Ayat bacaan: Obaja 1:3
======================
“Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?”

Saya masih ingin melanjutkan dosa kesombongan dan konsekuensi yang harus ditanggung sebagai akibatnya dari contoh lain. Kesombongan merupakan salah satu produk hati yang buruk, yang biasanya muncul saat hidup sedang dalam keadaan sangat baik. Saat sukses, saat berhasil, saat populer, saat punya jabatan tinggi, saat berada di atas dan sebagainya. Di saat-saat seperti inilah godaan untuk menjadi sombong biasanya menyeruak naik ke permukaan. Jika tidak siap dengan keberhasilan, dosa kesombongan akan sangat cepat mengambil alih sikap dan tingkah laku kita. Karenanya kita harus selalu berhati-hati dalam memperhatikan langkah demi langkah, tetap rajin memeriksa diri/hati agar kiranya jangan ada sedikitpun perasaan sombong yang bercokol disana.

Kemarin kita sudah melihat contoh dari sikap Saul yang meninggalkan Tuhan. Ia melanggar ketetapan Tuhan, berbalik dari Tuhan dan terus kuatir akan jabatannya sebagai raja. Berbagai pelanggaran terus ia lakukan hingga ia harus mengalami akhir tragis sebagai konsekuensinya. Hari ini mari kita lihat kisah sebuah negeri bernama Edom yang dicatat dalam kitab Obaja. Obaja pada suatu hari mendapat sebuah penglihatan mengenai situasi yang mengancam negeri Edom. Ia diberi tahu Tuhan bahwa telah dikirim utusan ke tengah bangsa itu untuk memeranginya. “Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat.” (ay 2). Mengapa Tuhan harus melakukan itu? Penyebabnya, Tuhan sangatlah tidak berkenan melihat keangkuhan bangsa itu. Demikian Tuhan berkata: “Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?” (ay 3). Lihatlah betapa Tuhan anti dengan yang namanya angkuh atau sombong. Selain itu Edom pun dikenal sebagai bangsa yang kerap menyerang Yehuda.

Apa yang membuat Edom menjadi negeri yang penuh dengan sikap angkuh? Secara geografis, Edom terletak pada posisi yang strategis. Negeri itu berada di puncak gunung yang tinggi. Posisi ini sangat menguntungkan Edom. Mereka kuat dan terlindung, sehingga mereka merasa sangat aman lalu lupa diri. Mereka yakin berpikir bahwa tidak akan ada bangsa manapun yang akan mampu menandingi mereka. Mereka tidak sadar bahwa keangkuhan seperti itu ternyata tengah mengarahkan mereka ke dalam kehancuran. Mereka lupa bahwa keadaan geografis yang strategis dan terlihat sangat aman, kekuatan mereka yang superior tidaklah berarti apa-apa dibanding kuasa Tuhan. Kalau Tuhan mau menjungkir balikkan segalanya, itu bisa Dia lakukan dengan mudah, semudah membalikkan telapak tangan. “Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, –demikianlah firman TUHAN.” (ay 4).

Puji Tuhan apabila hari ini keadaan kita aman, baik dan terkendali. Bersyukurlah jika kita tengah tidak tersesak oleh kondisi finansial, tengah meniti karir yang meningkat secara signifikan dan tengah berlayar di lautan tenang dengan arah angin berpihak pada kita. Tapi pada keadaan seperti ini kita tidak boleh lengah. Justru kita harus meningkatkan kewaspadaan terhadap jebakan kesombongan. Jangan sampai kita lupa akan firman Tuhan ini: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6). Jika kita lupa, itu artinya kita tengah membiarkan diri kita berjalan menuju kehancuran. Sebab Firman Tuhan lewat Salomo berkata “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18). Kehancuran atau kejatuhan yang terjadi bisa sangat serius, karena seringkali bukan hanya terjadi pada satu individu saja, tapi bisa menjadi kolektif bahkan menimpa satu bangsa besar sekalipun, seperti yang terjadi pada bangsa Edom.

Kita diselamatkan untuk menyelamatkan, kita diberkati untuk memberkati. Semua itu bukanlah untuk ditimbun sendiri apalagi dipakai untuk menyombongkan diri tapi untuk menjadi saluran berkat bagi sesama, menjadi cerminan Yesus agar orang yang belum mengenalNya bisa kenal secara benar lewat diri orang-orang percaya yang menghidupi firman secara nyata. Kita harus ingat bahwa “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). Bukan karena kuat hebatnya kita, bukan karena kepandaian atau kuasa yang kita miliki, tapi semua itu berasal dari Tuhan. Oleh karena itulah kita jangan sampai merasa berada di atas angin dan lupa bahwa segalanya tetap merupakan berkat dari Tuhan. Bukankah kepandaian, bakat, talenta atau keahlian bahkan kesempatan untuk sukses pun berasal dari anugerahNya juga?

Firman Tuhan berkata “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.” (Mazmur 75:7-8). Perkara naik dan turun pun berada dalam keputusan Tuhan. Petrus juga mengingatkan “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” (1 Petrus 5:6) dan lewat Yakobus pun sudah dikatakan bahwa bermegah diri dalam kesombongan adalah sikap yang salah. “Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.” (Yakobus 4:16).

Tanpa Tuhan kita tidak akan mungkin bisa mempertahankan apa yang sudah sukses kita peroleh hari ini. Tidak peduli sehebat apapun diri kita, dalam sekejap mata semua itu bisa lenyap. Belajar dari yang dialami bangsa Edom, mari kita menjaga diri kita untuk terhindar dari sikap angkuh, congkak atau sombong. Pakailah segala yang diberikan Tuhan kepada anda hari ini bukan untuk membanggakan diri tetapi untuk memuliakan Tuhan lebih lagi. Segala sesuatu berasal dariNya, bersyukurlah untuk itu dan teruslah pakai untuk menjadi saluran berkat bagi sesama.

Kesombongan awal dari kehancuran. Sikapi sukses dengan benar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.