Forum IASM Regional: Ngobrol Politik dan Pengembangan Diri di Temu Dulur Alumni Seminari Mertoyudan Solo Raya

Forum IASM Regional: Temu Dulur Alumni Seminari Mertoyudan Solo Raya, 17 Maret 2018. (ist)

BERTEMPAT  di Aula Berthier Paroki Santo Paulus – Kleco, sejumlah alumni Seminari Menengah Mertoyudan bersama ambyuk berpartisipasi dalam acara “Temu Dulur Merto Solo Raya, Sabtu 17 Maret 2018. Itu bertepatan dengan Hari Raya Nyepi.


Pukul 09.00 para alumni Merto mulai berdatangan, baik yang dari sekitar Solo maupun perwakilan dari Roh Merto Jogja (RMJ) dan Roh Merto Semarang (Roh Mesem). Tidak hanya itu, ternyata dari Jawa Timur (Surabaya dan Madiun) juga turut hadir beberapa perwakilannya.


Ada hampir 40 peserta hadir dalam acara ini. Ketua IASM (Ikatan Alumni Seminari Mertoyudan), Fredericus Dwiantoro, turut hadir di acara ini.


Acara  bertajuk “Ayo Kumpul, Ben Ora Ucul” ini mengundang tiga pembicara dengan dua pembicara bicara tentang politik dan satu omong tentang pengembangan kepribadian. Kedua narsum itu adalah Nanang Marjianto (KPP 1989) dan penulis – Y. Setiarto (KPP 1993)— masing-masing membawakan materi tentang “Peta Politik Indonesia” dan “Adu Cepat Pilpres 2019”


Partai-partai nasionalis


Nanang saat ini menjabat Direktur Keuangan dan SDM PT Rajawali Nusantara Indonesia. Dengan gayanya yang tegas dan jelas, ia  menyampaikan sejarah politik Indonesia dengan diawali pembentukan partai sebelum kemerdekaan diikuti dengan sejarah pemilihan umum di Indonesia dengan berbagai dinamika yang menyertainya. Baik dari jumlah partai peserta Pemilu dan hasil pemenang Pemilu yang selalu mengubah peta politik di Indonesia.


Dinamika dan perubahan peta politik itu, kalau dilihat dari kacamata awam,  nampak begitu bergejolak dan merisaukan. Namun kalau diteropong dari  kacamata politik, hal itu tidak begitu mengkhawatirkan. Itu karena semua bisa diperhitungkan kemana mana arah peta politik bergerak da berubah.


Para narasumber diskusi.

Bahkan kekhawatiran partai-partai  berhaluan agama dan berafiliasi dengan kelompok garis keras yang ditengarai akan mengubah peta politik itu bisa ditepis. Itu karena dalam rangkaian sejarah politik Indonesia, hal itu tidak pernah bisa menaikkan persentase pemilih mereka melebihi  20%.


Menurut dia, peta dan arah politik Indonesia masih akan tetap dipegang oleh partai-partai nasionalis. Untuk menjaga kestabilan,  maka peran serta kita sebagai umat Katolik juga sangat diperlukan.


Kewajiban kita sebagai warga negara dan sebagai umat Kristiani juga bisa dinampakkan dengan cara “tidak terlihat, namun terasa”.


Dengan kuantitas yang kecil,  kita juga bisa ikut berperan serta dalam menjaga peta dan arah politik Indonesia melalui cara selalu aktif dalam setiap pemilu. Baik sebagai pemilih maupun ikut serta dalam kegiatan kepanitiaan Pemilu.


Pembicara kedua, penulis -Y. Setiarto—adalah mitra pendiri SNP Law Firm dan Ketua Umum FMKI KAJ.


Tiga kubu


Penulis mengajak peserta “Temu Dulur Merto Solo Raya” berdiskusi tentang hasil survei nasional mengenai Peta Elektoral Kandidat dan Prediksi Skenario Koalisi Pilpres 2019 periode 23 Januari-3 Februari 2019. Terutama mencermat hasil survei keluaran  Poltracking Indonesia yang disandingkan dengan data dari berbagai sumber.


Jika memperhatikan hasil survei dari berbagai lembaga riset tersebut, Pilpres 2019 masih akan didominasi oleh tiha kekuatan politik:

Kubu Jokowi.Kubu Prabowo.Kubu SBY.

Jokowi sudah dipastikan kembali bertarung,  setelah mendapat dukungan dari lima partai parlemen (Golkar, Nasdem, Hanura, PPP dan PDI-P) ditambah dua partai non parlemen yaitu PSI dan Perindo.


Demikian pula Prabowo  kemungkinan besar akan kembali diusung oleh Gerindra dan PKS.


Itu juga dimungkinkan, misalnya,  Prabowo akan menjadi king maker dengan mengajukan kandidat baru seperti Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, dan tokoh lain yang namanya telah beredar dalam survei-survei.


Sedangkan Poros SBY, dalam hal ini Partai Demokrat, tentu saja menjagokan AHY.


Dua partai lain belum mendeklarasikan capresnya yaitu PAN dan PKB. Berdasarkan kedekatan, kemungkinan PAN akan menempel ke Demokrat atau Gerindra, sedangkan PKB akan mendengarkan suara arus bawah yang lebih cenderung ke Jokowi.


Meskipun peta politik masih sangat dinamis, namun terdapat kecenderungan Jokowi akan kembali berjaya di Pilpres 2019.


Siapa cawapres Jokowi?


Yang menarik dalam Pilpres 2019 nanti adalah siapa yang akan menjadi cawapres Jokowi.  Pilihan cawapres untuk Jokowi tersebar dari militer, santri, teknokrat, ketum parpol maupun menteri-menteri kabinetnya.


Dengan alternatif yang cukup beragam ini, penulis berharap cawapres Jokowi nantinya adalah pribadi yang benar-benar satu visi dengan Jokowi dan memiliki kemampuan untuk mendaratkan Nawacita sampai tuntas.


“Jangan sampai cawapresnya justru bandit atau kubu pemburu rente yang nantinya justru sibuk dengan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja” demikian harap penulis di forum IASM Regional di Solo beberapa hari lalu.


Generasi Millenial


Penulis juga  memprediksi pemenang Pilpres 2019 ditentukan oleh kubu mana yang dapat mencuri hati generasi milenial. Di sisi lain, masyarakat perlu mewaspadai menguatnya politik identitas, penggunaan isu SARA, dan hoax pada Pilpres 2019.


Oleh karenanya, di akhir paparannya, penulis mengajak peserta diskusi untuk sejak sekarang terlibat aktif melawan intoleransi dan mewabahnya hoax di Indonesia.


Diskusi menjadi lebih menarik dengan adanya sesi tanya jawab yang diikuti dengan antusias dan mendalam oleh para rekan eks-Merto yang lain.


Ini mengingatkan kita pada suasana Sidang Akademi ketika masih di Seminari Mertoyudan.


Setelah makan siang, giliran B. Bambang Rijen Sulistyawan (KPP 1981) yang saat ini merintis sebagai wirausahawan  di bidang peralatan kesehatan menyampaikan materi mengenai “Mengenali Potensi Pribadi dengan The Power of Number (PON)”.


Hasil dari analisis berdasarkan angka tanggal lahir ternyata kita bisa menggali lebih dalam lagi mengenai potensi yang ada dalam diri kita sendiri. Misalnya karier yang cocok dengan kepribadian kita, unsur apa yang cocok dengan karier kita dan sebagainya.


Masing-masing peserta yang sudah memegang hasil print out mendiskusikan hal itu bersama Bambang yang menjelaskan secara urut hasil analisis yang ada.


Hujan deras yang mengguyur kota Surakarta nampaknya tidak mengurangi asyiknya para peserta dalam berdiskusi. Diselingi guyonan dan tawa diskusi potensi diri ini menjadi sangat menyenangkan.


Acara Forum IASM Regional dengan judul “Temu Dulur Merto Solo Raya” ini akhirnya berakhir pada pukul 15.15 wib dengan sesi foto bersama.

Yulius Setiarto Alumnus Seminari Mertoyudan, pekerja di bidang hukum dan kini Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta (FMKI KAJ).

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: