Empedu dan Bayangan Gelap

Ayat bacaan: Lukas 12:1
===================
“Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”

bergunjing, batu sandungan, ragi orang Farisi

Situs jejaring Facebook memang fenomenal. Gara-gara Facebook, saya bertemu kembali dengan teman-teman lama yang sudah belasan atau puluhan tahun tidak ketemu. Salah satunya adalah seorang teman yang tidak pernah lagi ketemu sejak saya tamat SD. Ia sekarang memiliki seorang anak gadis yang sudah duduk di bangku SMP. Ia bercerita bahwa kehidupan rumah tangganya tidaklah bahagia. Ketika obrolan berlanjut, ia menyampaikan hal yang mengagetkan saya. Dia mengaku atheis. Padahal yang saya tahu dulu ia termasuk rajin ke gereja. Ternyata, ketidakharmonisan hubungannya dengan suami membuatnya digunjingkan macam-macam, termasuk di cap sebagai wanita pengganggu rumah tangga orang. Saya sempat bertanya apakah itu benar, dan ia menjawab tidak. Terlepas dari benar atau tidak, saya sungguh menyayangkan jemaat gereja yang bergunjing membicarakan dosa orang lain, menjauhinya, memasang muka sinis setiap ia hadir di gereja. Akhirnya inilah yang terjadi. Ia menjadi seorang atheis, menganggap orang-orang di gereja itu munafik. Kepahitan. Itulah yang akhirnya menimpanya. “Percuma saya ke gereja, kalau hanya untuk digunjingkan, dipandangi dengan sinis, dijauhi, dimusuhi.. padahal mereka tidak kenal saya..” Itu katanya. “Isinya hanyalah orang-orang munafik, saya tidak percaya apa-apa lagi.” Ketika saya mengatakan bahwa tidak semua orang seperti itu, manusia memang bisa mengecewakan tapi Tuhan tidak akan pernah, ia malah balik bertanya,”Apa Tuhan itu memang benar ada?”

Alangkah ironis ketika anak-anak Tuhan yang seharusnya menjadi cermin Kristus di dunia, ternyata malah menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Alangkah ironis ketika kita seharusnya menjadi terang dan garam, tapi ternyata malah menjadi empedu dan bayangan hitam. Tuhan Yesus mengecam keras sikap yang penuh kemunafikan. Kemunafikan ini digambarkan Tuhan sebagai ragi orang Farisi. “Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” (Lukas 12:1). Orang-orang Farisi dikenal sebagai ahli Taurat yang selalu tampil alim dimanapun mereka berada, mengaku begitu mengenal hukum-hukum Tuhan, selalu berkata mengenai kebenaran, namun perilaku mereka tidaklah mencerminkan apa yang mereka perkatakan. Mereka selalu merasa diri paling bersih dan paling benar, sehingga mereka begitu gampang untuk menghakimi orang lain. Inilah ragi Farisi yang sangat ditentang Tuhan Yesus. Perhatikan apa kata Yesus. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)” (Matius 23:13-14). Hukuman akan lebih berat dijatuhkan kepada orang-orang munafik, karena mereka sudah mengetahui kebenaran namun masih juga terus melanggarnya, bahkan mempergunakan itu sebagai topeng agar mereka terlihat hebat di mata manusia.

Sebagai anak-anak Tuhan, kita seharusnya menjadi terang dan garam bagi orang lain. (Matius 5:13-16). Seharusnya kita menjadi sumber kasih, seperti halnya Tuhan sendiri mengasihi kita, bukan memusuhi, menghakimi, menjelek-jelekkan orang lain, apalagi dalam gereja! Taruhlah memang benar teman saya itu pengganggu rumah tangga orang, bukankah seharusnya ia tidak dibiarkan terus sesat, dibimbing hingga bertobat, bukannya malah dihakimi beramai-ramai sampai menjadi semakin sesat? Bukankah Tuhan Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya (Yohanes 21:15-19), bukannya malah mengusir domba-dombaNya untuk semakin pergi semakin jauh? Betapa ironis jika anak-anak Tuhan malah berperan membuat orang semakin jauh dari kebenaran. Bukan lagi menjadi berkat, namun malah menjadi batu sandungan yang membuat orang tidak lagi percaya kepada Tuhan.

Ragi orang Farisi akan dengan sangat mudah hinggap pada diri kita. Mengetahui firman Tuhan memang bagus, tapi jika tidak disertai perbuatan, maka iman kita itu hanyalah sebentuk iman yang mati, dan disitulah kita bisa terjebak pada berbagai dosa kesombongan, merasa diri paling benar dan sebagainya. Kecenderungan seperti ini memang cenderung hadir dalam diri manusia. Oleh karenanya Paulus mengingatkan “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Roma 14:13). Jika kita sudah dibebaskan dengan menerima Kristus sebagai Juru Selamat kita, langkah selanjutnya adalah komitmen kita untuk terus menjaga diri kita, agar kebebasan itu jangan sampai menjadi batu sandungan bagi yang lemah. (1 Korintus 8:9). Kita juga diingatkan langsung oleh Yesus sendiri untuk tidak menghakimi. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Kita juga diingatkan agar tidak merasa sebagai orang yang paling benar, pintar melihat kesalahan orang tapi tidak pernah menyadari kekurangan sendiri. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?… Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (ay 3,5) Sebagai orang percaya, seharusnya kita selalu melakukan apa yang bisa mendatangkan damai sejahtera dan bisa membangun bahkan menyelamatkan orang lain. “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun (Roma 14:19), bukan sebaliknya mendatangkan kepahitan dan menghancurkan masa depan orang. Merusak pekerjaan Allah adalah fatal akibatnya. Karena itu kita harus senantiasa menjaga diri kita, menyelediki hati kita dan menjadikannya nyata lewat sikap, tingkahlaku, pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Hindarilah sikap-sikap seperti merasa diri paling hebat, paling benar, paling baik, dimana sikap seperti ini akan membuat kita tergoda untuk mudah menghakimi orang lain lalu menjadi batu sandungan yang merusak pekerjaan Tuhan. Jadilah anak-anak Tuhan yang rendah hati, yang membawa terang dan menjadi garam bagi sekitar. Jangan sesatkan domba-dombaNya, tapi gembalakanlah dengan benar!

Jangan menjadi empedu dan bayangan gelap, tetapi jadilah terang dan garam

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply