Elegan dalam Mewartakan Injil

Ayat bacaan: Matius 10:16
====================
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

bersikap elegan

Pernahkah anda merasa terganggu ketika merasa “dikuntit” kemanapun anda bergerak dalam sebuah butik oleh pramuniaga yang bertugas? Saya tidak tahu mengapa, tetapi kebanyakan butik atau toko di Indonesia menganggap itu sebagai hal yang lumrah. Entah apa yang jadi dasar untuk berlaku seperti itu. Apakah mereka ingin menunjukkan perhatian mereka atau takut orang mencuri di tokonya, entahlah. Bagi saya sendiri hal itu cukup mengganggu. Kemanapun saya bergerak, mereka akan terus mengikuti dan melihat apapun yang saya lakukan. Mungkin maksud mereka baik, mereka ingin membantu konsumen dan siap memberi bantuan jika diperlukan. Tetapi alih-alih membantu, kehadiran mereka seringkali menciptakan rasa tidak nyaman atau risih. Belum lagi sebagian pramuniaga akan terus berbicara menawarkan produk demi produk padahal kita hanya bermaksud melihat-lihat dulu. Saya biasanya akan memilih untuk segera meninggalkan tempat itu jika pramuniaganya bersikap menjengkelkan seperti itu. Anggaplah maksud mereka memang baik, untuk membantu pelanggan, namun momen yang tidak tepat bukannya membantu tetapi malah membuat risih sehingga mereka pun kehilangan pembeli. Seandainya mereka tidak “mengganggu” pengunjung ketika melihat-lihat jualan mereka dan tidak membuat jengkel, mungkin mereka akan lebih berhasil dalam penjualannya.

Betapa seringnya kita gagal karena tidak tahu mengambil momen yang tepat. Dalam bekerja, dalam kehidupan maupun dalam menjalankan tugas kita sesuai Amanat Agung yang telah disampaikan Yesus sesaat sebelum Dia naik ke Surga. Ada banyak anak-anak Tuhan yang merasa bertanggung jawab untuk mewartakan Injil, tetapi sayang sekali ada banyak pula dari mereka yang tidak tahu bagaimana melakukan itu secara elegan. Akibatnya mereka terjebak untuk mengikuti cara-cara dunia. Memaksakan kehendak dengan kasar atau bahkan kekerasan. Atau menganggap perlu untuk menjelek-jelekkan orang lain terlebih dahulu agar apa yang mereka sampaikan bisa diterima. Ada beberapa teman yang pernah bercerita bahwa mereka pernah bertemu dengan orang-orang yang bersikap seperti ini. Mereka memaksakan kehendak dan mudah marah ketika orang tidak mengikuti kemauan mereka, hanya karena mereka berasal dari denominasi yang berbeda. Mereka begitu mudahnya menjelek-jelekkan gereja dan jemaat selain mereka dan bersikap sangat tidak simpatik. Jika itu yang dipertontonkan, bukannya menjadi garam dan terang tetapi mereka malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Jangankan membawa jiwa, dekat saja mungkin tidak ada yang mau, jengah, jengkel, risih atau malah kesal.

Mengapa harus bertindak seperti itu? Itu sama sekali bukanlah gambaran sikap yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. Yesus mengatakan seperti ini: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16). Seringkali medan yang kita hadapi itu berat, kita harus berhadapan dengan situasi-situasi yang beresiko, penolakan dan sebagainya. Dalam posisi seperti itu bisa jadi kita bagaikan domba ditengah serigala. Oleh karena itulah kita diingatkan agar pintar memilih momen dan bersikap. Tetap tulus seperti merpati, bukan karena adanya agenda-agenda pribadi tetapi semata-mata atas dasar kerinduan membawa kabar keselamatan kepada banyak orang. Disamping tulus, hendak pula kita cerdik dalam melakukannya. Bukan dengan paksaan, kasar, dengan menjelek-jelekkan, atau melakukan bentuk-bentuk “hard-selling” yang membuat risih orang lain. Melakukan dengan tulus atas dasar kasih dan mengambil jalan-jalan yang baik, elegan dengan rasa hormat dan lemah lembut, itulah yang seharusnya kita pilih dalam mewartakan Injil keselamatan kepada orang lain.

Tidak satupun firman Tuhan yang menghendaki kita untuk bersikap kasar atau memaksakan kehendak. Tidak dalam hal pekerjaan atau kehidupan, apalagi dalam menyebarkan Injil. Kita justru diingatkan untuk memiliki hati yang lemah lembut. Lihatlah pesan yang sangat indah dan esensial dalam Kolose berikut: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:12-14). Ini sikap yang seharusnya ada pada kita dalam menjalani kehidupan kita termasuk didalamnya untuk menjalankan tugas sesuai dengan Amanat Agung. Biar bagaimanapun, ingatlah dua hukum yang terutama seperti yang dikatakan Yesus dimana didalamnya tercakup seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu…Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37,39). Ingatlah bahwa “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain..” (1 Korintus 13:4-5). Tidak ada tempat untuk kasar, memaksa, tidak sopan dan sebagainya dalam kasih, dan ketika kita berjalan dengan dasar kasih, maka kita pun seharusnya melakukan semuanya dengan sikap-sikap seperti yang dijelaskan dalam ayat tersebut.

Dahulu Yesus melihat melihat ada banyak orang yang terlantar yang butuh pertolongan. “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:36). Pemandangan yang sama pun masih ada hingga hari ini. Kita bisa mengenalkan Yesus, Gembala yang baik kepada orang lain, namun perhatikan baik bagaimana cara kita untuk melakukannya. Lewat pemaksaan, kasar atau menjelek-jelekkan jelas bukan pilihan. Bersikap tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular, itu yang seharusnya kita lakukan, dan keduanya harus pula berjalan beriringan. Cerdik tapi tidak tulus itu tidak baik, sebaliknya tulus tapi tidak cerdik pun tidak baik juga. Petrus mengatakan “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1 Petrus 3:15-16). Lemah lembut, hormat dan dengan hati nurani yang murni, itulah yang harus menjadi dasar dalam hati kita dalam mewartakan berita keselamatan ini. Paulus juga mengingatkan hal yang sama dalam suratnya kepada Timotius: “sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran.” (2 Timotius 2:24-25). Pilihlah jalan-jalan yang bijaksana dengan dasar kasih sehingga kita bisa menjamah hati orang lain untuk mengenal Yesus dengan baik dan benar.

Mewartakan kabar keselamatan itu penting, tapi tidak kalah pentingnya untuk melakukannya dengan baik dan tepat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: