Eksistensi Tuhan (2)

(sambungan)

Seakan itu semua belum cukup, Tuhan sendiri sampai harus menegaskan eksistensiNya. “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (Keluaran 3:14). Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) ayat ini berbunyi: “Kata Allah, “Aku adalah AKU ADA. Inilah yang harus kaukatakan kepada bangsa Israel, Dia yang disebut AKU ADA, sudah mengutus saya kepada kamu.” Ini sebuah pernyataan tegas yang disampaikan kepada Musa untuk menjawab serangkaian keraguan Musa ketika ia ditugaskan untuk memimpin bangsa Israel untuk keluar dari perbudakan di Mesir menuju tanah terjanji Kanaan. Siapa Tuhan itu? Kepada Musa Tuhan mengatakan demikian: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” (ay 6). Tuhan yang memanggil Musa adalah Tuhan yang sama yang telah menunjukkan kuasaNya yang tak terbatas kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Mereka telah melihat sendiri dan membuktikan kemuliaanNya, kesetiaanNya dalam menepati janji, dan seharusnya Musa tahu itu sejak awal dan tidak perlu lagi terus bertanya. Tapi apa yang terjadi pada Musa sebenarnya merupakan gambaran kita semua, manusia yang selalu saja diliputi keraguan akan eksistensi dan kuasa Tuhan di atas segalanya.

Tuhan menciptakan segalanya sejak semula, dan semua karya penciptaanNya itu dikatakanNya dengan satu hal, yaitu “sungguh amat baik.” (Kejadian 1:31). Segala yang sungguh amat baik itu diciptakan Tuhan, dan di atas segalanya itu Tuhan menciptakan sesuatu yang istimewa dengan mengambil gambar dan rupaNya sendiri. Manusia. Manusia dikatakan sebagai ciptaanNya yang istimewa, yang bahkan Dia beri kemuliaan dan hormat. Daud pun terheran-heran dengan keistimewaan manusia termasuk dirinya dibanding ciptaan-ciptaan lainnya. Mari kita lihat ayat ini: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya..” (Mazmur 8:4-7). Jika sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Daud menggambarkan berbagai kehebatan alam semesta ini diciptakan sebagai bukti eksistensi atau keberadaan Tuhan yang tidak terbantahkan, dalam rangkaian ayat barusan kita bisa melihat bagaimana Daud terheran-heran melihat bahwa manusia justru sebagai yang teristimewa diantara segala yang luar biasa itu.

Belakangan Penulis Ibrani kembali mengingatkan hal itu, “Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat,segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya.” Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya.” (Ibrani 2:6-8). Begitu tingginya manusia di mata Tuhan, begitu istimewanya, bayangkanlah sebagian manusia justru berusaha meniadakan Tuhan lewat alasan-alasan yang dianggap ilmiah. Manusia mencoba menyombongkan dirinya lebih dari Sang Pencipta, dan menganggap mereka lebih tahu dari Sosok yang menciptakan mereka. Ini adalah sesuatu yang ironis, menyedihkan dan memperihatinkan.

Paulus menggambarkan pola pemikiran yang menafikan keberadaan uhan ini sebagai kefasikan dan kelaliman yang memurkakan Tuhan. Tuhan memang tidak terlihat kasat mata seperti kita memandang manusia atau alam dan isinya, tapi jika kita mau sedikit berpikir dengan hati yang terbuka, kehebatan Tuhan itu sebenarnya bisa terlihat jelas dari segala karyaNya sejak dahulu hingga sekarang. Itulah yang dikatakan pula oleh Paulus. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Roma 1:20). Jika anda berpikir bahwa itu hanya ditujukan kepada orang yang tidak mengakui keberadaan Tuhan, nanti dulu. sebab selanjutnya ia berkata: “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” (ay 21). Dan Paulus kemudian menyinggung pula mengenai keputusan-keputusan fatal untuk menggantikan Allah dengan benda-benda fana untuk disembah. “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar…mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.” (ay 23,25). Hal-hal seperti ini hendaknya kita renungkan terutama dalam saat-saat kita terkontaminasi oleh keraguan lewat hal-hal yang kita baca yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Ketika kita menikmati hasil ciptaan Tuhan yang indah ini, ketika memandang bintang-bintang, bunga, tumbuhan yang indah, satwa jinak maupun liar dalam jutaan bahkan milyaran ragam, seharusnya kita bisa menyadari keberadaan Tuhan, bersyukur atas itu semua kepadaNya dan memuliakanNya.

The Virtuoso of Heaven has given us all the beautiful things in our lives. The Almighty God does exist.Tuhan itu ada. Tuhan yang penuh kasih itu telah dengan jelas menyatakan diriNya sendiri lewat segala ciptaanNya yang bisa kita lihat dan rasakan setiap hari. Disamping itu Tuhan sendiri telah berfirman secara langsung mengenai keberadaan atau eksistensiNya. Marilah hari ini kita tanggalkan segala keraguan. Ijinkan Roh Allah menyingkap rahasia-rahasia kehidupan dan membuka mata anda, yang hanya bisa anda dapatkan apabila anda tidak memiliki hati yang keras yang punya tendensi untuk terus membangkang atau menolak. After all, He deserves it after everything he has done and created for us.

Segala ciptaan yang indah bagaikan jari telunjuk yang terarah kepada Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: