Franky Welirang Melihat Tanda-tanda Zaman

Fransiskus Frangky Welirang Indofood Bogasari okMATANG dalam usia dan punya jam terbang tinggi dalam kiprahnya memimpin korporasi bisnis skala raksasa sudah barang ikut membuat Presdir PT Bogasari Flour Mills Fransiskus ‘Franky’ Welirang piawai melihat tanda-tanda zaman. Tentu saja, Franky bisa melihatnya dengan lebih jeli dan juga dengan perspektif berbeda dan kemudian menyiasatinya dengan jitu. Ibarat mata elang yang begitu tajam melihat objek bergerak jauh di bawah langit, pengusaha papan atas ini punya intuisi berbeda –hal yang tak lazim dimiliki sekalian awak media yang biasanya sering hanya terpaku dan malah cenderung ‘terlalu setia’ dengan paparan data keluaran pejabat pemerintah, aparat keamanan, dan mengikuti apa-apa saja sesuai kata dan ulasan para analis atau pengamat. Padahal, kata menantu taipan papan atas mendiang Soedono Salim alias Liem Sioe Liong ini, mestinya awak media mana pun jangan hanya terlalu mengandalkan paparan data keluaran pejabat atau mengikuti omongan pengamat semata. Perlu juga melihat kondisi riil di lapangan. Termasuk hal yang juga tidak kalah pentingya, kata Franky Welirang, awak media (wartawan) juga harus punya intuisi untuk melihat hal-hal di balik apa yang tengah terjadi. Pendek kata, melihat hal yang tak terlihat di balik semua fenomena yang tersaji kasat mata di domain wacana publik. PWKI Nah, kepada sekalian awak media katolik dalam jaringan kerja dan pertemaanan di Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Franky Welirang lalu berbagi intuisi tentang fenomena sosial yang hari-hari ini terjadi di Tanahair. Di penghujung pekan terakhir Februari 2015 semalam, puluhan wartawan katolik dalam jaringan kerja-pertemanan di PWKI berkumpul merayakan kebersamaan dan ikatan persatuan iman bersama Bapak Uskup Diosis Bogor Mgr. Paskhalis Bruno Syukur OFM dan Romo Joni Minggulius OFMCap dari Paroki Assisi Tebet, Jaksel. Tidak ada pesan off the record, maka dengan gaya lugasnya Franky Welirang yang dimana-mana dikenal sebagai sosok pengusaha yang selalu tampil low profile ini bicara tentang tiga hal yang menurutnya sangat menarik diamati dan karenanya juga perlu diikuti oleh semua orang. “Tak terkecuali juga oleh teman-teman awak media (wartawan) agar senantiasa membuka telinga dan mata selebar-lebarnya untuk mencermati perkembangan situasi terkini,” ungkapnya di hadapaan segenap wartawan katolik di jaringan kerja-pertemanan PWKI. Menurut Franky Welirang, beberapa pekan terakhir ini ada tiga hal yang boleh dibilang masuk kategori fenomena tidak ‘lumrah’, justru karena tiba-tiba saja hal itu terjadi dan rationale di belakangnya belum hingga kini juga belum terkuak jelas. Beberapa hal hal itu sebagai berikut: Harga beras secara mendadak melambung tinggi dengan kisaran kenaikan harga 30%. Pertanyaannya, kata Frangky, benarkah ini terjadi hanya  karena gagal panen seperti yang sering ditudingkan oleh para pejabat ketika harus menerangkan kepada wartawan tentang penyebab terjadinya kenaikan harga bahan pangan pokok ini? “Mari kita cek ke lapangan,” katanya mengajak awak media untuk mau terjun melihat apa yang terjadi –misalnya—ke pasar induk ‘beras’ di Cipinang atau sekalian ke Pasar Induk Kramatjati. Perlu dicek juga mengapa fungsi Bulog sebagai lembaga penyeimbang pasar dan pengendali harga bahan-bahan kebutuhan pokok kok terkesan tidak bekerja optimal untuk merespon hal ini. Maraknya fenomena begal merambah jalanan di Jabodetabek yang hari-hari mencekap sekalian para pengendara motor manakala harus berjalan pada malam hari di jalanan yang sepi. Bahwa kriminalitas itu ada, kata Franky Welirang, itu sudah terjadi dimana-mana dan sejak dulu ‘kejahatan’ itu memang selalu mengintai kehidupan kita. “Tapi, mengapa tiba-tiba saja fenomena begal ini mengemuka dan menjadi ancaman serius bagi hidup masyarakat,” kata Franky Welirang. Dulu sekali (baca: tahun 1965) dan satu dekade plus tambahan beberapa tahun (baca: tahun 1998), tambah dia, fenomena preman jalanan seperti itu juga merambah Indonesia. “Pertanyaannya, mengapa hal ini terjadi sekarang?,” kata Franky Welirang. Orang Jawa mengenal kata sasmita alias tanda-tanda zaman. Nah, fenomena begal, beras murah, dan sistem pengendali harga dan penyeimbang pasar yang tidak berjalan itu semuanya kemana arah sasmita-nya? Siraman dan hiburan rohani Dalam pertemuan guyub di kalangan awak media katolik di jaringan kerja-pertemanan PWKI semalam, Kiai Maman Imanulhaq dari Nahdlatul Ulama (NU) ikut memberi siraman rohani, sementara anggota Kompolnas Prof. Adrianus Meliala berbagi wawasan tentang kondisi politik dalam perspektif konstelasi ‘konflik’ Polri-KPK. Rasanya pertemuan semalam semakin menjadi lebih lengkap dengan kehadiran Mirelle, penyanyi muda dari Surabaya yang barusan merilis album rohaninya yang kedua. Mirelle dengan parasnya yang sangat kental dengan garis wajah oriental dan cantik ini tentu saja menjadi menarik perhatian di hati insan media yang didominasi wartawan pria. Mayong Suryalaksana dan Sella Wangkar didapuk panitia menjadi MC dalam gelaran pertemanan antar anggota PWKI yang dibesut oleh duet Emanuel Dapa Loka dan Tommy Hutama, masing-masing Ketua PWKI dan Ketua Pelaksana Panitia. Kredit foto: Presdir PT Bogasari Flour Mills Fransiskus Franky Welirang (Dok. Emanuel Dapa Loka/PWKI)

Fransiskus Frangky Welirang Indofood Bogasari ok

MATANG dalam usia dan punya jam terbang tinggi dalam kiprahnya memimpin korporasi bisnis skala raksasa sudah barang ikut membuat Presdir PT Bogasari Flour Mills Fransiskus ‘Franky’ Welirang piawai melihat tanda-tanda zaman. Tentu saja, Franky bisa melihatnya dengan lebih jeli dan juga dengan perspektif berbeda dan kemudian menyiasatinya dengan jitu.

Ibarat mata elang yang begitu tajam melihat objek bergerak jauh di bawah langit, pengusaha papan atas ini punya intuisi berbeda –hal yang tak lazim dimiliki sekalian awak media yang biasanya sering hanya terpaku dan malah cenderung ‘terlalu setia’ dengan paparan data keluaran pejabat pemerintah, aparat keamanan, dan mengikuti apa-apa saja sesuai kata dan ulasan para analis atau pengamat.

Padahal, kata menantu taipan papan atas mendiang Soedono Salim alias Liem Sioe Liong ini, mestinya awak media mana pun jangan hanya terlalu mengandalkan paparan data keluaran pejabat atau mengikuti omongan pengamat semata. Perlu juga melihat kondisi riil di lapangan. Termasuk hal yang juga tidak kalah pentingya, kata Franky Welirang, awak media (wartawan) juga harus punya intuisi untuk melihat hal-hal di balik apa yang tengah terjadi. Pendek kata, melihat hal yang tak terlihat di balik semua fenomena yang tersaji kasat mata di domain wacana publik.

PWKI

Nah, kepada sekalian awak media katolik dalam jaringan kerja dan pertemaanan di Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Franky Welirang lalu berbagi intuisi tentang fenomena sosial yang hari-hari ini terjadi di Tanahair. Di penghujung pekan terakhir Februari 2015 semalam, puluhan wartawan katolik dalam jaringan kerja-pertemanan di PWKI berkumpul merayakan kebersamaan dan ikatan persatuan iman bersama Bapak Uskup Diosis Bogor Mgr. Paskhalis Bruno Syukur OFM dan Romo Joni Minggulius OFMCap dari Paroki Assisi Tebet, Jaksel.

Tidak ada pesan off the record, maka dengan gaya lugasnya Franky Welirang yang dimana-mana dikenal sebagai sosok pengusaha yang selalu tampil low profile ini bicara tentang tiga hal yang menurutnya sangat menarik diamati dan karenanya juga perlu diikuti oleh semua orang. “Tak terkecuali juga oleh teman-teman awak media (wartawan) agar senantiasa membuka telinga dan mata selebar-lebarnya untuk mencermati perkembangan situasi terkini,” ungkapnya di hadapaan segenap wartawan katolik di jaringan kerja-pertemanan PWKI.

Menurut Franky Welirang, beberapa pekan terakhir ini ada tiga hal yang boleh dibilang masuk kategori fenomena tidak ‘lumrah’, justru karena tiba-tiba saja hal itu terjadi dan rationale di belakangnya belum hingga kini juga belum terkuak jelas.

Beberapa hal hal itu sebagai berikut:

  1. Harga beras secara mendadak melambung tinggi dengan kisaran kenaikan harga 30%. Pertanyaannya, kata Frangky, benarkah ini terjadi hanya  karena gagal panen seperti yang sering ditudingkan oleh para pejabat ketika harus menerangkan kepada wartawan tentang penyebab terjadinya kenaikan harga bahan pangan pokok ini? “Mari kita cek ke lapangan,” katanya mengajak awak media untuk mau terjun melihat apa yang terjadi –misalnya—ke pasar induk ‘beras’ di Cipinang atau sekalian ke Pasar Induk Kramatjati.
  2. Perlu dicek juga mengapa fungsi Bulog sebagai lembaga penyeimbang pasar dan pengendali harga bahan-bahan kebutuhan pokok kok terkesan tidak bekerja optimal untuk merespon hal ini.
  3. Maraknya fenomena begal merambah jalanan di Jabodetabek yang hari-hari mencekap sekalian para pengendara motor manakala harus berjalan pada malam hari di jalanan yang sepi.

Bahwa kriminalitas itu ada, kata Franky Welirang, itu sudah terjadi dimana-mana dan sejak dulu ‘kejahatan’ itu memang selalu mengintai kehidupan kita. “Tapi, mengapa tiba-tiba saja fenomena begal ini mengemuka dan menjadi ancaman serius bagi hidup masyarakat,” kata Franky Welirang.

Dulu sekali (baca: tahun 1965) dan satu dekade plus tambahan beberapa tahun (baca: tahun 1998), tambah dia, fenomena preman jalanan seperti itu juga merambah Indonesia. “Pertanyaannya, mengapa hal ini terjadi sekarang?,” kata Franky Welirang.

Orang Jawa mengenal kata sasmita alias tanda-tanda zaman. Nah, fenomena begal, beras murah, dan sistem pengendali harga dan penyeimbang pasar yang tidak berjalan itu semuanya kemana arah sasmita-nya?

Kiai NU Imanulhaq ok
Kiai Imanulhaq

Siraman dan hiburan rohani

Dalam pertemuan guyub di kalangan awak media katolik di jaringan kerja-pertemanan PWKI semalam, Kiai Maman Imanulhaq dari Nahdlatul Ulama (NU) ikut memberi siraman rohani, sementara anggota Kompolnas Prof. Adrianus Meliala berbagi wawasan tentang kondisi politik dalam perspektif konstelasi ‘konflik’ Polri-KPK.

Mirelle penyanyi surabaya 2
Penyanyi Mirelle dari Surabaya (Dok. Emanuel  Dapa Loka)

Rasanya pertemuan semalam semakin menjadi lebih lengkap dengan kehadiran Mirelle, penyanyi muda dari Surabaya yang barusan merilis album rohaninya yang kedua. Mirelle dengan parasnya yang sangat kental dengan garis wajah oriental dan cantik ini tentu saja menjadi menarik perhatian di hati insan media yang didominasi wartawan pria.

Mayong Suryalaksana dan Sella Wangkar didapuk panitia menjadi MC dalam gelaran pertemanan antar anggota PWKI yang dibesut oleh duet Emanuel Dapa Loka dan Tommy Hutama, masing-masing Ketua PWKI dan Ketua Pelaksana Panitia.

Kredit foto: Presdir PT Bogasari Flour Mills Fransiskus Franky Welirang (Dok. Emanuel Dapa Loka/PWKI)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply