Fabel

Ayat bacaan: Ayub 12:7
===================
“Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan.”

fabel

Anda masih ingat kisah Si Kancil Mencuri Ketimun, atau Siput dan Kelinci Lomba Lari? Kisah-kisah klasik seperti ini yang mengangkat hewan sebagai tokoh-tokoh utamanya biasanya disebut Fabel. Fabel konon berasal dari bahasa Belanda yang merupakan dongeng-dongeng dengan karakter hewan. Walt Disney dan Looney Tunes dari Warner Bros sering juga memakai tokoh-tokoh hewan sebagai karakternya. Dalam film-film animasi 3D yang banyak beredar satu dasawarsa terakhir ini pun kita kerap menemukan tokoh-tokoh hewan dengan berbagai karakternya. Selalu saja ada sesuatu yang bisa dipelajari dari kartun-kartun atau dongeng-dongeng berbentuk fabel ini, bukan saja bagi anak-anak tetapi kerap membawa pesan-pesan moral bagi segala usia termasuk kepada kita yang sudah dewasa.

Dalam kitab Ayub dikatakan bahwa Allah ...”memberi kita akal budi melebihi binatang di bumi, dan hikmat melebihi burung di udara” (Ayub 35:11). Itu tentu saja jelas. Tetapi kemudian perhatikanlah beberapa pasal sebelumnya di dalam kitab yang sama. Disana dikatakan: “Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan.” (12:7). Bertentangan? Tentu tidak. Apakah dia sinis melihat nasib yang menimpanya? Apakah dengan demikian kita harus berbicara kepada setiap binatang yang kita temui? Tidak, tentu tidak pula seperti itu. Apa yang diingatkan oleh Ayub adalah sebuah pesan bahwa kita bisa belajar banyak dari perilaku dan kebiasaan hewan-hewan, Benar bahwa kita dianugerahi hikmat yang tidak dimiliki oleh binatang-binatang di muka bumi ini, tetapi ada kalanya kita harus mau belajar dari mereka.

Apa yang bisa kita pelajari dari hewan? Banyak. Bahkan Alkitab banyak mengingatkan kita untuk belajar dari hewan-hewan selain ayat yang terdapat pada kitab Ayub di atas. Kita bisa belajar dari sifat, kebiasaan dan cara hidup jutaan jenis hewan di dunia dimana beberapa diantaranya tertulis di dalam Alkitab dalam banyak kesempatan. Lihatlah etos kerja semut, yang selalu bekerja tanpa henti, mampu mengatasi berat yang jauh melebihi berat tubuhnya, dan selalu mampu bekerja sama. Salomo pun menulis: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak. biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” (Amsal 6:6-8). Lalu rajawali dikatakan sebagai burung yang kuat. Kepak sayapnya begitu kuat untuk menembus angin dan badai hingga bisa melayang-layang di langit tinggi. Alkitab pun berulangkali memakai gambaran rajawali dalam berbagai hal, salah satunya bisa kita lihat pada Keluaran 19:4 atau ayat yang sudah tidak asing lagi bagi kita: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31). Domba menggambarkan hewan yang lemah tak berdaya yang selalu butuh gembala agar tidak habis dimangsa hewan-hewan buas. Dan Yesus pun datang untuk menebus kita, domba-domba yang hilang. (Matius 15:24). Menarik pula jika melihat bagaimana Yesus menggambarkan penghakiman terakhir ketika Dia memisahkan yang selamat dan tidak seperti memisahkan domba dan kambing. (Matius 25:31-46). Karakter singa, kambing, ular, keledai, serigala dan banyak lagi binatang lainnya juga bisa kita jumpai dalam Alkitab. Coba lihat ayat berikut: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16). Seperti domba diutus ke tengah serigala, kita tidak boleh terus bersikap lemah seperti domba, tetapi dituntut untuk bisa secerdik ular dan setulus merpati.

Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa belajar banyak hal dari hewan. Perilaku ikan, burung-burung, dan lainnya, baik dari apa yang kita lihat maupun dari berbagai acara televisi yang menggambarkan kehidupan hewan, kita tetap bisa memetik pelajaran. Artinya, baik lewat karakter,kebiasaan dan cara hidup hewan yang kita lihat sehari-hari, maupun lewat gambaran yang kita dapati dalam Alkitab, kita bisa belajar banyak dari semua itu. Tuhan bisa memakai apapun untuk menyatakan kemuliaanNya, Allah bisa memakai apapun untuk mengajarkan kita, semua yang Dia ciptakan tidak ada yang sifatnya kebetulan dan semua ada dalam rencanaNya untuk mendatangkan kebaikan. Bukankah Tuhan dalam menciptakan binatang-binatang di air, darat dan udara itu berkata “bahwa semuanya itu baik” (Kejadian 1:21)? Meskipun Dia tidak terlihat dengan mata, tidak berbicara pada kita seperti obrolan kita dengan sesama manusia, Tuhan ada dalam setiap sisi kehidupan kita dan selalu berbicara, mengingatkan serta mengajarkan kita untuk hidup benar, hidup kudus, hidup setia sesuai kehendakNya. Hewan-hewan pun bisa Dia pakai untuk tujuan-tujuan pembenahan diri kita. Ya, kita memang dijadikan berakal budi melebihi hewan, namun jangan tutup mata untuk belajar dari hewan-hewan ini, karena Tuhan sanggup mempergunakan mereka semua demi kebaikan kita.

Tidak ada batas dalam belajar, termasuk lewat hewan sekalipun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply