Dr. Cyrillus Harinowo: Kalau Mau Makmur, Tanamlah Singkong

harinowo 2KRISIS energi di tahun-tahun mendatang akan menjadi persoalan serius. Tidak hanya di negara-negara asing, melainkan justru di negara kita sendiri. Semakin hari jumlah produksi minyak malah makin berkurang, sementara jumlah kendaraan bermotor –baik mobil dan roda dua—semakin banyak. Nyaris tak terkendali, seiring dengan makin mudahnya orang bisa membeli mobil dan apalagi motor. Dulu, boleh dibilang […]

harinowo 2

KRISIS energi di tahun-tahun mendatang akan menjadi persoalan serius. Tidak hanya di negara-negara asing, melainkan justru di negara kita sendiri. Semakin hari jumlah produksi minyak malah makin berkurang, sementara jumlah kendaraan bermotor –baik mobil dan roda dua—semakin banyak.

Nyaris tak terkendali, seiring dengan makin mudahnya orang bisa membeli mobil dan apalagi motor.

Dulu, boleh dibilang baru orang kaya bisa setir (baca: punya mobil sendiri) mobil. Kini, karena makin dibuat mudah kredit kepemilikan mobil, maka dengan modal Rp 10 juta saja orang sudah bisa bawa mobil. Belum lagi, hanya dengan modal Rp 300 ribu saja, orang sudah bisa membawa pulang motor, sekalipun harus rela kehilangan banyak uang karena kredit bunga yang lumayan tinggi.

Tak pelak lagi, konsumsi BBM akan semakin meningkat. Padahal, problemnya adalah jumlah kuota subsidi BBM malah semakin dikurangi agar APBN tidak berjalan timpang karena digerus biaya ongkos subsidi BBM.

Pertanyaannya, lalu kemana orang harus melangkah untuk tetap bisa melaju kendaraannya meskipun jatah BBM bersubsidi makin dikurangi. Nah, mau tak mau orang sekarang sudah mulai mencoba mengaplikasikan bio-etanol sebagai pengganti BBM.

Menurut penuturan Dr. Cyrilus Harinowo –mantan Deputi Gubernur BI—dalam pertemuan informal dengan kelompok lingkaran sahabat Mgr. Ignatius Suharyo (PalingSah), sekarang ini para pencetak BBM alternative sudah mulai termotivasi untuk membuat bio-etanol sebagai BBM alternatif pengganti bensin. “Bahan bakunya adalah singkong,” tutur mantan seminaris yang hanya semalam tinggal di Seminari Mertoyudan karena masih mbok-mboken (cengeng) saat itu. Baca juga: Semangat ‘Martir’ Pastor John Prior SVD, Kisah Tahun 1970an

Tentu saja bukan sembarang singkong, kata Harinowo. Menurut dia, singkong yang diperlukan adalah jenis singkong tertentu yang punya daya panen menakjubkan.

Harinowo lalu mencontohkan jenis singkong gajah yang kini menjadi mascot bagi para petani untuk menyediakan bahan bakar bio-etanol demi keperluan mencari BBM altenatif, selain berbahan dasar minyak bumi.

Namanya Singkong Gajah. Kata Harinowo, seorang professor di Universitas Mulawarman di Kaltim sudah berhasil mengembangkbiakkan bibit unggul singkong ukuran super ini.

Krisis pangan global

Pada bagian lain, Harinowo juga mengutarakan tren masa depan dimana dunia akan ditengarai oleh krisis pangan global akibat berkurangnya sumber-sumber pangan. Kalau di Indonesia sampai kini masih banyak orang makan nasi, maka ada baiknya juga mengembangkan pola makan berbahan baku jagung.

Jagung bisa diolah sebagai bahan dasar makanan pengganti gandum yang masih kita impor. “Jumlahnya kurang lebih 3 juta ton jagung per tahun datang dari luar negeri,” terang Harinowo di forum PalingSah. Baca juga: Sungguh, Masihkah Tuhan Membutuhkan Gereja Katolik?

Jadi, selain bertanam jagung, para petani yang ingin makmur silakan juga bertanam singkong.

Kredit foto: Dr. Cyrilus Harinowo (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply