“Five Days of War”, Data adalah Segalanya bagi Insan Pers

SETELAH Vietnam dan Irak, sepertinya Hollywood mendapatkan lahan baru untuk mengeksploitasi semangat demokrasi: “roh” Amerika yang sejatinya harus dipraktikkan di semua negara. Nah, di bekas negara satelit Uni Soviet yang bernama Georgia inilah, para sineas Hollywood mendapatkan umpan menarik untuk mengolah sebuah kisah yang kemudian layak ditayangkan dalam layar putih dalam bentuk selolid alias film.

Georgia dengan Presiden  Mikheil Shaakashvili  (Andy Garcia) yang berambisi ingin membawa negerinya  masuk  jajaran Uni Eropa  menjadi setting  utama film dengan judul sensasional Five Days of War. Ossetia Selatan –sebuah wilayah Georgia yang ingin dikangkangi Russia—adalah medan juang dimana gelora idealisme dunia pers memperoleh batu ujian nyata.

Skenario perang

Di tangan sutradara bertangan dingin ahlinya film aksen Renny Harlin, tak ayal Five Days of War memang menyuguhkan film perang sungguhan dimana deru mesin tank dan heli serbu menyeruak dimana-mana. Di tengah hiruk pikuk perang yang melibatkan milisi Ossetia Selatan yang didukung pasukan Russia melawan tentara Pemerintah Georgia inilah, sepasang jurnalis Amerika terperosok masuk dalam sebuah skenario peperangan.

Namun bukan perang itu sendiri yang menjadi menarik dalam Five Days of War ini. Melainkan bagaimana dua jurnalis media televisi AS yakni Thomas Anders (Rupert Friend) dan kameramennya  Sebastian (Richard Coyle) berupaya mati-matian untuk sekedar menyelamatkan data.

Data lapangan hasil peliputan adalah “nyawa” kedua bagi insan pers, selain nyawanya sendiri.

Data itu adalah rekaman film dimana Sebastian berhasil membidik aksi brutal pimpinan milisi Ossetia Selatan yang menggorok sadis dua pemimpin rakyat Ossetia yang tak mau tunduk pada Rusia. Tentu ini merupakan bukti kuat untuk menunjukkan dunia, di Ossetia Selatan telah terjadi kejahatan melawan kemanusiaan.

Dunia modern tentu saja akan berang menyaksikan kejahatan berat melanggar hak-hak asasi manusia ini. Pemimpin milisi bernama Daniil (Mikko Nousiainen) ini tentu saja akan mendapat label sebagai penjahat perang karena membantai warga sipil tak bersenjata hanya karena alasa ideologis: tidak mau tunduk pada kekuasaan Moskwa.

Nah, film sepanjang 120 menit memang berkisah tentang perjuangan duo wartawan teve yang berupaya menyelamatkan ‘harta liputan’ itu dari kaki tangan milisi Ossetia Selatan dan pasukan Rusia.

Dalam kisah heroik demi sebuah memory card itulah, keduanya bertemu dengan perempuan lokal bernama Tatia (Emmanuelle Chriqui) dan Kapten Rezo (Johnathon Schaech) yang pernah menyelamatkan jiwanya saat terkepung dalam sebuah sergapan milisi di Irak. Dalam beberapa shots, kedua wartawan ini juga berhasil ditolong oleh koleganya sesama jurnalis teve bernama Dutchman yang diperankan aktor kawakan Val Kilmer.

Sayang bahwa aktor sekelas Val Kilmer ini justru diberi peran minim oleh Renny Harlin.

Di akhir cerita, mudah ditebak bagaimana akhirnya ‘harta liputan’ itu memang benar-benar membuka mata dunia. Di Georgia –khususnya Ossetia Selatan—tahun 2003 memang pernah terjadi perang saudara yang melibatkan milisi pro Rusia bersama pasukan Moskwa melawan pasukan Georgia. Ibukota Gori menjadi saksi bisu atas gelora pertikaian politik yang tak lain adalah tarik ulur antara kekuatan Barat dan Rusia di atas bumi Ossetia Selatan.

Dalam konflik berdarah-darah itulah, sejumlah wartawan asing limbung kena tembakan peluru nyasar. Dan film Five Days of War ini rupanya digagas untuk mengenang para pahlawan media massa yang gugur dalam perang ketika menyelamatkan ‘harta liputan’ mereka.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply