“Dragon Blade”, Mimpi tentang Perdamaian

dragonFILM anyar Dragon Blade menampilkan Jackie Chan (Huo An), John Cusack (Lucius), dan Andrien Brody (Tyberius). Jackie Chan tidak terlalu banyak membanyol dalam film ini tetapi ia berperan lebih serius sebagai panutan sejati. Jack Cosack pun sangat elegan memerankan jenderal yang tenang dan cerdas. Sementara Andrien Brody sangat pas memerankan pemimpin yang berdarah dingin, keji dan jauh dari rasa kemanusiaan. Mereka tampil memukau untuk mengangkat kisah dua kekaisaran Romawi-China yang mulai merosot pamornya. Digembleng untuk perdamaian Huo An bersama pasukannya mendapat mandat untuk menjaga wilayah barat dari Kekaisaran Dinasti Han (206-220 AD). Pasukan yang dibawah pimpinan Huo An selain terlatih dalam memainkan pedang, mereka sangat bersahabat dengan warga. Pasukan ini menjunjung tinggi semangat perdamaian. “Kami digembleng bukan untuk membunuh tetapi untuk menjaga perdamaian,” demikian kata Huo An. Ia menegaskan keberadaan para prajurit di muka bumi itu bukan sebagai mesin pembunuh sebagaimana layaknya pemahaman kebanyakan penguasa. Para penguasa umumnya memakai prajurit untuk membunuh demi menjaga jabatan, memperbanyak kekayaan, dan memperluas wilayah. Ini dogma para penguasa yang oleh Huo An dikritik. Ketika sedang menjaga pembangunan sebuah kota, mereka kedatangan prajurit Romawi di bawah pimpinan Jenderal Lucius. Prajurit Romawi sudah terkenal dalam strategi perang dan keganasannya. Namun ketika pasukan Romawi ini menginjakkan kaki di daratan Tiongkok, mereka berubah. Gambaran prajurit yang ganas dan dikenal sebagai mesin pembunuh hilang berganti persahabatan. Pasalnya, Huo An berhasil melakukan negosiasi dengan Lucius agar jangan terjadi pertempuran. Bahkan mereka bisa bahu membahu untuk membangun kota. Dari situlah dua pasukan akhirnya saling membuka diri. Lucius dan Huo An semakin dekat dan menjadi sahabat. Pembicaraan dua sahabat ini menguak kisah-kisah kehidupan manusia. Lucius mengisahkan misinya untuk menyelamatkan pangeran Romawi dari Tiberius. Penguasa seperti Tiberius bisa dibutakan oleh ambisi berkuasa. Ambisi itu pula lah yang membuat Tiberius tega membunuh ayahnya dan membutakan adiknya. Sedang Huo An menoleh kembali ke masa kecilnya yang tanpa sengaja membunuh kakaknya karena hendak melindungi dari keganasan tentara Tiongkok. Mungkin kedua tokoh ini hendak berkata, “Banyak hal dalam hidup memang berada diluar hukum dan kemauan manusia. Bahkan kadang sepertinya jauh dari hukum kebaikan.” Sangat menarik Film ini juga menampilkan perang maha dahsyat antara Tentara Romawi di bawah pimpinan Tiberius melawan gabungan kerajaan-kerajaan di dataran Asia. Daniel Lee sang director film Dragon Blade  mampu menciptakan seni perang kolosal yang mencengangkan. Masing-masing kerajaan memiliki karakter yang hebat dan unik seperti ditampilkan dalam keragaman senjata lokal, pakaian prajurit, dan strategi perang yang unik. Film ini mengingatkan penulis akan soal hukuman mati bagi para gembong narkoba yang booming pekan-pekan ini. Indonesia berdiri di atas kakinya dan berkata, “Kami punya tatanan hukum yang mesti kami tegakkan.” Juga mengajak untuk merefleksi realita ISIS. Terlepas dari dehumanisasi dan kekejian tingkat tinggi yang dilakukan oleh ISIS, eksistensi ISIS merupakan refleksi atas penolakan kekuatan Barat (Amerika) yang kelewat batas. Dan terbukti, semakin Barat ingin mencengkeram negara-negara lain, semakin gerombolan ISIS ini kuat dan melawan. Namun, lagi-lagi, membangun kesadaran lokal dan menjaga perdamaian dunia nyatanya tidak semudah membalik telapak tangan. Selamat menikmati.

dragon

FILM anyar Dragon Blade menampilkan Jackie Chan (Huo An), John Cusack (Lucius), dan Andrien Brody (Tyberius). Jackie Chan tidak terlalu banyak membanyol dalam film ini tetapi ia berperan lebih serius sebagai panutan sejati. Jack Cosack pun sangat elegan memerankan jenderal yang tenang dan cerdas. Sementara Andrien Brody sangat pas memerankan pemimpin yang berdarah dingin, keji dan jauh dari rasa kemanusiaan. Mereka tampil memukau untuk mengangkat kisah dua kekaisaran Romawi-China yang mulai merosot pamornya.

Digembleng untuk perdamaian
Huo An bersama pasukannya mendapat mandat untuk menjaga wilayah barat dari Kekaisaran Dinasti Han (206-220 AD). Pasukan yang dibawah pimpinan Huo An selain terlatih dalam memainkan pedang, mereka sangat bersahabat dengan warga.

Pasukan ini menjunjung tinggi semangat perdamaian. “Kami digembleng bukan untuk membunuh tetapi untuk menjaga perdamaian,” demikian kata Huo An. Ia menegaskan keberadaan para prajurit di muka bumi itu bukan sebagai mesin pembunuh sebagaimana layaknya pemahaman kebanyakan penguasa. Para penguasa umumnya memakai prajurit untuk membunuh demi menjaga jabatan, memperbanyak kekayaan, dan memperluas wilayah. Ini dogma para penguasa yang oleh Huo An dikritik.

Ketika sedang menjaga pembangunan sebuah kota, mereka kedatangan prajurit Romawi di bawah pimpinan Jenderal Lucius. Prajurit Romawi sudah terkenal dalam strategi perang dan keganasannya. Namun ketika pasukan Romawi ini menginjakkan kaki di daratan Tiongkok, mereka berubah.

Gambaran prajurit yang ganas dan dikenal sebagai mesin pembunuh hilang berganti persahabatan. Pasalnya, Huo An berhasil melakukan negosiasi dengan Lucius agar jangan terjadi pertempuran. Bahkan mereka bisa bahu membahu untuk membangun kota.

Dari situlah dua pasukan akhirnya saling membuka diri. Lucius dan Huo An semakin dekat dan menjadi sahabat. Pembicaraan dua sahabat ini menguak kisah-kisah kehidupan manusia.

Lucius mengisahkan misinya untuk menyelamatkan pangeran Romawi dari Tiberius. Penguasa seperti Tiberius bisa dibutakan oleh ambisi berkuasa. Ambisi itu pula lah yang membuat Tiberius tega membunuh ayahnya dan membutakan adiknya. Sedang Huo An menoleh kembali ke masa kecilnya yang tanpa sengaja membunuh kakaknya karena hendak melindungi dari keganasan tentara Tiongkok.

Mungkin kedua tokoh ini hendak berkata, “Banyak hal dalam hidup memang berada diluar hukum dan kemauan manusia. Bahkan kadang sepertinya jauh dari hukum kebaikan.”

Sangat menarik
Film ini juga menampilkan perang maha dahsyat antara Tentara Romawi di bawah pimpinan Tiberius melawan gabungan kerajaan-kerajaan di dataran Asia. Daniel Lee sang director film Dragon Blade  mampu menciptakan seni perang kolosal yang mencengangkan. Masing-masing kerajaan memiliki karakter yang hebat dan unik seperti ditampilkan dalam keragaman senjata lokal, pakaian prajurit, dan strategi perang yang unik.

Film ini mengingatkan penulis akan soal hukuman mati bagi para gembong narkoba yang booming pekan-pekan ini. Indonesia berdiri di atas kakinya dan berkata, “Kami punya tatanan hukum yang mesti kami tegakkan.”

Juga mengajak untuk merefleksi realita ISIS. Terlepas dari dehumanisasi dan kekejian tingkat tinggi yang dilakukan oleh ISIS, eksistensi ISIS merupakan refleksi atas penolakan kekuatan Barat (Amerika) yang kelewat batas. Dan terbukti, semakin Barat ingin mencengkeram negara-negara lain, semakin gerombolan ISIS ini kuat dan melawan.

Namun, lagi-lagi, membangun kesadaran lokal dan menjaga perdamaian dunia nyatanya tidak semudah membalik telapak tangan. Selamat menikmati.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply