Egoisme Jalan Raya: Bisa tak Cukup

DEWASA ini, kendaraan bermotor khususnya roda dua bukan merupakan hal yang mewah lagi. Setiap orang dari berbagai kalangan bisa mendapatkannya dengan mudah, tunai maupun kredit. Melalui kredit, akses mendapatkannya pun cukup mudah, dengan uang muka yang rendah dan persyaratan yang relatif mudah dipenuhi, sepeda motor dengan mudah dapat dibeli. Ditambah lagi karakter masyarakat kita yang konsumtif, maka semakin menjamurlah sepeda motor di jalanan.

Kendaraan beroda dua ini relatif mudah dipelajari, ada yang bilang asal bisa naik sepeda pasti bisa naik motor. Tinggal mempelajari fungsi-fungsi tombol di motor, menjaga keseimbangan, tahu posisi gas dan rem, maka sudah layak jalan. Tapi apakah “bisa” mengendarai motor saja sudah cukup?

Jawabannya Tidak.

Egoisme jalan raya

Sering kita menemukan pengendara tidak menyalakan lampu sen ketika berbelok, menggunakan ponsel sambil berkendara, berhenti tiba-tiba, menyalip tiba-tiba dengan cara yang berbahaya, menyerobot lampu merah, dan masih banyak perilaku berbahaya lainnya.

Ternyata masih banyak hal yang harus dipejalari ketika mengendarai sepeda motor. Kesadaran bahwa jalan umum adalah milik bersama serta penggunaan logika dan kedewasaan juga diperlukan. Karena ketika kita berkendara, kita tidak hanya pada keselamatan sendiri untuk mencapai tujuan, namun juga harus bertanggungjawab terhadap keselamatan penumpang, pengendara lain, bahkan pejalan kaki.

Banyak kecelakaan lalu lintas disebabkan karena ulah pengendara lain, bukan si korban. Si korban sudah berhati-hati dan menaati peraturan lalu lintas, namun dialah yang menjadi korban dari kecelakaan itu.

Banyak pengendara yang terlalu egois, rasa memiliki terhadap jalan umum terlalu tinggi. Dia merasa bahwa jalanan itu milik sendiri, sehingga tidak mempedulikan keselamatan orang lain. Selain itu, kadang rambu lalu lintas hanya dianggap sebatas pajangan saja. Belum lagi infrastruktur jalan yang kurang memadai membuat angka kecelakaan sangat tinggi.

Motor yang beredar berbanding lurus dengan SIM yang dikeluarkan. Tes yang diberikan untuk mendapat SIM hanya untuk dasar-dasar berkendara saja. Apalagi sekarang sudah tidak asing lagi praktik “SIM tembak”.

Apakah dikeluarkan SIM oleh kepolisian sampai ke tangan pengendara sudah sesuai prosedur? Apakah kepemilikan SIM sudah menjamin si pemilik mempunyai etika yang baik di jalan raya? Dan apakah adanya aparat keamanan sudah dapat menjamin tertibnya lalu lintas?

Ketertiban lalu lintas dan keselamatan di jalan umum merupakan tanggung jawab kita bersama, kembali ke diri kita masing-masing dan dapat kita mulai dengan peduli terhadap hal-hal kecil.

Tautan: http://albhum2005.com

Photo credit: Suasana lalu lintas malam di jantung kota Hanoi, Vietnam (Mathias Hariyadi)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah: 2Korintus 3:12-4:2
  2. Khotbah: 2 korintus 3:12-4:2
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: