Ayat bacaan: Maleakhi 2:17
================
“Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” Dengan cara kamu menyangka: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan–atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?”

Ada sebuah anekdot menceritakan tentang 10 orang yang diminta mendeskripsikan gajah dengan mata tertutup dengan cara meraba. Kesepuluh orang ini belum pernah melihat gajah sebelumnya dan berdiri pada sudut-sudut yang berbeda. Saat mereka ditanya, jawaban yang muncul berbeda-beda. Ada yang bilang gajah itu seperti ular, bentuknya panjang karena ia kebetulan berdiri pada posisi belalai. Ada yang bilang gajah itu punya sayap lebar karena berada pada posisi kuping, ada pula yang berkata gajah mirip pohon karena meraba kaki dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa akan sangat sulit bagi kita untuk mendeskripsikan seperti apa bentuk gajah secara utuh kalau hanya terfokus pada satu sisi saja.

Ini bisa menggambarkan cara kita memandang Tuhan. Adalah kecenderungan manusia untuk menempatkan Tuhan tidak pada posisi sesungguhnya melainkan hanya disesuaikan dengan pendapat pribadi tanpa mengenal dengan jelas terlebih dahulu, dibentuk sesuai kebutuhan diri sendiri atau berdasarkan apa yang menjadi selera atau keinginan mereka. Mengambil sepenggal-sepenggal lalu mengartikan sendiri. Menciptakan Tuhan menurut selera masing-masing tanpa peduli gambaran seutuhnya. Tidaklah heran apabila ada yang merasa biasa saja melakukan dosa karena mereka menganggap Tuhan itu Maha Pengampun. Berbuat dosa lantas minta ampun, kemudian ulangi lagi. Bukankah Tuhan itu selalu siap memberi pengampunan, pikir mereka. Jadi tidak apa-apa kalau berbuat dosa sedikit-sedikit, nanti tinggal minta diampuni, beres. Ada juga yang menilai bahwa Tuhan itu kejam dan otoriter sehingga mereka hidup penuh rasa takut dan tidak layak. Ada yang merasa Tuhan ada di bawah mereka sehingga perlu dibela, menganggap Tuhan itu berdarah dingin sehingga mereka boleh menyakiti orang lain bahkan tidak segan-segan membunuh dengan mengatasnamakan Tuhan. Tuhan yang satu dideskripsikan berbeda menurut selera masing-masing, tanpa memandang sosok Tuhan secara utuh.

Dalam kitab Maleakhi ada dikatakan: “Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” Dengan cara kamu menyangka: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan–atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?” (Maleakhi 2:17). Ayat ini menunjukkan bagaimana orang bisa dipengaruhi oleh ilusinya sendiri, hingga berani membentuk image baru akan Tuhan. Mereka menyangka bahwa berbuat jahat bisa baik di mata Tuhan, bahkan berani berkata bahwa Tuhan berkenan terhadap kejahatan. Ini adalah sebuah bentuk penggambaran Tuhan menurut pandangan pribadi tanpa mengenal sifat-sifat Tuhan terlebih dahulu secara baik. Penggal satu ayat, kemudian pelintir sendiri sesuai kebutuhan. Ketika ada ayat yang mengatakan bahwa Tuhan selalu siap mengampuni dosa, maka mereka menganggap ada banyak kesempatan berbuat dosa karena nanti tinggal ‘lapor’ dan langsung beres. Ada yang menganggap bahwa gosip itu tidak apa-apa karena hanya untuk kesenangan saja, berbohong kecil itu boleh dan yang tidak boleh adalah menipu yang bisa menimbulkan kerugian materi besar, korupsi kecil tidak apa-apa asal jangan milyaran, sekali-kali menikmati dosa itu tidak apa-apa karena Tuhan yang baik pasti mengerti, dan sebagainya. Ini adalah kecenderungan dari orang-orang yang tidak mengenal Tuhan secara benar, sehingga mereka berani menempatkan Tuhan pada posisi sesuai keinginan mereka. Jika pemikiran seperti ini terus dipelihara, kita bisa terjebak pada konsep yang salah. Itu sama saja dengan menyalahgunakan kebaikan Tuhan yang tentu saja bisa berakibat fatal. Jika pola pikir sendiri tentang Tuhan terus dipupuk, lama kelamaan orang tidak akan peduli lagi terhadap kebenaran firman Tuhan yang sesungguhnya sudah menjelaskan secara rinci seperti apa sebenarnya Tuhan itu.

Ada banyak pula yang mengira bahwa jika Tuhan memang mau menghukum, itu akan langsung terjadi seketika itu juga. Jadi kalau satu-dua perbuatan dosa sepertinya ‘luput’ dari hukuman Tuhan, mereka menganggap bahwa itu artinya Tuhan memberi toleransi yang bisa dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk melakukan beberapa dosa berikutnya demi memuaskan keinginan daging. Kenyataannya tidak seperti itu. Tuhan tidak pernah berkenan terhadap perbuatan jahat, dan pada saatnya nanti semua harus dipertanggungjawabkan sepenuhnya. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Itu kebenaran firman Tuhan. Artinya, cepat atau lambat, ganjaran akan datang, dan tidak akan pernah sebuah perbuatan jahat itu berkenan di mata Tuhan. Kalaupun Tuhan memberi kesempatan seharusnya dihargai sebagai sebuah peluang untuk memperbaiki hidup secara utuh dan menyeluruh, bukan malah dimanfaatkan buat melakukan kesalahan lebih lagi.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.