Figur Teladan (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16
====================
“Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!”

teladan

Banyak orang yang bisa mengajar, tetapi sedikit yang bisa menjadi teladan. Dalam kamus bahasa Indonesia kata teladan didefenisikan sebagai “sesuatu yang patut ditiru atau dicontoh.” Kepintaran mengajar dan luasnya pengetahuan yang dimiliki belum tentu menjamin seseorang bisa menjadi teladan. Sebaliknya seringkali kita menyaksikan orang-orang yang sederhana dan bersahaja, mungkin tingkat pendidikannya pun rendah, tetapi mereka sanggup bersinar menjadi teladan di mata orang lain bahkan bisa berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kebanyakan orang pintar menasihati atau menegur, tetapi apa yang mereka tontonkan dari perilaku atau gaya hidup mereka sehari-hari justru menunjukkan sebaliknya. Ada banyak pula orang tua yang mengira bahwa mereka cukup mengajar anak-anaknya saja tanpa perlu menunjukkan keteladanan. Seorang rekan dosen bercerita mengenai temannya. Orang tua temannya ini adalah perokok dan suka minum minuman keras bersama rekan-rekannya. Sayangnya hal ini dilakukan ayahnya di rumah, sehingga sejak kecil ia terbiasa melihat perilaku ayahnya itu. Lucunya, sang ayah memang selalu melarang anaknya ikut-ikutan dan mengatakan itu tidak baik bagi kesehatannya, tetapi apa yang dilakukan sang ayah justru melanggar habis-habisan apa yang ia ajarkan. Tidaklah mengherankan apabila kemudian anaknya menjadi pemabuk dan gampang sinis memandang orang lain. Itu semua berasal dari pengalaman buruknya sejak kecil, dimana figur ayah yang seharusnya jadi teladan gagal melakukan itu.

Adalah menarik jika kita melihat bagaimana Paulus sanggup berkata tegas kepada jemaat Korintus untuk meneladaninya. Paulus berkata demikian: “Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!” (1 Korintus 4:16). Kalimat ini sangatlah singkat, tetapi sesungguhnya sama sekali tidak ringan. Paulus tidak mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum mencontohkan apa-apa dalam hidupnya sama sekali. Tapi tentu saja tidak seorang pun dari kita yang bisa membuktikan sebaliknya. Paulus memang merupakan sosok teladan yang luar biasa. Ia mengalami transformasi hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat setelah perjumpaannya langsung dengan Kristus. Kisahnya bisa kita baca dalam Kisah Para Rasul 9:1-19. Dari seorang pembunuh kejam dan penyiksa orang percaya, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan sampai ke Asia kecil. Tidak ada pesawat, mobil, bus atau travel waktu itu yang mampu mengantar orang ke tempat jauh dalam waktu singkat. Tidak ada pula sarana internet, teleconference dan sebagainya yang bisa mempermudah kita dalam berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya perjuangan Paulus. Cobalah letakkan diri kita pada posisinya, mungkin kita akan mudah stres, depresi dan labil diterpa kelelahan dan tekanan setiap harinya. Jika itu belum cukup, kita bisa tahu pula bahwa Paulus masih harus bekerja. Ia bekerja sebagai “pembuat kemah” (Kisah Para Rasul 18:2-3), dan penghasilannya ia gunakan untuk “membiayai keperluan dan kebutuhannya beserta teman-teman sekerja dalam melayani” (ay 20:34) dan juga untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Karena itulah Paulus kemudian bisa mengingatkan: Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (ay 35). Paulus mengajarkan sesuatu yang telah ia lakukan sendiri, sebagai contoh atau teladan yang sejalan dengan pengajarannya.

Menjadi ciptaan baru di dalam Kristus seperti yang dikatakan dalam surat 2 Korintus 5:17 memang merupakan anugerah tak terhingga besarnya dari Tuhan. Tetapi biar bagaimanapun keputusan ada di tangan kita. Apakah kita mau benar-benar menghayati transformasi yang telah diberikan kepada kita atau tetap hidup dalam sifat-sifat buruk di masa lalu merupakan pilihan atau keputusan yang tergantung dari kita sendiri. Hidup akan selalu penuh dengan pilihan, kita harus terus mengambil keputusan demi keputusan. Paulus bisa saja tetap berlaku seperti sebelumnya, terus menyiksa dan membunuh meski ia sudah mengalami sendiri perjumpaan dengan Kristus, tetapi untungnya ia tidak mengambil pilihan itu. Ia benar-benar menghayati kemerdekaan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan mengabdikan seluruh sisa hidupnya secara penuh untuk Tuhan. Dalam menjalankan misinya Paulus mengalami banyak hal yang mungkin akan mudah membuat kita kecewa atau patah apabila berada di posisinya. Tetapi tidak demikian dengan Paulus. Lihatlah apa yang ia katakan: “Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah.” (1 Korintus 4:11-13a). Kita bisa melihat sendiri bagaimana karakter Paulus dalam hidupnya setelah bertobat. Apa yang ia ajarkan semuanya telah dan terus ia lakukan sendiri dalam kehidupannya. Oleh sebab itu pantaslah Paulus menjadi seorang teladan dan ia pun berhak mengingatkan orang agar menjadikannya teladan tanpa ragu.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi menjadi teladan
  2. ilustrasi khotbah tentang teladan
  3. ilustrasi teladan
  4. ilustrasi tentang teladan
  5. ilustrasi khotbah belajar dari teladan
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: