Dosa Mengintip di Depan Pintu

Ayat bacaan: Kejadian 4:7
====================
“Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”

dosa mengintip di balik pintu, amarah, emosi berlebihan, sulit mengendalikan diri

Hari ini ketika bertamu ke rumah seorang teman, ia bercerita mengenai seorang temannya yang memiliki masalah mengontrol emosinya. Temannya ini begitu gampang terpancing emosi bahkan atas masalah yang begitu sepele sekalipun. Ia tidak segan-segan mempermalukan kekasihnya di depan umum ketika sudah tersulut emosi, begitu pula dengan teman-temannya. Pencemburu dan sangat cepat merasa iri terhadap orang lain, bahkan temannya sekalipun. Kata-kata bernada ancaman seperti keinginan untuk memukul orang dan sebagainya ia utarakan di depan teman-temannya tanpa alasan yang jelas. Tersinggung sedikit saja, ia langsung meledak. Anger management, itu yang saya simpulkan, sangatlah dibutuhkan oleh orang ini. Tidak jarang kita bertemu dengan orang tempramental yang begitu lekas terbakar api amarah. Sikap seperti ini tidak saja bisa merusak hidupnya di dunia, namun di balik itu semua, ada dosa yang mengintip di depan pintu, dan siap memangsa setiap saat.

Mari kita kembali sejenak pada kitab Kejadian mengenai kisah Kain dan Habel. Ketika persembahannya ditolak, Kain mulai dibakar api amarah. Ia diliputi rasa iri hati. Hatinya dikatakan menjadi sangat panas dan air mukanya pun berubah muram. Tuhan pun berkata kepada Kain “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?” (Kejadian 4:6). Orang yang terbakar emosi akan terlihat jelas dari raut wajahnya. Itu ternyata sudah terjadi sejak awal sejarah manusia. Tuhan mengingatkan demikian: “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. (Kejadian 4:7). Apa yang diingatkan Tuhan sangat jelas. Ketika kita tidak berbuat baik, ada dosa yang mengintip di depan pintu bagaikan binatang buas yang siap menerkam mangsa. Kecemburuan dan emosi Kain yang meluap ini diingatkan Tuhan agar lekas ia kendalikan sebelum dosa menerkamnya. Artinya ada pilihan yang tersedia buat Kain. Yang terjadi sungguh tragis. Kain memilih untuk memuaskan nafsu amarahnya, membuka pintu bagi iblis untuk masuk. Dan kisah pembunuhan pertama pun terjadi. Akibatnya? Kain pun harus menerima konsekuensi akibat perbuatannya. “Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.” (ay 11-12). Kain dibuang dari hadapan Tuhan.

Sebagai manusia yang punya emosi, wajar jika kadang kita merasa kesal dan marah. Namun sejak kisah Kain dan Habel, Tuhan telah mengingatkan bahwa ada dosa yang mengintip di depan pintu, sangat menggoda, dan siap menerkam kita apabila kita tidak bisa menguasai emosi kita. Emosi yang tidak terkendali menjadi lahan subur bagi iblis untuk melakukan pengrusakan. Dalam kitab Efesus kita diingatkan “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Efesus 4:26). Jangan berlama-lama menuruti emosi, dan jagalah jangan sampai kemarahan itu menjadi celah bagi masuknya dosa. Singkatnya kita baca pada ayat selanjutnya: “dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (ay 27). Amarah yang tidak terkendali inilah salah satu yang ditunggu-tunggu iblis untuk menyerang kita, memperdaya kita untuk melakukan sesuatu yang jahat, yang nantinya akan kita sesali. Emosi, iri hati dan perselisihan ini termasuk perbuatan kedagingan yang pada akhirnya membuat pelakunya terbuang dari hadapan Tuhan, kehilangan kesempatan untuk menjadi ahli waris Kerajaan Allah. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Galatia 5:19-21).

Emosi yang tidak terkendali seringkali muncul dari rasa iri hati, cemburu atau ego yang berlebihan. Dan dari sinilah dosa-dosa itu mulai mengintip untuk masuk. “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16). Selalu menjaga diri kita untuk terus berbuat baik kepada siapapun atas dasar kasih, itu sudah menjadi kewajiban para anak Tuhan. Selain memang itu menjadi kewajiban dasar kita, dengan berbuat baik pun artinya kita tidak membuka sedikit celahpun bagi dosa untuk masuk. Dosa terus mengintip di depan pintu, dan akan terus demikian. Apakah dosa itu akan masuk atau tidak, semua tergantung pilihan kita. Apakah kita mampu mengendalikan emosi dan perasaan kita, atau sebaliknya tunduk dan menuruti api amarah, itu adalah pilihan. Jika kita memilih untuk tidak membuka peluang bagi iblis untuk masuk, inilah yang seharusnya kita lakukan “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5b). Segala pikiran dan perasaan kita hendaklah selalu ditaklukkan kepada Kristus. Di dalam Dia ada kasih yang akan selalu membuat kita mampu bersabar untuk tidak melakukan hal-hal bodoh yang akan kita sesali di kemudian hari.

Apakah hari ini anda memiliki rasa cemburu atau amarah terhadap seseorang? Jika ya, ingatlah bahwa anda punya pilihan. Jika anda memilih untuk terus memupuk amarah, segalanya hanya akan menjadi semakin buruk dan menelan diri anda. Tapi jika anda memilih untuk membawa segalanya untuk ditaklukkan kepada Kristus, kasihNya akan menenangkan anda dan menjauhkan diri anda dari masalah-masalah yang mungkin timbul kemudian. Memiliki sifat seperti temannya teman di atas tidak akan membawa manfaat positif apapun selain mengijinkan dosa untuk masuk menguasai diri kita. Bukan ketika kita menang dalam perkelahian dan merugikan banyak pihak, tapi kemenangan sejati hadir ketika kita mampu mengendalikan emosi.

Tidak ada tempat buat emosi berlebihan ketika kasih Allah melimpah dalam diri kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply