Dua Telinga Untuk Mendengar

Ayat bacaan: Matius 11:15
======================
“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Kemarin kita sudah melihat teguran Tuhan kepada umatNya yang bandel, yang tetap saja menyembah ilah-ilah lain meski penyertaan Tuhan sudah sangat terbukti sepanjang hidup mereka. Tuhan berkata “Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!” (Mazmur 81:9). Konsekuensi yang ditanggung Israel tidak main-main akibat kebandelan itu, padahal Tuhan sudah mengingatkan apa yang akan mereka dapat kalau taat dan apa resikonya kalau bandel. Walaupun peringatan Tuhan jelas dan tidak sulit dicerna, tetap saja pembangkangan mereka membuat Tuhan kecewa dan menyadari bahwa umatNya tidak mendengar suaraNya bahkan tidak suka kepadaNya. (ay 12).

Mendengar, itu mempergunakan satu dari panca indera yang namanya telinga. Tidaklah kebetulan kalau Tuhan membekali kita dengan dua telinga dan hanya satu mulut. Satu mulut saja sudah sering bikin masalah kalau tidak dijaga baik-baik. Mulut cuma satu saja sudah bisa membuat orang lebih mementingkan untuk didengar ketimbang mendengar. Orang lebih tertarik untuk berbicara tapi tidak begitu berminat untuk mendengarkan. Bayangkan jika ada dua mulut dan hanya satu telinga, apa jadinya dunia ini? Segala yang diciptakan Tuhan itu baik adanya, karena itu jika Tuhan memberi sepasang telinga maka itupun pasti punya tujuan, dan itu pasti demi tujuan yang baik. Telinga dipasang Tuhan di kiri dan kanan agar kita mau lebih banyak mendengar ketimbang terus menerus berbicara. Maka jika kita memiliki sepasang telinga, seharusnya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin agar tidak percuma saja berada di kepala kita.

Semakin lama semakin sulit bagi kita untuk menemukan kehadiran seorang pendengar yang baik. Sifat manusia yang semakin individualis dan egois alias mementingkan diri sendiri membuat semakin banyak orang menutup telinganya rapat-rapat dari orang lain. Ada banyak orang yang sebenarnya memiliki kebutuhan untuk didengar lebih dari kebutuhan lainnya. Mereka merasa sendirian menghadapi sesuatu dan tidak punya orang untuk berbagi. Mereka kesepian, kesunyian dan merasa terabaikan. Ada banyak ayah yang berpikir bahwa tugas mereka hanyalah sampai sebatas mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Mereka lupa bahwa  menjadi ayah yang baik bukan hanya berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dari anak-anaknya, tapi juga harus menyediakan cukup waktu untuk mendengarkan cerita atau keluhan anggota keluarganya. Ada banyak suami yang berpikir bahwa bekerja cari uang merupakan tugas satu-satunya, padahal istri mereka sangat ingin berbagi cerita seperti saat-saat pacaran dulu. Atau sebaliknya, istri yang tidak suka mendengar cerita suaminya tentang pekerjaan padahal sang suami sangat ingin bercerita mengenai pencapaian atau kesulitan yang tengah ia hadapi. Bagaimana dengan teman-teman, tetangga dan sebagainya? Pedulikah kita terhadap mereka? Tahukah kita saat mereka butuh sesuatu atau jangan-jangan kita bahkan tidak tahu siapa namanya?

Kita harus mau melatih diri untuk menjadi pendengar yang baik, baik mendengarkan apa yang Tuhan katakan maupun mendengarkan keluarga, teman-teman atau bahkan sesama kita yang tengah membutuhkan kehadiran seseorang yang peduli. Lihatlah bagaiman Tuhan selalu dengan penuh kasih meluangkan waktuNya untuk mendengarkan kita. Pemazmur menyadari dan menghargai hal itu dengan berkata: “Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.” (Mazmur 116:1-2).

Dimata Tuhan sangatlah penting bagi kita untuk menjadi pendengar yang baik. Beberapa kali Yesus menyebutkan “siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!” seperti dalam Matius 11:15, 13:9, 13:43 atau Markus 7:16. Tidak satupun bagian tubuh kita ini diciptakan Tuhan sia-sia atau tanpa tujuan,  termasuk di dalamnya telinga. Tapi seringkali kita mengabaikan banyak fungsi penting dari telinga. Kita sering membiarkan hal-hal penting seperti nasihat atau teguran berlalu begitu saja. Masuk kiri keluar kanan, atau bahkan pura-pura tidak mendengar.

Selain telinga, ketulusan hati pun diperlukan untuk bisa mendengar dengan baik. Seni mendengar yang baik bukanlah sekedar mendengar dengan telinga namun juga mendengar dengan hati. Kita mendengar dengan telinga, tapi tanpa hati yang baik, lembut dan tulus niscaya apa yang kita dengar hanyalah akan berlalu begitu saja. Dalam keluarga, hadiah yang terindah bisa jadi adalah kesediaan orang tua untuk mendengarkan anak-anaknya, begitu juga antara suami dan istri atau kakak-adik. Coba bayangkan berapa banyak keluarga yang disfungsional, retak atau terlanjur hancur hari-hari ini. Betapa banyaknya keputusan-keputusan keliru yang diambil oleh para anggota keluarga karena mereka bergerak sendiri-sendiri dalam memutuskan sesuatu. Seringkali letak permasalahannya adalah karena tidak berjalannya komunikasi antar anggota secara baik. Komunikasi itu harus berlangsung dua arah dan tidak hanya searah. Selain berbicara, kita pun harus mendengar, atau kalau tidak maka tidak akan pernah ada komunikasi yang baik.

Menjadi pendengar yang baik sesungguhnya menunjukkan seberapa besar kita peduli dengan keadaan orang lain. Sebaliknya, ketika kita malas mendengar, itu menunjukkan betapa kurangnya perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Allah sendiri begitu mengasihi kita, maka Dia selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan dan menjawab kita. Kalau Tuhan saja demikian, mengapa kita malah tidak peduli terhadap pentingnya membagi waktu dan telinga kita kepada orang lain?

Petrus mengatakan demikian: “Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati..” (1 Petrus 3:8). Kita tidak akan pernah bisa memberikan sikap seperasaan, sepenanggungan, menyayangi, mengasihi dan rendah hati jika kita tidak merasa penting untuk menjadi pendengar yang baik. Jika keluarga sendiri saja sudah tidak ingin didengar apalagi orang lain. Itu bukanlah sikap yang baik bagi umat Allah. Tidak saja baik bagi kita untuk mau mendengarkan orang lain, terlebih kita harus mau mendengarkan Tuhan pula. Kecenderungan manusia dalam berdoa adalah untuk membawa daftar permintaan atau permohonan. Doa diisi dengan percakapan yang dibangun searah, kita hanya ingin didengar Tuhan dan dikabulkan tapi mengabaikan pentingnya untuk mendengarkan Tuhan. Itupun bukan hal yang baik untuk dilakukan. Kita boleh meminta, tapi terlebih kita harus mau mendengarkan perkataan, nasihat atau bahkan teguran Tuhan. Tuhan sudah memberi dua telinga, hendaklah kita bersyukur dan mempergunakannya dengan baik. Tentu tidak perlu Tuhan harus membesarkan telinga kita terlebih dahulu agar kita mau patuh bukan? Hendaklah kita terus melatih diri sebagai orang yang mau memberikan sebagian dari waktunya untuk menjadi pendengar yang baik.

“When people talk, listen completely. Most people never listen.” – Ernest Hemingway

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Ayat bacaan: Matius 11:15
======================
“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Kemarin kita sudah melihat teguran Tuhan kepada umatNya yang bandel, yang tetap saja menyembah ilah-ilah lain meski penyertaan Tuhan sudah sangat terbukti sepanjang hidup mereka. Tuhan berkata “Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!” (Mazmur 81:9). Konsekuensi yang ditanggung Israel tidak main-main akibat kebandelan itu, padahal Tuhan sudah mengingatkan apa yang akan mereka dapat kalau taat dan apa resikonya kalau bandel. Walaupun peringatan Tuhan jelas dan tidak sulit dicerna, tetap saja pembangkangan mereka membuat Tuhan kecewa dan menyadari bahwa umatNya tidak mendengar suaraNya bahkan tidak suka kepadaNya. (ay 12).

Mendengar, itu mempergunakan satu dari panca indera yang namanya telinga. Tidaklah kebetulan kalau Tuhan membekali kita dengan dua telinga dan hanya satu mulut. Satu mulut saja sudah sering bikin masalah kalau tidak dijaga baik-baik. Mulut cuma satu saja sudah bisa membuat orang lebih mementingkan untuk didengar ketimbang mendengar. Orang lebih tertarik untuk berbicara tapi tidak begitu berminat untuk mendengarkan. Bayangkan jika ada dua mulut dan hanya satu telinga, apa jadinya dunia ini? Segala yang diciptakan Tuhan itu baik adanya, karena itu jika Tuhan memberi sepasang telinga maka itupun pasti punya tujuan, dan itu pasti demi tujuan yang baik. Telinga dipasang Tuhan di kiri dan kanan agar kita mau lebih banyak mendengar ketimbang terus menerus berbicara. Maka jika kita memiliki sepasang telinga, seharusnya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin agar tidak percuma saja berada di kepala kita.

Semakin lama semakin sulit bagi kita untuk menemukan kehadiran seorang pendengar yang baik. Sifat manusia yang semakin individualis dan egois alias mementingkan diri sendiri membuat semakin banyak orang menutup telinganya rapat-rapat dari orang lain. Ada banyak orang yang sebenarnya memiliki kebutuhan untuk didengar lebih dari kebutuhan lainnya. Mereka merasa sendirian menghadapi sesuatu dan tidak punya orang untuk berbagi. Mereka kesepian, kesunyian dan merasa terabaikan. Ada banyak ayah yang berpikir bahwa tugas mereka hanyalah sampai sebatas mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Mereka lupa bahwa  menjadi ayah yang baik bukan hanya berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dari anak-anaknya, tapi juga harus menyediakan cukup waktu untuk mendengarkan cerita atau keluhan anggota keluarganya. Ada banyak suami yang berpikir bahwa bekerja cari uang merupakan tugas satu-satunya, padahal istri mereka sangat ingin berbagi cerita seperti saat-saat pacaran dulu. Atau sebaliknya, istri yang tidak suka mendengar cerita suaminya tentang pekerjaan padahal sang suami sangat ingin bercerita mengenai pencapaian atau kesulitan yang tengah ia hadapi. Bagaimana dengan teman-teman, tetangga dan sebagainya? Pedulikah kita terhadap mereka? Tahukah kita saat mereka butuh sesuatu atau jangan-jangan kita bahkan tidak tahu siapa namanya?

Kita harus mau melatih diri untuk menjadi pendengar yang baik, baik mendengarkan apa yang Tuhan katakan maupun mendengarkan keluarga, teman-teman atau bahkan sesama kita yang tengah membutuhkan kehadiran seseorang yang peduli. Lihatlah bagaiman Tuhan selalu dengan penuh kasih meluangkan waktuNya untuk mendengarkan kita. Pemazmur menyadari dan menghargai hal itu dengan berkata: “Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.” (Mazmur 116:1-2).

Dimata Tuhan sangatlah penting bagi kita untuk menjadi pendengar yang baik. Beberapa kali Yesus menyebutkan “siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!” seperti dalam Matius 11:15, 13:9, 13:43 atau Markus 7:16. Tidak satupun bagian tubuh kita ini diciptakan Tuhan sia-sia atau tanpa tujuan,  termasuk di dalamnya telinga. Tapi seringkali kita mengabaikan banyak fungsi penting dari telinga. Kita sering membiarkan hal-hal penting seperti nasihat atau teguran berlalu begitu saja. Masuk kiri keluar kanan, atau bahkan pura-pura tidak mendengar.

Selain telinga, ketulusan hati pun diperlukan untuk bisa mendengar dengan baik. Seni mendengar yang baik bukanlah sekedar mendengar dengan telinga namun juga mendengar dengan hati. Kita mendengar dengan telinga, tapi tanpa hati yang baik, lembut dan tulus niscaya apa yang kita dengar hanyalah akan berlalu begitu saja. Dalam keluarga, hadiah yang terindah bisa jadi adalah kesediaan orang tua untuk mendengarkan anak-anaknya, begitu juga antara suami dan istri atau kakak-adik. Coba bayangkan berapa banyak keluarga yang disfungsional, retak atau terlanjur hancur hari-hari ini. Betapa banyaknya keputusan-keputusan keliru yang diambil oleh para anggota keluarga karena mereka bergerak sendiri-sendiri dalam memutuskan sesuatu. Seringkali letak permasalahannya adalah karena tidak berjalannya komunikasi antar anggota secara baik. Komunikasi itu harus berlangsung dua arah dan tidak hanya searah. Selain berbicara, kita pun harus mendengar, atau kalau tidak maka tidak akan pernah ada komunikasi yang baik.

Menjadi pendengar yang baik sesungguhnya menunjukkan seberapa besar kita peduli dengan keadaan orang lain. Sebaliknya, ketika kita malas mendengar, itu menunjukkan betapa kurangnya perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Allah sendiri begitu mengasihi kita, maka Dia selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan dan menjawab kita. Kalau Tuhan saja demikian, mengapa kita malah tidak peduli terhadap pentingnya membagi waktu dan telinga kita kepada orang lain?

Petrus mengatakan demikian: “Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati..” (1 Petrus 3:8). Kita tidak akan pernah bisa memberikan sikap seperasaan, sepenanggungan, menyayangi, mengasihi dan rendah hati jika kita tidak merasa penting untuk menjadi pendengar yang baik. Jika keluarga sendiri saja sudah tidak ingin didengar apalagi orang lain. Itu bukanlah sikap yang baik bagi umat Allah. Tidak saja baik bagi kita untuk mau mendengarkan orang lain, terlebih kita harus mau mendengarkan Tuhan pula. Kecenderungan manusia dalam berdoa adalah untuk membawa daftar permintaan atau permohonan. Doa diisi dengan percakapan yang dibangun searah, kita hanya ingin didengar Tuhan dan dikabulkan tapi mengabaikan pentingnya untuk mendengarkan Tuhan. Itupun bukan hal yang baik untuk dilakukan. Kita boleh meminta, tapi terlebih kita harus mau mendengarkan perkataan, nasihat atau bahkan teguran Tuhan. Tuhan sudah memberi dua telinga, hendaklah kita bersyukur dan mempergunakannya dengan baik. Tentu tidak perlu Tuhan harus membesarkan telinga kita terlebih dahulu agar kita mau patuh bukan? Hendaklah kita terus melatih diri sebagai orang yang mau memberikan sebagian dari waktunya untuk menjadi pendengar yang baik.

“When people talk, listen completely. Most people never listen.” – Ernest Hemingway

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply