Fear of Commitment

0
25

Ayat bacaan: Kejadian 2:18
======================
“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

takut hubungan

Teman saya memiliki sikap yang buat saya cukup aneh. Meski saling suka, ia akan segera menarik diri jika wanita yang disukainya mulai menunjukkan tanda-tanda ingin serius. Itu terjadi sudah beberapa kali. Ia mengaku bahwa ia takut terhadap komitmen alias fear of commitment. Ada banyak orang yang mengalami rasa takut akan sebuah hubungan serius seperti dirinya, dan itu bisa timbul dari banyak sebab. Mungkin trauma karena pernah kecewa dalam hubungan terdahulu atau melihat orang tua yang tidak akur, mungkin takut sakit kalau-kalau hubungan itu nantinya kandas, mungkin sulit percaya terhadap orang lain, mungkin lebih mementingkan karir dan pekerjaan, atau seperti alasan teman saya, sulit menemukan pasangan yang benar-benar sama. Saya pun bertanya, apakah kita bakal bisa bertemu orang yang benar-benar sama seperti yang dia katakan? Rasanya itu tidak akan mungkin. Ia pun menjawab, “makanya saya tidak mau terikat dalam hubungan serius..” Ini adalah sebuah pemikiran yang bagi saya tidak masuk akal dan mencerminkan pemahaman yang salah mengenai sebuah hubungan serius yang nantinya akan menuju kepada gerbang pernikahan. “Bagaimana jika nantai saya kecewa? Bagaimana jika nanti bosan? Tidak cocok? Bagaimana jika nanti saya bertemu wanita lain dan kembali jatuh cinta?” Inipun sering dijadikan alasan untuk menghindar dari sebuah hubungan yang serius.

Antara pria dan wanita ada perbedaan yang nyata yang bahkan sangat mendasar sifatnya. Wanita secara rata-rata cenderung memakai perasaannya, sementara pria cenderung memakai logika. Belum lagi sifat-sifat manusia tidak akan pernah ada yang persis sama, meski kembar siam sekalipun. Adanya berbagai perbedaan mungkin bisa membuat orang berselisih paham sekali waktu, dan itu normal. Tapi apakah itu bisa kita jadikan alasan untuk boleh bertengkar? Tentu saja tidak. Firman Tuhan menginginkan kita untuk menjauhi pertengkaran. “Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran,” (2 Timotius 2:24), dan dengan jelas firman Tuhan berkata bahwa “semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka”. (Titus 3:9). Perbedaan seharusnya dipandang bukan sebagai penghalang melainkan sebagai anugerah atau karunia Tuhan yang bisa membuat kita saling melengkapi dan saling menyempurnakan sebagai insan yang diciptakan secara istimewa dengan mengambil gambar dan rupa Pencipta sendiri.

Ada banyak pria yang menyalah gunakan statusnya sebagai kepala rumah tangga dan peran sebagai imam dengan bertindak semena-mena menindas istrinya. Rasa superior membuat banyak pria bersikap otoriter dan mau menang sendiri, bahkan tidak jarang bersikap kasar dan memaksakan kehendak terhadap istrinya. Mereka akhirnya hanya memerintah dan melarang tanpa merasa perlu memberi alasan. Mereka menunjukkan perilaku yang tidak bijaksana. Takut menjalin hubungan karena merasa punya perbedaan? Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa bertemu orang yang seratus persen persis sama. Takut kalau-kalau nanti bosan atau jatuh cinta lagi? Itu artinya menempatkan wanita hanya sebagai objek. Hal seperti ini sama sekali bukan kehendak Tuhan dalam menciptakan pria dan wanita. Tuhan menciptakan pria dan wanita untuk bersatu. Di awal penciptaan Tuhan mengatakan seperti ini: “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.(Kejadian 2:18). Mari kita telaah ayat ini secara mendalam.

Pertama, perhatikan kata “penolong”. Penolong adalah sebuah status yang sesungguhnya sangat mulia. Inilah masterplan Tuhan dalam menciptakan wanita. Wanita diciptakan sebagai penolong dan bukan sebagai budak yang tidak berharga. Bertindak otoriter, menindas wanita, dan menjadikannya sebagai objek pelengkap penderita saja tentu menyalahi firman Tuhan. Kemudian mari kita lihat kata “sepadan”. Ada banyak orang yang menganggap kata sepadan ini dengan “kesamaan”. Sama sifat, sama hobi, sama gaya, sehingga jika ada perbedaan sedikit saja, mereka akan cepat memberikan reaksi negatif. Saya lebih suka mengartikan “sepadan” sebagai sebuah status yang sama derajatnya, sama tingginya, dimana keduanya bisa saling melengkapi. Manusia punya begitu banyak kelemahan, dan penolong yang sepadan pun diberikan Tuhan, itu akan membuat setiap pasangan saling melengkapi untuk menjadi lebih sempurna. Tidakkah itu indah? Antara saya dan istri terdapat begitu banyak perbedaan. Beda sifat, beda selera, beda gaya, beda keputusan dan sebagainya. Namun ternyata perbedaan itu membuat kami saling melengkapi. We feel very happy, very blessed. We are joyful every day. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, saya lebih cenderung melihat bahwa perbedaan-perbedaan yang ada ternyata bisa membuat kita saling melengkapi dan menjadikan kita lebih sempurna ketimbang sendirian. Bagi saya, inilah gambaran yang begitu indah dari firman Tuhan dalam Kejadian 2:18 di atas.

Kalau begitu mengapa harus takut dalam membangun hubungan yang serius? Apa yang harus dilakukan pasangan terutama yang sudah menikah? Saling mengasihi, itu pasti. Lalu jangan memandang perbedaan sebagai jurang pemisah, tapi pandanglah sebagai sebuah karunia luar biasa yang bisa saling menyempurnakan, saling melengkapi. Seorang pria kristen dituntut untuk mengasihi istrinya, dan itu berulang kali dijabarkan dalam banyak ayat. Di sisi lain, istri diminta untuk menghormati suaminya pula. Bagi pria, tidak saja harus mengasihi istri, tapi harus pula mampu bersikap bijaksana terhadap istri, menghormati mereka, dan itu akan membuat segala doa-doa yang anda sampaikan tidak terhalang. “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7). Dalam ayat ini jelas terlihat bahwa kita para pria dituntut agar bisa bersikap bijaksana. Tidak menindas, tidak otoriter, tidak egois, berlaku adil dan penuh kasih, mendahulukan kepentingan pasangan ketimbang diri sendiri, itu artinya bijaksana. Termasuk pula di dalamnya sikap mau mengalah. Ketika ada banyak pria lebih berpikir untuk merasa mereka yang paling absolut dalam keluarganya atau bahkan di muka bumi ini, hendaknya pria-pria yang taat pada Kristus bisa menunjukkan perbedaan, sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan.

Bentuk mengasihi istri menurut firman Tuhan itu serius dan tidak boleh dianggap sepele. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25). Inilah sebuah kedalaman kasih yang seharusnya mampu kita capai. Yesus rela mati di atas kayu salib demi menyelamatkan kita, karena Dia begitu mengasihi kita, dan kita harus terus berusaha agar bisa mencapai tingkatan seperti itu. Tidak akan pernah ada manusia yang persis sama dalam segala hal. Begitu pula antara anda dengan pasangan anda. Perbedaan akan terus ada. Jangan pandang perbedaan sebagai alasan perpecahan, namun pakailah sebagai alasan untuk saling melengkapi. Sebagai anak-anak Tuhan kita dituntut untuk sedapat mungkin selalu berdamai dengan siapapun, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18), lebih dari itu hidup damai juga harus disertai dengan mengejar kekudusan. “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Bentuk pernikahan dalam kekristenan bukanlah untuk mendapatkan kepuasan pribadi, namun justru untuk memberi sesuatu. Tidak ada yang perlu ditakutkan dalam menghadapi perbedaan, karena seharusnya itu adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Berbahagialah di atas perbedaan dalam kesatuan yang saling melengkapi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here