Film dalam Pandangan Filsul Prancis Paul Ricoer

Paul Ricoer / Istimewa

Sineas muda Wregas Bhanuteja dalam curhatnya di depan mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara menyebutkan, lapis terdasar sebuah film sebenarnya merupakan narasi pengalaman manusia akan waktu. Jauh sebelum Wregas berpikir tentang hal ini, Filsuf Prancis Paul Ricoer dalam bukunya ‘Time and Narrative’ menyatakan ada relasi siklis tak terputus antara waktu dan narasi.


Ricoer pernah mengatakan “Time becomes human time to the extent that it is organized after the manner of a narrative; narrative, in turn, is meaningful to the extent that it portrays the features of temporal experience”.


Waktu, bagi Ricoer baru sungguh-sunguh menjadi ‘kemewaktuan manusia’ ketika ditata dalam sebuah narasi. Narasi akan bermakna sejauh ia menggambarkan pengalaman manusia. Menurut Ricoer, jiwa manusia selalu mengarah atau menggelembung ke depan, ke keabadian. Sayang, secara simultan, waktu tidak selalu selaras. Ia bahkan selalu pejal atau kacau. Kondisi yang disebut dikordansi ini dikatakan Ricoer sebagai ‘apori waktu’. Manusia baru bisa memadukan diskordansi itu ketika menarasikan temporalitasnya.

Screening Film dan Diskusi bersama Wregas Bhanuteja di STF Driyarkara. (Ist)

Lantas bagaimana narasi ini mengerjakan “apori waktu”? Terjadi dalam proses memberi plot, kata Ricoer. Ketika ditaruh dalam suatu plot, peristiwa yang terjadi berurutan atau bergantian akan menjadi “kon?gurasi”. Lalu, dalam narasi inilah dapat ditemukan keharmonisan waktu yang bisa ditangkap dan dimaknai.


Sebagaimana para sutradara dan penulis skenario yang lain, yang dikerjakan Wregas tidak lain juga meletakkan pengalaman manusia akan waktu dalam suatu plot dan narasi. Dengan cara demikian, waktu bisa ditangkap dan dimaknai.


Masa lalu juga tidak dapat dipandang sebagai suatu residu peristiwa atau fakta yang telah menjadi fosil, tetapi suatu proses reformulasi yang berjalan terus sampai memberi kepada kita pandangan otentik mengenai masa lalu dan memproyeksikan suatu kemungkinan yang lebih tepat di masa depan (realitas hipotetik).


Jadi, kendati suatu narasi (dalam hal ini film) memiliki kesimpulan, tetapi siklus kehidupan narasi tidak berakhir pada tahap konfigurasi. Muncullah tahap lanjut yang disebut refigurasi atas narasi. Di tahap ini beberapa usulan atau kemungkinan yang diberikan narasi (film) pada audiens ditafsirkan oleh pembaca/pendengar/penonton atau dilihat olehnya. Bisa jadi para audiens ini mengambil sebagai miliknya.


Sesi diskusi yang dilakukan para pecinta film bersama Wregas Bhanuteja di kampus STF Driyarkara, Senin (14/5) usai menonton tiga film garapannya, dalam pandangan Ricoer disebut sebagai proses refigurasi. Para penonton menangkap realitas hipotetik yang diberikan atas narasi yang dilihat, didengar dan dibaca.


Dalam keseluruhan proses itu, semua diundang narasi menjalankan hermeneutika diri dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan semacam, siapa yang bicara? Siapa yang bertindak? Siapa yang menceritakan sesuatu? Siapa subjek moral tanggungjawab? Siapa aku? Dari situlah kenapa kita bisa dapatkan pemahaman diri lebih baik lewat membaca narasi.

Admin portal berita katolik Sesawi.Net ini adalah seorang wartawan, eks Jesuit.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: