From Eucharistic Adoration to Collaboration: Promoting Mutual Respect, Harmony and Peace

aloy

BERSAMA Mgr. Johannes Pujasumarta, Rm. Ign Triatmoko MSF – Sekjen KAS, Kamis (3/7/2014) kami memberikan sharing pemahaman dan pengalaman tentang dialog interreligius dan ekumene kepada para Suster “Medical Mission Sister” (BKK) di Wisma Shalom, Bandungan.

Sebanyak 23 orang peserta berasal dari 6 negara: Filipina, Peru, Jerman, Ghana, India, dan Indonesia. Dari 23 Suster, hanya dua orang  berasal dari Indonesia.

Forum ini mereka sebut “Gathering of Newer Members Medical Mission Sisters” dengan tema “Keep the Fire Burning“. Pertemuan ini sudah berlangsung sejak tanggal 20 Juli 2014 lalu dan akan berakhir tanggal 9 Agustus 2014.

Hari ini, 31 Juli 2014, Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Johannes Pujasumarta diminta menjadi narasumber dengan tema “Christians in Oriental Religion Traditional Society”.

Saya mendapat kesempatan terhormat menyertai Bapak Uskup dalam kesempatan itu. Saya pun menyiapkan bahan presentasi yang saya beri judul “From Adoration to Collaboration: Promoting Mutual Respect, Harmony and Peace in Common Good.”

Saat kami tiba di lokasi, mereka menyambut kami dengan ramah. Acara dimulai dengan ritual doa yang dipimpin oleh seorang Suster asal India dengan budaya India. Yang menarik adalah, ada ritus menandai dahi dengan titik merah kepada semua, termasuk kami dan Bapak Uskup.

Bapak Uskup diminta memberi tanda pada dahi Suster tersebut. Dia lalu berkeliling memberi tanda di dahi semua peserta diiringi dengan alunan musik instrumental. Sesudah itu, acara sharing dan dialog dimulai.

Dalam kesempatan itu, Mgr. Johannes memberi pendasaran dan refleksi teologis dan spiritual tentang dialog antar umat beragama. Saya melengkapi dengan berbagi pengalaman merajut dialog menuju persaudaraan sejati sebagai buah tinggal dalam Kristus melalui Adorasi Ekaristi Abadi. Dengan dasar ajaran Konsili Vatikan II melalui Nostra Aetate (NA) yang menegaskan bahwa “The Catholic Church rejects nothing that is true and holy in every (these) religion(s)...” (NA 2).

Lebih dari segala, Gereja juga mengajak kita semua untuk merajut persaudaraan sejati dengan semua orang tanpa diskriminasi.

“We cannot truly call on God, the Father of all, if we refuse to treat in a brotherly way any man, created as he is in the image of God… The Catholic Church reproves as foreign to the mind of Christ, any discrimination against men or harrassment of them because of their race, color, condition of life, or religion.” (see NA 5). Inilah dasar untuk merajut persaudaraan sejati dengan semua orang tanpa diskriminasi.

Dengan prinsip “It’s better to light a candle than to curse the darkness“, saya mulai berbagi pengalaman sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragaman dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. Ranah dialog baik ekumenis maupun interreligius yang selama ini kualami kubagikan dalam bentuk kisah dokumentasi dalam rupa foto dan video singkat atas apa yang terjadi.

Para suster BKK dan Mgr Pujasumarta/ dokpri

Suster BKK dari beberapa negara: Para suster BKK dan Mgr Pujasumarta (Dokpri)

Usai presentasi kami berdua, acara dijeda dengan minum. Saat minum, saya duduk di samping seorang Suster yang wajahnya sangat mirip dengan orang Jawa. Saya pun bertanya, “Suster dari mana?” Sambil tertawa dia tidak bisa menjawab pertanyaan saya, karena dia ternyata berasal dari Filipina. Dialog pun mulai berganti dengan berbahasa Inggris. Dia tertawa ketika saya bilang bahwa wajahnya mirip orang Jawa sambil berkata bahwa saya pun berwajah mirip orang Filipina hahaha. Jadi saling mirip ya. Orang Filipina mirip orang Jawa, orang Jawa mirip orang Filipina.

Pada umumnya, para peserta memberi komentar positif atas presentasi kami. Atas presentasi saya, mereka bilang, “Powerful and inspiring!”

Mereka bilang, pengalaman-pengalaman yang saya bagikan itu inspiratif dan penuh daya mendorong mereka untuk tetap bersemangat menghadirkan Kristus dalam perjumpaan dengan sesama yang berbeda iman. Rajutan dialog itu konkret dan kreatif. Itulah komentar mereka.

Seusai minum, acara dilanjutkan dengan tanya-jawab. Saya mengusulkan tak hanya tanya-jawab tetapi juga sharing pengalaman. Dan ternyata, pengalaman yang mereka bagikan pun cukup menarik. Suasana tanya jawab sangat cair dan mengalir. Kami bertiga (Bapak Uskup, Rm Triatmoko dan saya) saling mengisi secara bergantian menjawab tiap pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan berkisar pada antara lain: “isi dialog”, “tantangan

Mgr. Pujasumarta (kiri) sedang diberi tanda bindi di dahi sebagai penghormatan / dokpri Romo Aloysius Budi Purnomo

Bindi India: Mgr. Pujasumarta  sedang diberi tanda bindi di dahi sebagai penghormatan dari  seorang suster India (Dokpri Romo Aloysius Budi Purnomo)

dialog”, “apa itu harmony?”, “apa peran wanita dalam promosi perdamaian”, dan “bagaimana menghadapi arus radikalisme”.

Acara ditutup dengan makan siang dan setelah makan siang, kami kembali ke Semarang. Karena kemacetan di jalur Bandungan hingga Pasar Bandungan, maka kami harus berjalan sangat lambat dan merayap.

Demikianlah sharing dan breaking news hari ini. Semoga bermanfaat.

Salam Tiga Jari, Persatuan Indonesia dalam Keragaman

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: