kursi listrik by reuters

HARI-HARI ini berita tentang ekseskusi mati bagi pengedar narkoba sedang marak didiskusikan. Ada banyak pandangan mengenai keputusan pemerintah. Beberapa hari yang lalu, saya pun mengangkat tema eksekusi mati dalam renungan harian. Kini, saya pun mengangkat tema itu.

Sabda Tuhan beberapa hari lalu, Yesus mengalami gugatan untuk dieksekusi mati. “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Lihatlah Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaNya”.

Kalimat ini merupakan ungkapan penghakiman kepada Yesus. Dengan kata lain, Yesus mendapat keputusan hukuman mati. Hukuman mati itu terbukti pada saat Yesus dijatuhi hukuman mati di kayu salib.

Eksekusi mati

Eksekusi mati sudah ada sejak zaman dulu hingga sekarang. Namun dengan perkembangan pengetahuan dan moral, sudah ada banyak negara tidak lagi memutuskan hukuman mati. Kita bisa merasakan betapa tidak terimanya Tuhan kita Yesus Kristus harus mati dengan cara mengenaskan. Alasan Yesus dihukum mati karena merugikan banyak orang dan menyesatkan menurut Orang Yahudi. Alasan ini pula mengapa Gereja Katolik menolak hukuman mati meskipun para pengedar narkoba telah merugikan banyak orang.

Saya mau mengkontekstualkan cara hidup kita yang telah mengeksekusi mati Tuhan Yesus. Dalam Ibadat Jalan Salib, kita merenungkan Tuhan Yesus yang wafat demi dosa kita. Secara tidak langsung, kita telah mengeksekusi mati Tuhan Yesus. Tuhan Yesus rela menderita demi kita karena kasih Allah yang begitu Agung sehingga mengutus Tuhan Yesus ke dunia. Namun sebagai balas budi, kita membalas kasih Allah dengan eksekusi mati Tuhan Yesus. Mari kita semakin merenungkan cara hidup kita, agar kita mampu membalas kasih Allah dengan berjalan sesuai dengan Perintah Allah, ajaran Tuhan Yesus, ajaran gereja, dan hidup bersama.

Kredit foto: Ilustrasi (Courtesy of Reuters)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.