Dunia Membentuk Kita

alam semesta dan manusia by ist

DUNIA  membentuk manusia. Saat kita termakan oleh omongan iklan kosmetik yang mengatakan bahwa kecantikan hanya dimiliki oleh mereka, perempuan berkulit putih dan bertubuh langsing. Saat kita merasa resah berpergian di tengah malam karena membaca berbagai ulasan media yang menyoroti kasus pembegalan dan kekerasan lainnya. Ataupun saat kita terbawa arus dengan ikut menghujat kelompok sosial lain yang berbeda, kendati tidak mengetahui akar masalah yang sebenarnya terjadi.

Ya, dunia dengan segala godaannya memang menjadi tantangan tersendiri bagi kita, para peziarah yang melakukan perjalanan hidup di bumi ini. Seperi yang tertera pada Kitab Suci, bahwa manusia yang berasal dari Allah tinggal di dunia yang seluruhnya berada di bawah kuasa si jahat (1 Yoh 5:19). Begitu banyak ketakutan dan kekhawatiran yang kita rasakan setiap harinya, karena lingkungan di sekeliling yang membentuk pemikiran kita akan suatu hal. Konstruksi sosial seperti itulah yang menjadikan manusia tidak dapat lagi secara leluasa mengembangkan keutuhan pribadinya.

Realitas yang dibangun pun sudah dianggap menjadi sesuatu yang wajar, walaupun sebenarnya hanya dibentuk oleh segelintir pihak tertentu yang berkuasa. Kepentingan pihak inilah yang akhirnya didahulukan, yang dilegitimasikan menjadi sederet panjang aturan, norma, dan kebiasaan masyarakat yang dianggap benar dan tepat. Sebuah ironi, anak manusia yang seharusnya saling menyelamatkan justru menjatuhkan satu sama lain di dunia yang diciptakan-Nya ini. Dunia yang seharusnya menghidupkan kita, justru mematikan nurani kita akan sesama.

Namun, bukan berarti dunia hanya membentuk kita dengan keburukan. Masih banyak kebaikan-kebaikan yang dunia coba berikan kepada anak-anaknya yang menetap tinggal. Kita ingat saja bagaimana keluarga mengajarkan tentang kasih dan kesetiaan. Bagaimana persahabatan yang dijalin membentuk rasa kepedulian dan pengorbanan kita. Tentang berbagai pengalaman kegagalan dan kesuksesan yang memperbaharui pribadi kita untuk menjadi lebih bersyukur. Keberadaan media dan teknologi yang semakin menggerakan masyarakat dunia dalam suatu aksi damai dan gerakan sosial bersama yang begitu menyentuh. Yet, worlds create kindness through people too!

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Allah menghirupkan nafas-Nya pada manusia, sehingga kita terlahir dengan membawa sifat dan citra Allah. Allah membentuk manusia dengan sempurna, hingga akhirnya mengantarkan kita pada kehidupan di bumi. Sayangnya, dunia yang kita kenal ini tidak hanya membentuk manusia secara baik tetapi juga dengan hal-hal yang buruk. Sehingga manusia yang sempurna, bisa menjadi tidak sempurna. Hal ini tentunya bukanlah kesalahan dunia yang dibentuk-Nya, tetapi kesalahan segelintir manusia yang membentuk dunia sehingga merugikan manusia lain.

Lingkungan yang kita tinggali sewaktu-waktu bisa memberikan pengaruh negatif ataupun positif. Lalu apa yang harus kita lakukan? Berdiam diri dan menerima semuanya? Tidak, bukan itu yang kami, para penerima beasiswa Pemapan 2015 pelajari dalam retret Bhumiksara lalu.

Melalui pembekalan materi dan sesi bersama romo dan kakak fasilitator, kami belajar bahwa ternyata banyak hal yang bisa dilakukan. Seperti mmenyaring informasi yang diterima, melihat suatu hal dari berbagai perspektif, memperbaiki apa yang dianggap salah dan fokus menerima pengaruh yang benar-benar akan memgembangkan pribadi kita menjadi lebih baik.

Satu hal yang kami sadari adalah bahwa dengan menjadikan Yesus sebagai pondasi hidup kita, sekalipun tantangan dan pengaruh negatif membentuk kita tetapi Yesus akan tetap memberkati kita. Kita tidak akan goyah bahkan roboh, jika rumah kehidupan kita berdiri tegak di atas kerakal pondasi iman yang kuat pada-Nya.

Karena itulah, menutup atau membatasi diri dari dunia bukanlah pilihan yang tepat. Arus pengaruh lingkungan akan terus berdatangan, sejauh kita tinggal di dunia ini. Yang terpenting adalah mempersiapkan diri untuk tidak terbawa arus, yaitu dengan berakar di dalam Dia dan membangun kehidupan di atas Dia (Kol 2:7). Dan setelah kita bisa bertahan dalam arus tersebut, bangunlah akar-akar lain, bangunlah karya kasih dan pelayanan lain yang bisa menopang sesama yang tengah goncang. Pribadi, peristiwa, lingkungan dan teknologi yang membentuk kita, bisa menjadi sebuah bekal yang baik di dunia ini jika kita tahu betul mana yang baik untuk dibawa dan mana yang buruk untuk ditinggalkan.

Tuhan telah membentuk jiwa kita. Namun saat berada di dunia, ada keluarga yang membentuk asal kita, ada sahabat yang membentuk rasa kita, ada pengalaman yang membentuk sejarah kita, dan ada media yang membentuk pikiran kita. Jelas jika dunia membentuk siapa kita. Kadang dirinya membuat kita lebih keras dengan lembutnya kebaikan. Dan kadang, dunia membuat kita lebih bahagia dengan sedihnya keburukan. Semua tergantung dari pandangan dan pilihan kita, mau menjadi pribadi seperti apakah kita? Dan akankah kita tetap berdiri tegak di atas pondasi-Nya?

Hanya kita sendirilah yang mampu menjawabnya, dan mampu memilihnya….

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: