Film Gres “Nada untuk Asa’, Kisah Ibu Berani Hidup

nada untuk Asa 11

SIANG berhias hujan rintik tak berkesudahan ternyata tidak menyurutkan langkah para aktivis Sahabat Positif Keuskupan Agung Jakarta untuk hadir menyelenggarakan acara Meet and Greet personil film gres bertitel Nada untuk Asa di aula Kampus Unika Atma Jaya (23/1).

Acara yang dikemas dalam bentuk talk show interaktif tersebut cukup dipadati oleh mahasiswa yang sedang istirahat siang.
Sutradara sekaligus penulis skenario Charles Gozali hadir bersama pemeran utama Masya Timothy (memerankan Nada) dan pemeran antagonis Inong Nidya Ayu beserta penulis novel Ita Sembiring. Film dengan judul sama ini digarap berdasarkan skenario yang mengambil nafas cerita dari novel Ita dengan judul sama.

Para panitia kegiatan adalah kelompok Positif KAJ yang merupakan kumpulkan dari aktivis berbagai paroki berlainan di KAJ, di bawah koordinasi Komsos KAJ. Tiga tugas besar mereka selesaikan satu persatu; dari merencanakan film layar lebar, menuangkannya menjadi novel, dan membuat drama musikal Nada untuk Asa yang sukses dipentaskan di Teater Jakarta, TIM, 20-21 September 2014. Film layar lebar yang telah kelar akhir tahun 2014 ini, akan dirilis pada 5 Februari 2015 serentak di jaringan bioskop 21/XX1 dan Blitz. (Baca: “Nada untuk Asa”, Harapan Jadi Energi Positif di KAJ)

Berani untuk hidup
Sutradara Charles Gozali bukan orang baru di dunia film. Kiprahnya telah dimulai sejak 1993 di PT Garuda Film. Pada 2003, Charles mendirikan perusahaan filmnya sendiri yaitu Magma Entertainment.

Beberapa film telah digarapnya, dan umumnya selain sutradara dia juga merangkap penulis naskah seperti misalnya dalam film Rasa (produksi 2009, dibintangi oleh Christian Sugiono, Pevita Pearce, Wulan Guritno, Alex Komang) dan film Finding Srimulat (produksi 2013, dibintangi Reza Rahadian, Rianti Cartwright, Kadir, Mamiek, Djudjuk).

Nada untuk Asa22

“Berani untuk hidup, bukan berani mati,” jawab Charles ketika ditanya Ita Sembiring yang bertindak sebagai moderator talk show tentang nilai yang ingin ditampilkan dalam film Nada untuk Asa.
Untuk mencari aktris pemeran tokoh Nada, selain pandai berperan juga disyaratkan sudah menjadi ibu supaya bisa menjiwai peran ibu sesuai skenario film. Maka terpilihlah Marsya Timothy, aktris jelita yang sekarang lagi menikmati peran sebagai ibu muda.

“Saya tersadar kadang saya berlebihan menanggapi permasalahan dalam hidup, setelah melihat beratnya perjuangan tokoh Nada dalam film tersebut. Film ini mengajarkan banyak hal pada saya,” ungkap Masya.

Komentar senada juga dikemukakan oleh Inong Nidya Ayu, “ada orang yang masalahnya jauh lebih berat dan mereka bertahan hidup. Itu luar biasa buat saya.”

Talkshow juga memberikan kesempatan kepada para peserta yang kebanyakan adalah mahasiswa untuk bertanya dan mengikuti permainan memperagakan salah satu adegan dalam film tersebut.

Sambutan para mahasiswa tersebut positif dan mereka menyatakan minat tinggi untuk menonton film tersebut.
Skenario film dikerjakan oleh Charles setelah melakukan banyak riset lapangan. Dia berkonsultasi langsung dengan banyak pihak, termasuk beberapa kali mengunjungi kantor IPPI (Ikatan Perempuan Positif Indonesia) yaitu komunitas perempuan pengidap virus HIV.

Para peserta talkshow juga disuguhi trailer film dan mendapatkan hadiah merchandise serta buku novel.

Film ini menarik untuk ditonton; sekilas tampak sinematologinya tergarap apik dan banyak nilai positif yang akan kita peroleh.
Seperti yang disampaikan Charles Gozali, “shame on us kalau kita tidak punya semangat hidup seperti tokoh dalam cerita tersebut.” Mari kita buktikan dengan mengajak keluarga dan teman nonton drama kehidupan ini.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: