From RHO-ers: Percayalah!

Ayat bacaan: Kejadian 15:6
====================

“Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”

“Percaya” sudah menjadi kata yang sangat sulit dialami oleh orang kebanyakan saat ini. Mulai dari iklan-iklan di media sampai teman baik dan bahkan sampai pasangan hidup, hampir semua sulit untuk dipercaya janjinya. Tetapi tanpa “percaya” apalah artinya hidup yang kita jalani di dunia ini? Bahkan untuk sekedar mandi pagi-pun kita harus “percaya” kalau kita tidak akan terpeleset di kamar mandi. Atau ketika berjalan di jalan raya, kita juga butuh “percaya” kalau mobil atau motor kita tidak akan tertimpa papan reklame. Jika kita bahkan sudah kehilangan rasa “percaya” untuk hal-hal yang sedemikian sederhana, maka kita hanya akan menjadi orang-orang yang paranoid yang selalu mencurigai dan was-was sepanjang hari dan sepanjang usia kita. Tentunya tidak ada dari kita yang menginginkan hidup seperti demikian bukan? Lalu jika demikian bagaimana kita bisa “menghidupkan” lagi atau mungkin lebih tepat “menghidupkan ulang” rasa “percaya” itu?

Kata Ibrani yang dipakai untuk kata “percaya” pada ayat di atas adalah !m;a’ (“aman” demikian bacanya). Bunyi kata Ibrani dari kata “percaya” di atas adalah AMAN! Aman! Ya, bukankah memang “percaya” itu dapat memberikan rasa aman pada jiwa kita. Kita merasa aman ketika mandi bahwa kita tidak akan terpeleset karena kita “percaya” pada keamanan dinding kamar mandi kita. Kita merasa aman ketika berkendaraan di jalan raya dan tidak akan tertimpa papan reklame karena kita “percaya” bahwa pemerintah tata kota yang memasang papan reklame itu tidak akan sembarang memasangnya.

Akhir Desember 2008 yang lalu, saya bersama dengan seorang rekan dan saudara pergi ke Dufan. Sudah beberapa kali saya ke Dufan dan mengikuti semua wahana permainan yang ada di Dufan. Akan tetapi ada satu wahana permainan yang saya belum bisa merasa “aman” untuk menaikinya. Mengapa? Karena saya belum “percaya” sama kualitas dan keamanan permainan tersebut. Nama wahana permainan tersebut adalah TORNADO! Permainan ini begitu memaksa adrenalin manusia sampai di titik puncaknya. Jadi seorang yang pendiam sekalipun pasti akan berteriak ketika duduk dan diputar-putar 360 derajat oleh mesin permainan ini.

Beberapa kali rekan dan saudara saya mengajak tetapi saya terus menolak dengan alasan rasa “aman” tadi. Tetapi waktu itu, saya berpikir. Kalau saya baru timbul rasa “aman” setelah saya cek semua baut dan oli serta karyawan yang mengelola permainan ini, maka rasanya “makna sejati” daripada permainan ini hilang! Saya akan duduk dan diputar-putar 360 derajat tanpa ada rasa apa-apa. Lalu jika demikian apa makna permainan ini? Lalu saya mencoba memberanikan diri dengan belajar “percaya” sama benda ini! Hasilnya sungguh mencengangkan saya secara pribadi: ternyata rasa “aman” itu ada SETELAH saya berani “percaya” dan “mempercayakan” diri saya pada kualitas wahana permainan tersebut!

Bukankah Abram pada ayat-ayat di atas juga merasakan rasa tidak “aman” yang besar? “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan anak yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” (Kejadian 15:2) dan “Engkau [TUHAN] tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” (Kejadian 15:3). Kita semua membutuhkan rasa “aman” di dalam hidup ini. Bahkan menjelang kematianpun kita masih butuh akan rasa “aman” tentang siapa penerusku nanti. Lalu bagaimana Abram menemukan rasa “aman”-nya?

Rasa “aman” Abram tidak ditemukan di atas dasar manapun SELAIN di atas dasar FIRMAN (KATA-KATA) TUHAN! Kata (firman) Tuhan kepada Abram: “Orang ini [Eliezer] tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.” (Kejadian 15:4). Setelah Abram mendengar kata-kata Tuhan ini, Alkitab mencatat: “lalu percayalah [amanlah] Abram kepada TUHAN…” Nah, percaya Abram ini timbul setelah Abram mendengarkan kata-kata (firman) Tuhan, dan lihatlah apa yang dikatakan firman kepada Abram ketika ia meng-“aman”-kan dirinya berdasarkan kata-kata Tuhan: “…maka TUHAN memperhitungkan [menghargai] hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Kejadian 15:6)

Filipi 4:6-7 mengatakan: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam DOA dan PERMOHONAN dengan UCAPAN SYUKUR. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Jika Allah memperhitungkan (menghargai) percaya Abram kepada-Nya, maka Allah juga akan memperhitungkan percaya kita, anak-anak Abra[ha]m, jika kita meneladani Abram yang menaruh percayanya (aman-nya) pada kata-kata Tuhan saja! Kiranya rasa “aman-percaya” kita hanya kita landaskan pada kata-kata-Nya (firman-Nya) yang kekal dan abadi!

Percayalah! Karena firman-Nya masih “berkata-kata” hingga hari ini!

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply