Ditegur? Berbahagialah

Ayat bacaan: Ayub 5:17=====================”Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.”Mendapat teguran itu tidak pernah enak. Rasa malu, kecewa, sedih bahkan kesal atau marah bisa…

Ayat bacaan: Ayub 5:17
=====================
“Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.”

Mendapat teguran itu tidak pernah enak. Rasa malu, kecewa, sedih bahkan kesal atau marah bisa menjadi reaksi dari yang mengalami. Meski tidak enak, sebuah teguran biasanya merupakan akibat dari kesalahan yang kita buat sendiri dan bertujuan untuk mengingatkan kita agar tidak mengulangi lagi sehingga bisa lebih baik ke depannya. Saat sebagian orang terganggu dengan sebuah teguran, hari ini saya bertemu dengan seorang petugas di sebuah mal yang bercerita tentang surat SP1 (surat peringatan pertama) yang baru saja ia terima. Ia mengaku teledor dalam menjalankan tugasnya dan dengan lapang dada menerima surat tersebut. Hebatnya ia malah mengaku senang. Senang? Itu reaksi yang jarang ditunjukkan oleh orang yang baru saja ditegur. Ia senang karena itu artinya atasannya tahu ia bisa lebih baik lagi. “Kalau saya dianggap jelek kan tinggal pecat saja ya pak.. ini diberi surat peringatan, artinya saya masih diberi kesempatan untuk menunjukkan kerja terbaik saya.” katanya sambil senyum-senyum. Ini jelas reaksi langka menyikapi sebuah surat teguran.

Kalau ditegur orang saja tidak enak, bagaimana apabila kita ditegur Tuhan? Bentuk teguran bisa macam-macam bentuknya. Bisa datang lewat orang lain, lewat ketukan hati nurani  maupun lewat kejadian yang mugkin tidak enak, menimbulkan kerugian  dan terasa pahit bagi kita. Tapi apakah teguran Tuhan itu bertujuan untuk menghancurkan kita? Tentu tidak. Itu semua punya tujuan mendidik, mengingatkan kesalahan dan dengan segera membenahi kesalahan tersebut. Benar, ada kalanya teguran itu terasa keras dan tidak enak, tapi terkadang pil pahit memang harus ditelan supaya kita kembali ‘sehat’.

Oleh karenanya kita seharusnya berbahagia saat mendapat teguran dari Tuhan. Itu juga tertulis dalam kitab Ayub yang bunyinya sebagai berikut: “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.” (Ayub 5:17). Mengapa kita harus berbahagia dikala menerima teguran? Ayat-ayat berikutnya mulai dari ayat 18-26 menjelaskan alasannya. Menerima teguran ternyata bisa mendatangkan kebaikan-kebaikan seperti:
– Tuhan akan menyelamatkan kita dari bencana kelaparan,
– janji akan perlindungan,
– ada berkat atas pekerjaan,
– kemurahan hidup,
– keamanan,
– panjang umur
– diberkati dengan keturunan yang banyak
Semuanya menjadi janji yang ditetapkan Allah bagi orang yang Dia tegur. Dan lihatlah penutup dari perikop ini: “Sesungguhnya, semuanya itu telah kami selidiki, memang demikianlah adanya; dengarkanlah dan camkanlah itu!” (ay 27).

Semua berkat luar biasa diatas bisa tercurah kalau kita berlapang dada mendengar dan menerima teguran Allah, memutuskan untuk berbalik menuruti kehendakNya dengan sepenuh hati. Artinya, teguran Allah akan menempatkan kita pada posisi yang benar, sehingga dosa dan kesalahan-kesalahan kita tidak lagi merintangi datangnya berkat yang Dia curahkan pada kita. Itulah sebabnya mengapa kita seharusnya merasa berbahagia ketika mendapat teguran. Teguran itu adalah bentuk didikan atas kasih Allah yang sangat besar pada kita. Dia tidak ingin satupun dari kita tersesat dan akhirnya tidak mendapat bagian dari kerajaanNya kelak.

Pada kesempatan lain, Salomo juga melihat hal yang sama. “Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.” (Amsal 6:23). Lalu baca juga ayat ini: “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.” (12:1). “Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.”(15:32) lantas: “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi” (29:15).

Semua teguran Allah pada kita bukanlah bermaksud untuk menyiksa atau menyakiti kita, tetapi semuanya bertujuan untuk mendidik kita agar lebih baik dan selamat hingga akhir. Kalau diibaratkan dengan batu besar, maka etika Tuhan memberi teguran, itu bukanlah berarti Dia menjatuhkan batu besar di atas kepala kita agar binasa, tapi sebaliknya yang Dia lakukan adalah menyelamatkan anda agar jangan sampai tertimpa batu besar. Maka kalau mendapat teguran dari Allah, bersyukurlah. Itu tandanya Dia sayang pada kita, Dia memperhatikan kita dan sangat peduli, Dia begitu mengasihi kita.

Ada saat dimana Tuhan merasa perlu untuk memberi teguran untuk kebaikan kita sendiri. Yang penting adalah bagaimana sikap kita menyikapi datangnya teguran Tuhan tersebut. Janganlah kita mengeraskan hati, lalu bersungut-sungut dan malah menyalahkan Tuhan dalam menyikapi teguran, karena hal tersebut bisa membinasakan kita. “Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya,janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.” (Ibrani 3:7-11).Kalau kita mendengarkan tegurannya dan memperbaiki diri, Tuhan sendirilah yang akan menuntun kita menuju jalan yang benar sesuai dengan rencana dan kehendakNya dalam hidup kita. Terimalah teguran Tuhan dan jadikan itu sebagai peringatan atau didikan yang berasal dari kasih Tuhan yang begitu besar untuk kebaikan kita sendiri.

Teguran mendatangkan kebaikan pada kita, oleh karena itu berbahagialah mereka yang ditegur Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply