Fhileo-Delfho

Ayat bacaan: Ibrani 13:1
=======================
“Peliharalah kasih persaudaraan!”

fhileo delfho

Manusia semakin lama semakin bersifat individualis dan eksklusif. Jika dulu orang bisa bertutur sapa tanpa saling mengenal, seperti ketika berpapasan di jalan, kini hal seperti itu semakin jarang kita saksikan. Jangankan yang tidak kenal, yang kenal sekalipun enggan disapa dengan alasan tidak terlalu kenal atau tidak penting. Banyak orang yang bahkan tidak mengenal tetangganya. Mengenal saja tidak apalagi akrab dan dekat. Pagar semakin tinggi membuat orang semakin tidak lagi peduli kepada orang diluar batas wilayah rumahnya. Tetangga saja tidak lagi perlu dikenal, apalagi untuk membantu anak yatim, orang miskin, pengemis atau gelandangan. Jangankan memberi makan pengemis, untuk mengenal sesama saudara seiman yang sama-sama berjemaat di gereja yang sama saja mungkin susah. Setiap minggu bertemu, tapi menyapa atau tersenyum saja beratnya bukan main.

Kasih merupakan hukum yang terutama yang menjadi dasar utama dari kekristenan, yang secara luas seharusnya mampu menyentuh siapapun yang berada di sekitar kita tanpa terkecuali. Kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan raga kita lalu kita mengalirkan kasih Tuhan kepada semua orang di sekitar kita. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Tapi bagaimana mungkin itu bisa kita lakukan jika terhadap saudara-saudara kita seiman saja sudah demikian berat? Masih ada begitu banyak sekat-sekat duniawi yang selalu kita sematkan kepada perorangan, golongan atau kelompok tertentu. Kaya-miskin, suku, budaya, bahasa, bangsa, status, latar belakang, usia dan sebagainya, seringkali menjadi hambatan bagi kita untuk bisa saling kenal dan saling mengasihi.

Saya pun teringat akan pesan yang sangat penting yang disampaikan singkat saja tetapi tegas di dalam Alkitab: “Peliharalah kasih persaudaraan!” (Ibrani 13:1). Kasih Persaudaraan dalam bahasa aslinya berasal dari gabungan dari kata Fhileo yang artinya kasih tulus tanpa menuntut imbalan atau balasan dan Delfho yang artinya ikatan persaudaraan yang kuat. Jika kedua kata ini digabungkan, maka muncullah kata Filadelfia yang merupakan kata yang menggambarkan kasih persaudaraan. Ini merupakan pesan yang wajib untuk diamalkan oleh semua gereja dan orang percaya di muka bumi ini. Adalah menarik jika melihat Penulis Ibrani kemudian melanjutkannya dengan “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” (ay 2). Begitu pentingnya kita untuk memelihara kasih persaudaraan sehingga dengan melakukannya bisa berarti bagai sedang menjamu malaikat-malaikat. Betapa luar biasa membayangkan adanya malaikat yang berkeliaran di sekitar kita. Tidak perlu mencari sosok berkilauan dengan sayap putih bersih, karena mereka bisa jadi tampil seperti orang biasa, bahkan dalam wujud yang tertolak bagi dunia sekalipun. Tapi apakah kita perlu memastikan dulu bahwa mereka adalah malaikat baru kita tergerak untuk menolongnya? Tentu tidak. Karena apakah mereka malaikat atau bukan, pesan kasih persaudaraan tetap berlaku sama terhadap kita semua anak-anak Tuhan di muka bumi ini.

Jika menyebut kata Filadelfia, maka kita akan teringat kepada satu dari beberapa gereja yang diberikan pesan secara khusus dalam kitab Wahyu, yaitu dalam Wahyu 3:7-13.Lihatlah dari rangkaian pesan kepada tujuh jemaat, hanya ada dua jemaat yang tidak mendapat teguran, yaitu Filadelfia dan Smirna. Kepada jemaat Filadelfia pesan Tuhan sungguh indah. “Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.” (ay 10). Seperti itulah janji Tuhan kepada jemaat dan umatNya yang menerapkan bentuk kasih persaudaraan dalam kehidupannya.

Seperti apa bentuk kasih persaudaraan ini? Itu bisa terlihat dari gaya hidup gereja mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 kita bisa melihat bagaimana cara hidup jemaat yang pertama. Mereka dikatakan selalu tekun dalam pengajaran dan persekutuan, selalu berkumpul, bersama-sama memecah roti dan berdoa (ay 42). Tidak hanya itu, tapi mereka semua bersatu, tanpa memandang latar belakang, status sosial dan sebagainya. Bahkan dikatakan “segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (ay 44-45). Tidaklah heran jika gereja itu berkembang sangat pesat. Perikop ini dimulai dengan pertobatan ribuan jiwa (ay 41) dan diakhiri dengan berkat Tuhan yang terus menambah jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan. (ay 47). Salah satu hal penting yang membuat mereka diberkati secara luar biasa seperti itu adalah karena mereka memegang teguh kasih persaudaraan dan menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup.

Sebuah gereja dan jemaat yang diberkati seharusnya memiliki kasih persaudaraan sebagai landasan utamanya. Jangan menjadi sebuah ikatan yang eksklusif, yang hanya terbatas pada dinding atau sekat-sekat yang justru semakin bertolak belakang dari pesan kasih tanpa pamrih seperti yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Pada kenyataannya alkitab bercerita begitu banyak mengenai kasih, dan ini menggambarkan betapa pentingnya bagi kita anak-anakNya untuk selalu hidup dalam kasih. Kasih persaudaraan merupakan sebuah bukti apakah kita sudah mengenal Tuhan yang kita sembah atau belum. Karena dikatakan demikian: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:7-8). Dan ingatlah pula bahwa “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (ay 16).

Seperti apa yang dipesankan kepada jemaat Filadelfia, sesungguhnya kedatangan Kristus tidak akan lama lagi. Kita harus benar-benar hidup dalam kasih persaudaraan ini agar mahkota yang telah kita pegang tidak sampai lepas dari genggaman kita. (Wahyu 3:11). Pada saat kedatangan Kristus, semua bangsa akan dikumpulkan dan dipisahkan bagai memisahkan kambing dengan domba. Dan kepada domba (menggambarkan orang-orang yang diselamatkan) Sang Raja akan berkata: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” (Matius 25:34-36). Seperti itulah bentuk konkrit kasih persaudaraan yang tidak memandang latar belakang apapun dalam menyatakan kasih Allah kepada sesama kita. Hari ini marilah kita belajar menjadi gereja atau jemaat yang memiliki kasih persaudaraan dalam diri kita. Sudahkah anda mengenal atau setidaknya menyapa siapa yang duduk disebelah anda? Sudahkah anda memberi salam kepada tetangga anda? Mulailah dari hal-hal sederhana dan mudah sebelum anda melangkah lebih jauh dalam mengasihi sesama.

Hiduplah dan peliharalah kasih persaudaraan senantiasa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. yosua 3:7-13
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: