Petrus dan Yohanes ditangkap ketika sedang mengajar oleh para imam kepala dan orang-orang Saduki. Mereka merasa terganggu dengan kegiatan kedua rasul itu dalam mewartakan kabar gembira mengenai Kristus. Penangkapan itu ternyata tidak melemahkan mental mereka. Dan Alkitab mencatat tanggapan orang-orang yang hadir dalam persidangan kala itu. “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. (Kisah Para Rasul 4:13). Lihat bagaimana kedua rasul itu dikenal orang. Mereka dikenal bukan sebagai orang terpelajar, bukan seperti para imam dan orang Saduki yang elite dan punya posisi tinggi di masyarakat, namun mereka dikenal sebagai pengikut Kristus. Citra Kristus tergambar dari cara hidup, pikiran dan perkataan mereka. Yang terjadi selanjutnya adalah, keduanya dibebaskan karena memang tidak ada kesalahan apapun yang bisa didakwa dari mereka. (ay 21).

Sadar atau tidak, seperti apa tingkah dan polah kita dalam bermasyarakat akan mengarah kepada pengenalan orang akan Kristus. Oleh karena itulah kita perlu menjaga perilaku kita agar orang tidak salah mengenal siapa pribadi Kristus itu sebenarnya. Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita agar selalu siap menjadi terang dan garam. Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. (Matius 5:13-16). Garam hanya akan berfungsi jika bercampur dengan makanan. Dan jika garam menjadi hambar, buat apalagi garam itu ada? Demikian pula dengan terang. Terang hanya akan berfungsi dalam gelap. Jika semuanya terang benderang, untuk apa lagi kita menambahkan terang? Posisi terang ada di atas, dan hanya disanalah ia mampu menerangi kegelapan. Dan Tuhan Yesus pun mengingatkan kita agar kita senantiasa mampu menjadi terang dan garam agar Tuhan bisa dipermuliakan. Lebih jauh lagi, Yesus pun telah memerintahkan kita untuk saling mengasihi. Bukan hanya sekedar mengasihi orang lain seperti mengasihi diri kita sendiri saja, melainkan mengasihi orang lain seperti halnya Kristus sendiri telah mengasihi kita. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Hal ini penting, karena “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (ay 35).

Tidak peduli apa pekerjaan, jabatan, status dan tempat kita saat ini, kita selalu dituntut untuk siap menjadi terang dan garam yang bisa mewakili gambaran Kristus di dunia saat ini. Bahkan orang yang dianggap bodoh bagi dunia sekalipun bisa Tuhan pakai. “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” (1 Korintus 1:27). Artinya, siapapun kita, anda dan saya, kita harus selalu siap menjadi duta Kristus dimanapun kita ditempatkan. Alangkah ironis jika Yesus yang mengasihi kita justru mendapat gambaran yang salah di dunia lewat perilaku kita. Yesus sendiri telah mengingatkan kita dan telah memberikan keteladanan yang luar biasa. Kita harus terus berusaha untuk menjadi sosok yang penuh dengan kemuliaan Tuhan sehingga tidak diragukan oleh siapapun disekeliling kita. Dan sudah seharusnya demikian, karena kita sudah menjadi ciptaan baru, tidak lagi sama dengan dunia ini, yang dipenuhi Roh Kudus. Adalah perlu bagi kita untuk menghidupi cahaya Tuhan dalam diri kita hingga orang asing di pinggir jalan sekalipun akan mampu melihat Yesus lewat diri kita. Siapkah anda menjadi duta Kristus yang memberi gambaran yang benar akan diriNya?

Siapa Yesus bisa tercermin dari sikap hidup kita. Jagalah perilaku kita agar Tuhan senantiasa dipermuliakan di dalamnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: