Thursday, 18 December 2014

Etika, Tata Krama dan Kesopanan

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4-5
=======================
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”

etika, sopan santun“Makin lama anak-anak muda semakin tidak tahu sopan santun.” cetus seorang ibu yang kesal ketika ada seorang remaja yang memotong antrian tepat didepannya disaat menanti giliran membayar di kasir. Saya berada di belakang si ibu sehingga mendengar ucapannya. Si pemuda yang memotong antrian tentu mendengar. Bukannya malu, ia malah memandang dengan tatapan melecehkan. Apakah anda pernah atau sering menjumpai orang-orang yang tidak punya sopan santun seperti ini? Anak-anak muda yang ribut berteriak tertawa-tawa di sebelah rumah tengah malam, suara motor yang digas kencang pada jam-jam orang beristirahat, Orang yang menyalip di jalan raya, berkata kasar kepada orang yang lebih tua bisa menjadi contoh bagaimana etika dan sopan santun semakin lama semakin lenyap dalam pergaulan manusia. Soal kurangnya tingkatan pendidikan? Tidak juga, karena ada banyak orang yang lebih secara finansial bersikap sangat sombong karena merasa memiliki dunia dengan kekayaannya. Tingginya jabatan atau status pun bisa membuat orang sombong dan kemudian merasa tidak perlu sopan atau punya etika lagi. Lihatlah sebagian wakil rakyat yang seenaknya mempergunakan uang rakyat untuk bepergian ke luar negeri, atau lihat pula bagaimana perilaku sebagian dari mereka yang tidak terpuji di tengah masyarakat. Marah ketika disuruh menunggu atau mengantri, mempergunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, itu menunjukkan bahwa masalah sopan santun dan etika sudah begitu mendarah daging dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bagaimana kita bisa berharap melihat anak-anak muda yang tau etika dan sopan jika yang lebih senior saja sikapnya buruk? Lantas pertanyaan berikutnya, bagaimana kita bisa berharap etika dan kesopanan bisa kembali muncul di bangsa ini apabila kita sebagai anak-anak Tuhan pun masih belum sepenuhnya bisa menjadi contoh akan hal ini?

Etika dan sopan santun seharusnya menjadi bagian hidup siapapun. Apalagi kita hidup din negara yang katanya memiliki budaya ketimuran yang menjunjung tinggi etika dan kesopanan. Konon pada suatu masa budaya ketimuran dikenal dengan keramah-tamahan, murah senyum, baik budi pekerti, sopan santun, namun perkembangan jaman tampaknya diikuti pula oleh erosi etika dan sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai lapisan. Jika budaya ketimuran saja sudah berbicara tentang menjaga sikap dan tingkah laku, etika dan sopan santun, apalagi bagi kita yang menyandang predikat pengikut Kristus. Sayangnya di antara anak-anak Tuhan pun masih juga ada yang tidak siap menjaga perilakunya, dan akhirnya menjadi contoh buruk di masyarakat. Bagaimana kita bisa berharap orang bisa mengenal Yesus jika orang sudah terlebih dahulu anti pati melihat sikap kita? Kita harus bisa menjadi contoh teladan. Itu jelas merupakan sebuah tanggung jawab kita sebagai orang percaya.

Inti dari kekristenan adalah kasih, dan itulah yang harus menjadi dasar hidup semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali. Lantas apa hubungannya kasih dengan kesombongan dan sopan santun? Tentu saja ada. Mari kita lihat ayat bacaan hari ini. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” (1 Korintus 13:4-5). Di dalam kasih itu ada sabar dan murah hati. Kasih tidak mengenal kecemburuan, memegahkan diri atau sombong, tidak mengenal ketidaksopanan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kita lihat disini bahwa sesuatu yang dilandasi kasih seharusnya membuat kita tampil sebagai orang-orang yang tidak sombong melainkan tahu etika dan tahu sopan santun. Perhatikan pula ayat berikut ini: “Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.” (1 Tesalonika 4:11-12). Kita diminta untuk hidup dengan tenang, tidak mencampuri persoalan orang lain apalagi mengganggu ketentraman orang, mencari nafkah tanpa mengganggu orang lain, dan dengan demikian kita akan hidup dengan sopan, sehingga orang-orang yang belum mengenal Kristus pun akan melihat perbedaannya dan menghormati kita. Kesombongan dikatakan sebagai sebuah kekejian di hadapan Allah (Amsal 16:5) dan merupakan awal dari kehancuran (16:18). Bentuk-bentuk kesombongan akan membuat orang memegahkan diri secara berlebihan sehingga kehidupan orang sombong akan jauh dari etika, perilaku terpuji dan sopan santun. Tidak itu saja, kesombongan pun akan menjadi pintu masuk dari dosa-dosa lain.

Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26). Apabila kita tidak menjaga perilaku dan perkataan kita, maka ibadah kita pun menjadi sia-sia. (Yakobus 1:26). Karena itu, marilah kita menyatakan kasih kepada orang lain, mari kita menjadi pelaku firman. Mari kita menjadi contoh yang benar, baik dalam perkataan, tingkah laku maupun perbuatan. Dunia disekitar kita tengah dilanda degradasi moral, krisis tata krama, etika dan sopan santun. Janganlah kita ikut-ikutan terseret kepada hal tersebut, namun jadilah orang yang berbeda dengan dunia, penuh sopan santun dan beretika sehingga kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan lewat sikap kita dimanapun kita berada.

Sebagai pengikut Kristus, jadilah contoh teladan mengenai etika dan sopan santun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Etika, Tata Krama dan Kesopanan"

Response on "Etika, Tata Krama dan Kesopanan"