From RHO-ers: Pikirkanlah Semuanya Itu!

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan:
Filipi 4:8
========================

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Seorang teolog pernah mengatakan bahwa “change always starts first in your mind, the way you think determines the way you feel, and the way you feel influences the way you act.” (perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.)

Seorang sahabat karib bercerita kepada saya bagaimana ia dikecewakan di dalam pelayanan Gerejawi. Ia seorang yang “fight” untuk kebenaran. Ia memang bukan seorang yang “suci” dan tanpa noda, akan tetapi ia menunjukkan komitmen dan kesungguhannya untuk “fight a good fight” di dalam pelayanannya. Slogan salah satu Seminary di Jakarta menjadi iluminasi bagi dirinya. Slogan itu berbunyi: “SEEK the truth, COME whence it may, COST what it will.” (jika diterjemahkan secara bebas kira-kira berbunyi demikian: “CARILAH kebenaran, DATANGLAH darimanapun asalmu, BAYARLAH berapapun harga kebenaran itu.”)

Akan tetapi “serangan” yang menimpa dirinya membuat ia “down” dan kecewa dengan Gereja dan para pemimpin Gereja dengan segala politik kotornya. Ia mulai berubah jadi lebih sensitif (dahulu memang sudah peka, akan tetapi sekarang jadi “terlalu” peka). Ketika ia berbicara dengan orang lain, maka ia bisa dengan mudahnya tersinggung dan meledak marah-marah. Lalu setelah meledak marah-marah, ia menyesal kepada orang yang dengannya ia sudah menunjukkan sikap yang kurang baik. Akan tetapi partner dia tidak pernah menyerah untuk terus mengingatkan dia bahwa dirinya adalah “korban” daripada kelicikan dan kemunafikan Gereja.

Ketika saya merenungkan apa yang terjadi dengan dirinya dan Gereja tempat ia melayani, tiba-tiba saya teringat kisah yang terjadi di dalam Gereja di Filipi. Pada waktu rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaatnya di Filipi, ia sedang berada di dalam penjara di Roma. Hati Paulus begitu bersukacita melihat keadaan rohani jemaatnya di Filipi, akan tetapi pada penutup akhir suratnya (LAI memberi judul: “Nasihat-nasihat terakhir” [Filipi 4:2-9]), Paulus teringat akan kasus Euodia dan Sintikhe yang terdengar hingga keluar kota Filipi. Kita tidak tahu secara persis apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua, akan tetapi sepertinya perselisihan mereka bisa berbahaya bagi keutuhan jemaat di Filipi. Itu sebab rasul Paulus dengan sangat meminta bantuan Sunsugos “temannya yang setia” untuk jadi perpanjangan tangan rasul Paulus menyelesaikan perselisihan di antara Euodia dan Sintikhe.

Hal yang menarik dari “surat penjara” ini adalah si penulis surat itu sendiri! Rasul Paulus! Bagaimana mungkin kok Paulus bisa begitu peduli dengan keadaan jemaatnya sedangkan dirinya sendiri sedang berada di dalam penjara?! Ternyata salah satu “ingredients” (resep) mengapa Paulus bisa menuliskan surat sukacitanya ini dari balik penjara adalah karena Paulus tidak menekan focus hidupnya pada dirinya sendiri yang terpenjara! Paulus menolak untuk mengasihani dirinya sendiri! Paulus memilih untuk mengasihani dan mempedulikan dan menguatkan jemaatnya di Filipi! Itu sebab surat ini sarat dengan pesan: BERSUKACITALAH! Di dalam Filipi 4:4 rasul Paulus mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi (berarti Paulus ingin menekankan hal ini) kukatakan: Bersukacitalah!”

Pertanyaannya sekarang adalah: “Bagaimana nih Om Paulus untuk kita dapat senantiasa bersukacita di dalam Tuhan?” Om Paulus tidak berlama-lama menjawab, Paulus menuliskan jawabannya demikian: Jika kalian mau ada sukacita yang senantiasa di dalam Tuhan, maka “janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (4:6) Sebab hanya dengan membawa SEMUA kekhawatiran kita, di sana kita mendapat SELURUH kepenuhan akan damai sejahtera Allah. Paulus melanjutkan, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (4:7)
Setelah kita belajar untuk menyerahkan semua kekhawatiran kita kepada Tuhan, Paulus melanjutkan pesan terakhirnya dengan mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang BENAR, semua yang MULIA, semua yang ADIL, semua yang SUCI, semua yang MANIS, semua yang SEDAP DIDENGAR, semua yang DISEBUT KEBAJIKAN dan PATUT DIPUJI, PIKIRKANLAH SEMUANYA ITU (!)” (4:8)

Pada akhir nasihatnya Paulus kembali mengingatkan kita prinsip sederhana dari sebuah kemenangan dan kesukacitaan hidup: PIKIRKANLAH SEMUANYA (yang benar, mulia, adil, suci, manis, dsb.) itu!! – mengapa perjalanan hidup kekristenan dan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita terlalu banyak dipenuhi oleh kegeraman, kepahitan, kebencian, akal jahat, dsb? Jawabannya mungkin karena kita memfokuskan pikiran dan hati kita pada SEMUA yang salah, yang menjijikan, yang unfair, yang tidak suci/tidak pantas, yang pahit, yang tidak patut dipuji, dsb.

Marilah kita sama-sama belajar bukan saja dari ISI surat Paulus ini, tetapi juga dari ISI hati Paulus. Ia terpenjara secara fisik, tetapi jiwanya terbebas dan dilingkupi sukacita. Bahkan sukacita itu begitu bergeloranya di hati Paulus sehingga ia tidak tahan untuk tidak membagikannya kepada jemaatnya yang ia kasihi! Sungguh, “perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.”

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh PIKIRAN dan PERASAAN yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

1 Comment

  • Belajar dari Rasul Paulus, kehidupan nyang sesungguhnya adalah ketika kita peduli dengan orang lain dan tidak mengutamakan kepentingan diri.

Leave a Reply