Don’t Miss Going to Church (1)

Ayat bacaan: Mazmur 122:1
=========================
“Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.”

Apakah anda termasuk orang yang teratur beribadah ke gereja di hari Minggu/akhir pekan atau bolong-bolong? Jujur saja, saya pun pernah bolong karena ada kalanya saya harus keluar kota untuk bekerja. Sibuk bekerja bisa jadi merupakan salah satu alasan untuk tidak ke gereja. Apakah karena lelah bekerja sehingga malas bangun pagi, atau masih harus bekerja di hari ibadah raya diadakan. Ada banyak lagi alasan lain seperti kurang enak badan, ada acara keluarga dan sebagainya.

Saya tidak ingin membicarakan soal teratur tidaknya kita ke gereja. Tetapi ada sebuah cerita tentang seorang ibu di Amerika yang masuk tajuk utama sebuah harian lokal di kotanya mengenai hal ini. Kisahnya sederhana tapi bagi saya sangat menarik dan terasa menegur saya yang masih ada absennya. Si ibu masuk koran hanya karena satu hal: ia tidak pernah absen ke Gereja selama 20 tahun. Bukan satu-dua tahun, tapi 20 tahun! Itu jelas rentang waktu yang sangat panjang. Bagaimana ia bisa melakukan itu? Beberapa pertanyaan pun bisa muncul mengenai ibu ini.
– Apakah si ibu tidak pernah sakit atau kurang enak badan pada hari beribadah?
– Apakah ia tidak pernah kecapaian dan terlalu lelah untuk keluar di hari Minggu?
– Apakah ia tidak pernah berhalangan akibat ada kegiatan yang kebetulan jatuh di hari itu?
– Tidakkah ia pernah berlibur akhir pekan ke tempat lain?
– Apakah tidak pernah ada kendala cuaca sama sekali pada hari Minggu selama 20 tahun?
– Apakah ia tidak pernah ketiduran sehingga terlambat untuk berangkat?
– Atau mungkin, dia tidak punya sanak saudara, keluarga, teman atau tamu yang kebetulan datang pada hari itu?
– Apakah jemaat di gerejanya semuanya baik sehingga ia tidak punya ganjalan apapun jika harus bertemu mereka saat beribadah?
– Tidakkah ia pernah merasa bosan mendengar kotbah yang itu-itu lagi?
– Bagaimana ia bisa tidak pernah malas terhadap pendeta tertentu dan selalu hadir siapapun pendeta yang berkotbah?
– Tidak adakah satupun alasan yang bisa ia pakai untuk menghindari ibadah di pagi hari saat kebanyakan orang beristirahat sepuasnya?

Semua hal di atas seringkali menjadi alasan untuk absen dari ibadah Gereja. Kita selalu punya seribu satu alasan untuk mengelak dari kewajiban kita untuk berkumpul bersama saudara-saudari seiman dan bersama-sama memuji Tuhan. Kita berkata, “Sekali-sekali kan tidak apa-apa..” “Wajar dong kalau sekali ini absen, soalnya saya sangat lelah.” “Kalau harus keluar lagi takut sakitnya tambah parah.” “Malas, yang kotbah si pendeta A, terlalu serius dan membosankan..” Dan banyak lagi alasan yang bisa kita kemukakan sebagai pembenaran untuk itu. Tapi ketahuilah bahwa iblis akan dengan senang hati memanfaatkan celah ini untuk membuat kita tidak beribadah raya, mencari dan bertemu Tuhan, memuliakan Tuhan, mendengar firman dan menerima berkat. Iblis akan selalu berusaha untuk mencegah anak-anak Tuhan bersekutu dalam nama Yesus dan saling mendoakan. Lama-lama, kemalasan bisa menebal seperti karat dan orang yang demikian akan kehilangan damai sejahtera dan sukacita karena terus semakin jauh dari Tuhan. Jiwa dan roh kita menjadi kering dan lemah, dan disanalah berbagai kecemaran mengintip untuk memangsa kita.

Benar sekali bahwa beribadah itu bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dan sudah seharusnya kita beribadah tanpa membatasi waktu. Benar bahwa ibadah yang sejati bukanlah seminggu sekali di gereja tetapi adalah seperti yang disebutkan dalam Roma 12:1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Tetapi itu bukan berarti bahwa kita boleh dengan mudah melewatkan saat-saat beribadah raya seminggu sekali. Mengapa? Alasannya jelas: karena seperti halnya tubuh kita yang butuh makanan, jiwa dan roh kita juga butuh asupan yang bisa memberi kita kekuatan dan daya tahan dalam menghadapi hari-hari kerja kita. Anda bisa bayangkan bagaimana jika anda tidak makan selama sekian hari, tubuh akan melemah dan pada akhirnya ajal akan menjemput. Jiwa dan roh kita pun sama, butuh makan agar bisa tetap kuat menghadapi segala problema kehidupan dan godaan yang setiap saat muncul di hadapan kita.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: