Domba Butuh Gembala

Ayat bacaan: Markus 6:34
====================
“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.”

Domba butuh Gembala

Sosok yang memiliki figur pemimpin sangatlah dibutuhkan di semua tempat kerja. Figur seperti inilah yang biasanya sanggup mengendalikan bawahan, mengatasi berbagai konflik, ketegangan, situasi yang panas dan sebagainya. Seringkali orang yang mampu melakukan ini bukan soal siapa yang menjadi atasan, bukan soal kepintaran atau kecerdasan, dan bukan pula berbicara mengenai sosok yang menakutkan karena bersifat emosional, suka membentak atau marah. Sosok pemimpin ini biasanya akan segera dipatuhi meski belum mengeluarkan banyak kata. Kehadirannya saja bisa langsung membawa suasana yang berbeda. Figur seperti ini dalam keluarga pun diperlukan. Lihat saja banyaknya ibu yang mengeluh sulit mengatur anak-anaknya jika sang ayah sedang pergi ke luar kota untuk sementara waktu. Atau jika kebetulan di keluarga sosok ibu yang lebih punya figur pemimpin, maka ayah akan kelimpungan ketika si ibu tidak di rumah untuk sementara waktu. Sadar atau tidak, demikianlah manusia yang cenderung untuk selalu membutuhkan figur pemimpin atau panutan di sekitarnya. Tanpa itu, keadaan bisa jadi tidak terkendali karena masing-masing orang akan bertindak seenaknya. Itu sudah menjadi kebiasaan manusia secara umum.

Kita seringkali digambarkan sebagai domba dalam alkitab. Mengapa domba, bukan kuda, ular dan sebagainya? Domba diambil sebagai kiasan karena sifat dan keadaan domba yang banyak kemiripan dengan manusia. Domba adalah sosok yang rentan, lemah dan selalu butuh gembala yang mampu melindungi mereka dari berbagai ancaman. Domba dipandang sebagai santapan lezat bagi para predator seperti singa, harimau, beruang dan sebagainya. Mereka empuk dan lemah sehingga gampang untuk disergap dan disantap. Seperti itu pula manusia di mata iblis. Iblis akan terus berkeliling mencari mangsa bagaikan singa yang tengah mengincar domba. Siapa yang bisa melindungi domba? Tentu gembalanya. Ini sama halnya dengan kita yang lemah. Begitu banyak celah yang bisa menjadi pintu masuk bagi iblis untuk menyesatkan kita. Apalagi di jaman sekarang dimana kita “diserang” dari berbagai sisi oleh penyesatan-penyesatan lewat berbagai media, yang tidak selalu kasat mata. Tanpa sosok Gembala, bisa dibayangkan betapa berbahayanya hidup kita.

Sebuah catatan menarik ditulis oleh Markus dalam salah satu perjalanan pelayanan Kristus di muka bumi ini. Pada suatu kali Yesus mendarat di sebuah tempat. Begitu ia menjejakkan kakiNya turun dari perahu, ia langsung disambut begitu banyak orang. “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” (Markus 6:34). Ayat ini berbicara bukan hanya mengenai jumlah, tapi sepertinya apa yang Yesus lihat adalah sekumpulan orang yang terlihat sedemikian rupa sehingga hatiNya langsung tergerak oleh belas kasihan. Markus mencatat hal ini terlihat seperti sekumpulan domba yang tidak mempunyai gembala. Tidak teratur, tidak terurus, tanpa arah yang pasti, berjalan dalam ketidakjelasan, itu mungkin yang mereka rasakan dari sekumpulan orang itu. Puji Tuhan, dalam keadaan seperti itu mereka bertemu dengan sosok Gembala yang baik! Yesus langsung menyambut mereka dan mulai mengajarkan banyak hal. Dan di tempat itulah kemudian kita melihat mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang (belum termasuk anak-anak dan wanita) hanya dengan lima roti dan dua ikan. Mukjizat luar biasa yang sudah sangat kita kenal ini bermula dari belas kasih Yesus melihat orang-orang yang bagaikan domba tanpa gembala. 

Tuhan Yesus adalah Gembala yang baik. Nubuatan Yesaya menyatakan hal itu seperti berikut: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.” (Yesaya 40:11). Dan di masa Yesus, kita mengetahui rangkaian firman yang menggenapi nubuatan ini dalam Matius 10:1-21. “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” (ay 14-15). Bukan cuma untuk domba-domba yang berada dalam penggembalaan-Nya saja yang Dia perhatikan, namun juga dari “kandang” lain. “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (ay 16). Hal ini berbicara mengenai orang-orang yang belum diselamatkan, yang juga memperoleh kesempatan yang sama untuk diselamatkan dan dituntun agar tidak binasa. Jika kita lihat dari perumpamaan tentang domba yang hilang, hal ini akan terlihat lebih jelas lagi. “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.” (Lukas 15:4-6). Dengan penuh kasih dan sukacita Sang Gembala akan menggendong domba itu di bahuNya. Seperti itulah sosok Gembala yang baik, yang sangat peduli kepada keselamatan domba-domba yang ada bersamaNya.

Adalah salah besar jika kita menganggap kita serba bisa dan tidak membutuhkan siapapun selain diri kita sendiri. Manusia sesungguhnya lemah dan tidak memiliki banyak kemampuan untuk mampu bertahan sendirian, seperti halnya domba. Setiap saat bahaya bisa mengancam, setiap saat kebinasaan bisa hadir di depan mata kita, setiap saat hidup kita bisa porak poranda dirusak oleh tipu muslihat iblis. Kita tidak akan kuat jika berjalan sendirian. Kita butuh figur yang mampu melindungi kita dari “cakar” iblis, dan Yesus sudah menyediakan diriNya sebagai Gembala kita yang baik. Kita butuh Kristus sebagai Gembala. Apakah hari ini anda merasa letih, berbeban berat atau menjalani hidup seolah tanpa orientasi yang jelas? Apakah anda merasa hidup anda bagaikan berada dalam kapal yang terombang-ambing tanpa arah yang pasti, atau bahkan mulai karam? Kemiskinan, kelemahan, sakit dan berbagai masalah lainnya yang seolah tanpa solusi? Datanglah pada Kristus, Sang Gembala yang baik, Gembala yang sejati. Dia peduli, Dia mengasihani kita dan selalu rindu untuk menyelamatkan kita dan menuntun kita dengan kasihNya bagaikan gembala yang menjaga kehidupan domba-dombanya. Dalam visi Daud kita bisa melihat bagaimana sosok Gembala ini menuangkan kasih dan penjagaannya. “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:1-3). Padang rumput hijau, air yang tenang dan menyegarkan, itu berbicara mengenai berkat berlimpah dan kesehatan/kesegaran. Tidak hanya sampai disitu, tapi ketika kita berada dalam mara bahaya pun Tuhan siap untuk melindungi kita. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (ay 4). Tuhan siap membela kita di hadapan lawan, melimpahkan kita dengan berkat-berkatNya (ay 5), hingga Daud bisa mengambil kesimpulan yang sangat manis seperti ini: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (ay 6). Itulah janji Gembala. Jika demikian, berjalanlah senantiasa bersamaNya, biarkan Tuhan membimbing kita melewati hari demi hari, dengan demikian tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Sadari bahwa kita bak domba yang lemah, yang setiap saat terancam bahaya serius, tapi puji Tuhan, karena Dia akan selalu ada bersama kita sebagai Gembala yang sanggup menuntun kita dengan selamat!

Domba itu lemah dan butuh perlindungan gembalanya agar bisa selamat

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: