UNTUK pertama kalinya di Indonesia diselenggarakan misa syukur atas kanonisasi orang kudus. Meski kadang Vatikan mengumumkan nama-nama baru untuk santo-santa, namun baru kali ini Gereja Katolik Indonesia –khususnya di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ)—merayakan syukur atas kanonisasi.

Demikian antara lain intisari homily Uskup Agung KAJ, Mgr. Ignatius Suharyo saat misa syukur kanonisasi Santo Paus Yohanes XXIII dan Santo Paus Yohanes Paulus II di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Senin tanggal 28 April 2014.

Di Unika Atma Jaya
Rangkaian acara perayaan syukur itu sebenarnya telah dimulai jauh hari sebelumnya. Ada kegiatan seminar, pameran, tayangan film dokumenter, sampai nobar dan misa syukur.

Pada Hari ‘H’ Senin tanggal 27 April, hanya selang tiga jam setelah ‘penobatan resmi’ Vatikan melalui keputusan Paus Fransiskus atas pengangkatan Paus Yohannes XXIII dan Paus Yohannes Paulus II sebagai orang kudus, di Universitas Katolik Atma Jaya dilangsungkan misa syukur konselebrasi bersama empat pastor.

Acara ini dihadiri tak kurang dari 250 umat, jauh melebihi perkiraan panitia yang hanya memperkirakan akan hadir 150 orang saja. Umat tidak hanya dari kalangan Atma Jaya, tetapi juga umum yang ingin ikut bersyukur atas kanonisasi tersebut, terlebih untuk Santo Yohanes Paulus II yang pernah mengunjungi Atma Jaya pada saat kunjungan ke Indonesia, Oktober 1989.

Sebagian karyawan Atma Jaya yang saat itu bertugas hari-hari ini sudah memasuki masa pensiun. Namun, mereka juga diundang untuk mengenang sang santo baru dan bersyukur atas rahmat yang tercurah atas Unika Atma Jaya.

Procession of all parishes flags

Prosesi vandel paroki: Utusan setiap paroki di KAJ berbaris membawa vandel lambang parokinya masing-masing dari Gereja St. Chatarina TMII menuju Sasono Langen Budoyo dimana berlangsugn acara misa mirunggan menyukuri kanonisasi Santo Paus Yohannes Paulus II dan Santo Paus Yohannes XXIII. (Dok. Royani Lim)

Santo Yohanes Paulus II malah sempat meresmikan satu gedung yang diberi nama Karol Wojtyla mengikuti nama kecil sang santo baru ini. Setelah misa syukur, dilanjutkan dengan pemberkatan ulang seluruh bangunan di Atma Jaya, kemudian ramah tamah bersama.

Misa meriah di TMII
Keuskupan Agung Jakarta sebagai tuan rumah utama saat kunjungan Santo Paus Yohanes Paulus II memusatkan misa syukur atas kanonisasi itu pada hari Senin, 28 April, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tempat dimana Paus juga pernah menginjakkan kaki di situ. Tentu tidak hanya Santo Yohanes Paulus II yang dielu-elukan sebagai orang kudus dan menjadi sebab perayaan di seluruh penjuru Gereja Nusantara, tetapi juga Santo Yohanes XXIII tak kalah berperan dalam pembaharuan Gereja.

Misa Syukur di TMII dimulai dengan upacara prosesi para imam yang didahului oleh marching band kemudian kedua patung santo baru yang masing-masing diusung empat orang awam, barisan pembawa vandel masing-masing paroki di KAJ, kemudian para pastor dan terakhir Uskup KAJ selaku konselebran utama dalam misa tersebut.

Tak kurang dari 1.300 umat beserta memadati aula Sasono Langen Budoyo TMII. Aula yang maksimal diisi 1.000 kursi malam itu telah sedemikian rupa diatur agar memuat 1.100 kursi di dalam, ditambah 100 kursi di luar. Banyak yang terpaksa berdiri atau duduk di luar aula karena tidak mendapat tempat duduk di dalam.

Mereka tetap bisa mengikuti misa dengan melihat layar-layar proyektor yang disediakan panitia. Umat yang hadir merupakan para undangan yang sebagian besar merupakan wakil dari paroki-paroki di KAJ. Selain itu para pimpinan dari lembaga-lembaga Katolik yang ada di Jakarta.

Catholic congregation in TMII mass of gratitude for the sainthood of the two popes

Membludak: Tak kurang 2.000-an umat paroki se-KAJ menyempatkan diri mengikuti misa syukur kanonisasi Paus di TMII bersama Bapak Uskup KAJ Mgr. Ignatius Suharyo dan 100-an pastor dari berbagai kongregasi dan ordo serta imam parokial. (Dok. Royani Lim)

Sigap melayani
Panitia acara akbar ini dikomandani oleh Romo Yustinus Ardianto Pr. Tentu banyak tangan dibutuhkan menangani acara yang berjalan mulus dan membawa suka cita ini. Muka-muka segar dan muda menghiasi dari awal gerbang masuk sampai pengaturan misa. Mereka mengenakan rompi biru cerah dengan tulisan “OMK Kalvari” tersulam di punggung.

Sungguh menggembirakan melihat anak-anak muda yang sigap dan ramah melayani ini. Selain itu Komunitas Thomas yang beranggota anak remaja sampai senior tak ketinggalan berkiprah. Seminari Tinggi Yohanes Paulus II juga menyingsingkan lengan baju membantu sebagai panitia pelaksana. Universitas Katolik Atma Jaya mengirimkan bala tenaga berupa paduan suara Gita Swara Jaya yang tersohor itu, juga penari tari saman yang dinamis itu, serta para mahasiswa yang aktif di Kapel Santo Albertus Magnus.

Selain OMK, Paroki Kalvari Lubang Buaya, Pondok Gede, Bekasi ini juga menerjunkan para ibu WKRI yang menjadi pagar betis prosesi, membagikan konsumsi, dan membantu dalam banyak hal. Kepedulian, kerjasama, dan semangat pelayanan semua pihak tercium wangi di udara yang awalnya pengap karena panas siang yang menyengat.

Procession of the pope statue

Replika Paus: Kreativitas terwujudkan dengan membuat patung berbentuk Paus dari bahan daur ulang. Patung ini ditandu dan dibawa serta dalam prosesi dari Gereja St Chatarina menuju lokasi misa syukur atas kanonisasi. (Dok. Royani Lim)

Hujan pun taat
Ketika waktu beranjak ke pukul 16.00, langit yang sudah kelabu akhirnya menumpahkan air membersihkan polusi Jakarta dan memberi kesejukkan pada warga yang berpeluh. Hujan yang menyejukkan tetapi juga membuat acara prosesi menjadi tidak jelas apa bisa dilaksanakan sesuai rencana.

Tetapi seakan menunjukkan bahwa kedua paus tersebut benar orang suci sejati, hujan berhenti tepat ketika prosesi akan dimulai. Maka tetap dilaksanakan, hanya tanpa melibatkan umat. Dimulaikan arak-arakan dengan titik awal di Gereja St. Catharina yang hanya berjarak sepelemparan batu dari aula.

‘Tak kelihatan’
Mgr. Ignatius Suharyo memulai homilinya dengan berterima kasih kepada panitia pelaksana yang telah bekerja keras untuk kesuksesan acara. Selain panitia pelaksana yang dipimpin oleh Romo Yus (Yustinus Ardianto Pr), ada juga panitia yang ‘tidak kelihatan’.

Panitia inilah yang menghentikan hujan tepat menjelang prosesi, demikian imbuh Mgr. Suharyo. Siapa panitia ‘hebat’ itu? Tak lain adalah kedua santo baru kita, Santo Paus Yohanes XXIII dan Santo Paus Yohanes Paulus II.

IMG_6425

Tekun dan khitmad: Ribuan umat katolik se-KAJ mengikuti prosesi misa syukur atas kanonisasi Paus bersama Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo Pr di TMII, Senin tanggal 28 April 2014. (Dok. Royani Lim)

“Tapi”, kelakar Bapak Uskup,” panitia itu sudah dibubarkan, maka siap-siap hujan sewaktu pulang.”

Mgr. Suharyo menyoroti bahwa kedua Paus yang diangkat menjadi santo pada tanggal 27 April 2014 ini memiliki cara kepemimpinan yang berbeda. Tetapi berbuah sama yaitu pembaharuan Gereja. “Maka kita diingatkan kembali bahwa semua dari kita dipanggil kepenuhan kristiani,” jelas beliau.

Photo credit: Suasana misa syukur atas kanonisasi Paus (Royani Lim)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.